Kamis, 15 Agustus 2019

Perluasan Tambak yang Terarah

Perluasan Tambak yang Terarah

Foto: ramdan


Semangat Presiden Jokowi agar pemerintah mempermudah investasi khusunya untuk usaha tambak udang nyata tidak berjalan mulus di daerah 
 
 
Data menunjukkan produksi udang dari Indonesia tiap tahun meski perlahan namun terus meningkat. Sejumlah kalangan perudangan nasional menilai tren pertumbuhan usaha dan produksi udang ini merupakan indikasi bahwa produksi udang Indonesia belum pada puncaknya atau titik jenuh.
 
 
Meski belum menjadi produsen udang nomor wahid di dunia namun pertumbuhan produksi udang asal Indonesia bisa dibilang paling stabil dibandingkan negara produsen lainnya. Hal ini terlihat dari data ekspor sejumlah negara.
 
 
Pasar Udang Dunia
Dari data yang dihimpun dari berbagai sumber, diantara negara produsen ada yang ekspornya naik dan ada pula yang turun. Di antara negara produsen yang ekspornya naik pada tahun 2018 dibandingkan dengan tahun 2017 yakni India yang pada tahun 2018 mengekspor 617.400 ton atau naik 7,2 persen dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar 575.900 ton. 
 
 
Lalu, Equador yang pada tahun 2017 mengekspor 439.700 ton, naik menjadi 508.900 ton pada tahun 2018. Termasuk Indonesia yang pada tahun 2018 mengekspor 196.900 ton, atau naik 9,3 persen dibandingkan tahun 2017 sebesar 181 ribu ton.
 
 
Sementara Thailand dan Vietnam yang sebelumnya dilanda penyakit Early Mortality Syndrom (EMS), ekspornya udangnya turun. Tahun 2017 ekspor udang Thailand 207.800 ton dan turun menjadi 171.600 ton pada 2018. Lalu ekspor udang Vietnam tahun 2017 sebesar 617.400 ton turun menjadi 570 ribu ton pada tahun 2018. 
 
 
Praktisi Perudangan Internasional, Grin Swangdacharuk, MS, Aquaculture Technical Marketing Manager Lanxess Energizing Chemistry Regional Asia Pasifik memprediksi tren harga udang dunia yang dipengaruhi fluktuasi produksi udang global. Grin menilai, harga udang besar berpotensi naik menyusul Ekuador yang selama ini memproduksi udang ukuran besar bakal memasuki musim dingin sehingga tidak bisa melakukan penebaran benur. 
 
 
Sementara untuk udang ukuran kecil sudah dikuasai India sehingga jika Indonesia tetap memproduksi udang dengan ukuran kecil maka tren harganya terus turun. “Sekarang India mengekspor langsung udangnya ke China. Demikian juga Vietnam juga menjual udang ke China. Lalu China mengolah dan mengekspornya ke Amerika Serikat. Saat ini, China terus membangun cold storage raksasa guna menampung udang dari India,” ujarnya.
 
 
Pada tahun 2017, paparnya, China mengimpor udang 375.500 ton dan naik menjadi 458 ribu ton atau naik sebesar 22 persen. Kenaikan impor China lebih besar dari Amerika Serikat yang pada tahun 2017 mengimpor 664.700 ton dan naik menjadi 698.700 ribu ton atau naik 5 persen.    
 
 
Namun, lanjutnya, jika Avanti--sebuah perusahaan pakan raksasa India yang belakangan omzetnya stagnan—berhasil mengolah udang beku menjadi produk olahan untuk diekspor maka tidak tertutup kemungkinan ekspor udang beku ukuran kecil dari India berkurang sehingga harga bisa terangkat. 
 
 
Lagi pula, tambah Grin, sentra utama udang India yakni Andhra Pradesh hanya bisa tebar benur dua kali setahun, yakni akhir Januari hingga awal Februari dan akhir Juni hingga awal Juli karena pengaruh cuaca sehingga panennya hanya dua kali dan serentak. Sebanyak 60 persen produksi udang India dihasilkan dari kawasan ini.   
 
 
Peta pasar udang duni tersebut cukup menggambarkan bahwa posisi udang asal Indonesia dalam tren yang positif. Di saat negara-negara produsen udang lainnya sudah dan mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan produksi, udang Indonesia perlahan namun pasti terus tumbuh. 
 
 
Ini merupakan momentum positif bagi udang Indonesia untuk bisa menguasai pasar udang dunia. Pada waktu yang bersamaan, momentum ini bisa jadi bumerang jika ekspansi usaha tambak tidak memikirkan jangka panjang atau keberlanjutan. 
 
 
Ekspansi Terarah
Perlu diingat faktor daya dukung lingkungan, tata ruang, dan birokrasi perizinan bisa  menjadi tantangan dalam upaya ekspansi tambak udang. Menurut Ketua Harian Shrimp Club Indonesia (SCI), ekspansi tambak udang merupakan suatu keniscayaan. Permintaan pasar udang dunia yang terus meningkat, produksi udang global yang banyak kendala, digabung potensi sumber daya alam Indonesia yang luas menjadi faktor utama industri udang terus tumbuh di Indonesia.
 
 
Piyoto berpesan, yang utama sisi ekspansi harus diperhitungkan semua faktornya karena banyak pengusaha baru yang salah prediksi terhadap ekspansi itu pada akhirnya terjerembab. “Terutama soal kualitas air dan daya dukung kawasan tambak, harus diwaspadai wilayah sentra tambak yang menggunakan satu sumber air jangan sampai saling merugikan terkait pembuangan air pasca panen,” kata Pitoyo kepada TROBOS Aqua.
 
 
Ia juga mengingatkan terkait produksi dan kualitas benur yang dihasilkan. Dengan kian tumbuhnya usaha tambak udang otomatis permintaan benur terus meningkat. “Faktanya permintaan benur udang vannamei belum bisa terpenuhi bahkan sampai inden, jangan sampai produksi benur digenjot tapi kualitas menurun, hal ini bisa berdampak pada keberlanjutan budidaya,” ujar Pitoyo.
 
 
Tak kalah pentingnya, tambah Pitoyo, ekspansi tambak sekarang harus memperhatikan pengolahan limbah tambak jika ingin berkelanjutan. Petambak kini terus diingatkan untuk peduli pada lingkungan sekitar lokasi tambak. Hal ini terkait dengan kualitas air dan daya dukung lingkungan. “Fasilitas tandon untuk limbah buangan tambak seolah sudah menjadi kebutuhan bahkan kewajiban jika ingin usaha tambaknya langgeng,” tegas Pitoyo.
 
 
Masih terkait ekspansi tambak, ada satu kata kunci yang perlu diingat para petambak yaitu jangan serakah, setidaknya demikian pesan Petambak di Bali Steven Kurniadi. Menurut Steven, ekspansi tambak udang memungkinkan dilakukan para pengusaha yang punya cukup modal. Umumnya dicari daerah yang masih perawan dimana kualitas airnya masih bagus di wilayah timur Indonesia.
 
 
Namun, lanjut Steven, saat ini juga banyak tambak mangkrak yang dijual atau disewakan pemiliknya karena sudah bangkrut atau alasan lainnya. Tambak-tambak idle ini juga berpotensi untuk ekspansi, namun perlu diingat daya dukung lingkungannya tidak bisa disamakan dengan wilayah yang masih perawan.
 
 
Oleh karena itu, tambah Steven, pengusaha tambak dituntut untuk tidak serakah jika ingin usaha tambaknya berkelanjutan. “Yang dimaksud jangan serakah misalnya kepadatan tebar yang bisasanya di atas 100 ekor per meter persegi diturunkan cukup 75 ekor per meter persegi,” ungkap Steven.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-87/15 Agustus – 14 September 2019

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain