Kamis, 15 Agustus 2019

Kerjasama Budidaya Nila Hulu-Hilir

Kerjasama Budidaya Nila Hulu-Hilir

Foto: 
Agasi Ala Anarki

Bersama pembudidaya, STP mengembangkan budidaya nila di Danau Ranau agar lebih memiliki nilai jual dengan melakukan pendampingan mulai dari hulu sampai hilir
 
 
Danau Ranau yang berlokasi di Lampung Barat merupakan salahsatu sentra budidaya ikan nila di wilayah tersebut. Danau vulkanik terbesar kedua setelah Danau Toba ini masih memiliki kualitas air yang baik dan daya dukung Keramba Jaring Apung (KJA) untuk budidaya yang masih sangat luas, sehingga potensi budidaya masih dapat dikembangkan. 
 
 
Hal inilah yang menarik minat Agasi Ala Anarki, pembudidaya ikan nila yang telah budidaya sejak 2007. Pria kelahiran Lampung Barat ini mengisahkan, selain meneruskan bisnis ayahnya, dirinya juga melihat potensi usaha budidaya dan juga pasar ikan nila terutama di wilayah Suma¬tera Bagian Selatan yang peluangnya masih sangat besar untuk dikembangkan. 
 
 
Agasi bercerita, di awal budidaya mulai dari 4 petak dengan tebar 100 ribu benih dan bisa menghasilkan 1 ton per petak dengan ukuran 2,5 - 3 ons serta ukuran KJA sekitar 5 x 12 m per petak. Kini dirinya telah memiliki sekitar 20 petak bahkan telah berhasil menjalin kemitraan bersama pembudidaya setempat yang mencapai 35 orang dengan total KJA yang dikelola sekitar 135 petak. 
 
 
Menurut Agasi, berkembangnya budidaya nila dan kemitraannya dikarenakan semua nila hasil budidayanya dapat diserap oleh pasar. “Punya saya tidak pernah macet, jika dipasar tradisional permintaan sedang turun, kami bisa supply untuk cold storage. Itu yang membuat pembudidaya nyaman bekerjasama,” terangnya. 
 
 
Manajemen Pembesaran Nila 
Sebagai anak muda yang juga merupakan generasi kedua penerus usaha budidaya, Agasi sangat perhatian terhadap manajemen pemeliharaan saat budidaya. Mulai dari pemilihan benih yang berkualitas, kesehatan ikan hingga kualitas pakan.
 
 
Dengan manajemen yang tepat, Agasi dan kemitraannya mampu menghasilkan 3,5 - 4 ton dari 150 kg benih nila gesit yang ditebar berukuran 7 - 9 cm di KJA berukuran 7 x 14 m. “Yang kami lakukan adalah panen bergilir, sehingga setiap hari selalu ada ikan yang dipasok di wilayah Sumatera Selatan hingga Baturaja dan Bandar Lampung,” urainya. 
 
 
Dari sisi kesehatan ikan, kata Agasi, dicek dengan tidak memberikan antibiotik dan obat-obatan tetapi ikan hanya dipuasakan. Dan yang juga tak kalah penting adalah kualitas dari pakan yang digunakan.
 
 
Sejak 2017, Agasi telah menjalin kerjasama dengan produsen pakan PT Suri Tani Pemuka (STP). Sempat menggunakan pakan lain, kini Agasi dan kemitraannya tidak hanya setia menggunakan pakan dari STP tapi juga mempercayakan pendampingan sistem budidaya dari STP. 
 
 
Tentunya, kata Agasi, hal ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, dirinya dan para pembudidaya ikan mitranya semakin berkembang sejak menjalin kerjasama dengan STP. “Kami diperhatikan betul mulai dari cara pembenihan, manajemen air kolam, yang efeknya memang tidak langsung saya rasakan tapi manfaatnya dirasakan oleh pembudidaya mitra saya. Bahkan secara ekonomi sudah lebih baik sampai mampu menyekolahkan anak-anaknya,” klaim Agasi. 
 
 
Sementara dari sisi kualitas pakan, Agasi sampaikan kualitas pakan STP cukup stabil dan secara formulasi mampu menyesuaikan dengan kebutuhan ikan nila. Selama 3 tahun ini yang kami rasakan formulasi dari pakan STP ini stabil dengan efisiensi di 65 – 70 %,” terang Agasi.
 
 
Turut menambahkan Supervisor Technical Services & Sales STP Wilayah Lampung dan Sumatera Selatan, Muhammad Bangkit Ikhwan Nurfadli, beberapa hal yang harus diperhatikan dalam budidaya nila diantaranya pemilihan benih yang ditebar harus unggul. Kemudian pakan diberikan dengan metode, jumlah, dan frekuensi yang tepat atau bisa disebut manajemen pemberian pakan “Tentunya menggunakan pakan STP, “ ucapnya sambil tersenyum.
 
 
Hulu sampai Hilir 
Tidak hanya sebatas penggunaan pakan, kini kerjasama antara Agasi dan kemitraannya dengan STP sudah semakin berkembang. Dalam waktu dekat Agasi akan berupaya memenuhi kebutuhan pasar STP melalui cold storage milik STP dengan kapasitas 150 ton per bulan. “Tentunya akan kami penuhi secara bertahap, dimulai dari 20 ton per bulan, lalu 50 ton per bulan dan seterusnya,” ucap Agasi optimis. 
 
 
Adanya kerjasama ini, dijelaskan Bangkit sesuai dengan misi STP untuk menjadi Total Solution Company 2020 baik bagi perusahaan maupun pembudidaya. Tidak hanya menjual pakan tapi juga kerjasama terintegrasi mulai dari hulu-hilir dimulai dari pembenihan, teknik budidaya, panen, sampai ke cold storage.
 
 
Sebagai langkah awal menggenjot produksi ikan nila sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan STP yaitu size minimal 1 kg dengan masa peme¬liharaan 6 bulan, STP memberikan bantuan calon induk nila Gesit sebanyak 100 ribu ekor secara cuma-cuma untuk Agasi dan mitranya. Agasi menyambut baik hal tersebut karena dari sisi strain, nila gesit bentuk badan lebih bagus sehingga bisa menggantikan benih yang saat ini sudah mulai bercampur aduk. “Di sini kami juga sudah ada pembudidaya yang khusus melakukan pembenihan yang nantinya akan dibeli oleh pembudidaya yang pembesaran melalui Usaha Keluarga Bersama, sehingga semua merasakan manfaatnya,” jelas Agasi. 
 
 
Selain itu, STP bersama pemerintah daerah kawasan Desa Keagungan kecamatan Lumbok juga berencana mengembangkan Kawasan Nila Ranau.Kawasan Nila Ranau ini, kata Bangkit, merupakan konsep terintegrasi budidaya nila dari hulu-hilir untuk menambah nilai jual ikan nila Ranau. TROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain