Selasa, 3 September 2019

Pencemaran Minyak di Karawang, Korban Menanti Penyelesaian

Pencemaran Minyak di Karawang, Korban Menanti Penyelesaian

Foto: istimewa


Jakarta, (TROBOSAQUA.COM). Masyarakat korban pencemaran minyak di perairan Karawang - Jawa Barat masih menunggu penyeleaian yang tak kunjung datang.

 

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Fakta-fakta di lapangan menunjukkan setidaknya masyarakat pesisir, khususnya nelayan, di tujuh kecamatan terus mengalami kualitas penurunan kehidupan. Tujuh kecamatan yang dimaksud adalah  Cibuaya, Tirtajaya, Pedes, Cilamaya Kulon, Batu Jaya, Pakis Jaya, dan Cilebar.

 

Kiara mencatat, lebih dari 1.200 keluarga nelayan terdampak pencemaran minyak ini (data terlampir). Sejumlah keluarga nelayan merasakan sesak nafas parah, infeksi kulit, kepala pusing-pusing, dan batuk-batuk. Hal ini mereka rasakan sejak terjadinya pencemaran minyak yang telah sampai ke wilayah perairan mereka.

 

Susan Herawati, Sekjen KIARA menuturkan pada 28 Agustus 2019, ketebalan limbah di pesisir desa Mekarjaya, kecamatan Cibuaya mencapai 50 cm, menyebabkan masyarakat mengalami sesak nafas. Pagi ini, terdapat salah satu korban yang mengalami sesak nafas dan nyaris saja kehilangan nyawa.

 

Artinya, kata Susan, limbah dari Pertamina ini sudah tidak lagi dianggap sebagai hal yang biasa, ini adalah kiamat industri bagi perairan Karawang. Salah satu korban yang terdampak adalah Ibu Taso, merupakan Perempuan Nelayan Desa Bangun Jaya. Ibu Taso mengalami gatal-gatal (foto dibawah) pasca desanya terdampak limbah Blow Up.

 

Selain dampak kesehatan, sektor ekonomi keluarga nelayan juga paling terpukul. Diperkirakan, 1.689 perahu terkena ceceran limbah. Tambak udang dan bandeng seluas 5000 ha yang dominan tersebar di 10 desa terpaksa dikeringkan untuk mencegah limbah masuk. Tambak garam seluas 108,2 ha juga gagal panen.

 

Sebelum ada pencemaran, nelayan tangkap bisa mendapat penghasilan rata-rata Rp 350.000/hari. Perempuan nelayan pengupas rajungan Rp 70.000/hari, sementara pemilik warung ikan bakar di kawasan wisata mencapai Rp 2.000.000 / hari, kemudian nelayan bagan tancap rajungan dan udang berpenghasilan Rp 1000.000 / hari. 

 

Susan menegaskan, Kiara mengutuk keras pernyataan dari Sekretaris Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Karawang, Abu Bukhori, yang menyatakan kejadian ini adalah berkah.

 

“Semburan minyak ini bukan berkah tapi bencana besar bagi nelayan, perempuan nelayan, pesisir, laut dan masa depan bangsa. Seharusnya perkataan seperti itu tidak disampaikan di tengah perjuangan warga yang sedang berjuang membersihkan limbah dari lautnya,” Ujar Susan.

 

Temuan di lapangan, tidak semua nelayan mampu dipekerjakan oleh Pertamina, terutama nelayan lanjut usia dan perempuan. Adapun yang telah di rekrut, proses pekerjaannya mesti menunggu giliran.

 

Akibat tidak ada aktivitas perikanan, sejumlah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sepi transaksi. TPI berubah menjadi tempat penampungan limbah. Seperti TPI Pasir Putih dan TPI Pantai Pelangi.  

  

Menanggapi hal ini, Sekretaris Jenderal Kiara, Susan Herawati, mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah yang semakin hari semakin parah. “Kami menuntut pemerintah pusat untuk turun dan membereskan persoalan ini. Masyarakat terdampak semakin menderita akibat kecerobohan Pertamina,” tegasnya.

 

Tak hanya itu, Susan meminta Pertamina untuk segera membuka informasi kepada publik mengenai penyebab terjadinya kebocoran minyak di perairan Karawang. Termasuk ketika pada tahun 2003 melakukan pengeboran sesmik di perairan Pasir Putih. Sebab, sejak aktivitas pengeboran tahun itu terjadi intrusi air laut. Hingga kini kondisi air berjarak sekitar 200 m dari bibir pantai menjadi asin, namun jarak ½ meter dari bibir pantai malah tawar.

 

“Lebih jauh, Pertamina harus segera melakukan pemulihan ekologis karena pencemaran telah menyebar sangat jauh ke Kepulauan Seribu. Di Karawang sendiri kawasan mangrove seluas 420 hektar telah  tercemar, ” pungkasnya. ist/meilaka

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain