Selasa, 6 Agustus 2019

Asuransi Komersil untuk Usaha Budidaya Udang

Asuransi Komersil untuk Usaha Budidaya Udang

Foto: dok.DJPB-KKP


Jakarta (TROBOSAQUA.COM). Pemerintah dan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) meluncurkan asuransi bagi pembudidaya ikan dan udang pada Kamis (1/08).

 

Asuransi usaha budidaya perikanan itu terbagi menjadi 2 skema, yaitu asuransi untuk budidaya udang (AUBU) yang bersifat komersil dan Asuransi Perikanan untuk Pembudidaya Ikan Kecil (APPIK). Program APPIK memberikan fasilitas bantuan pembayaran premi oleh pemerintah untuk pembudidaya ikan skala kecil.

 

Atas saran dan permintaan dari pelaku industri budidaya udang yang membutuhkan perlindungan asuransi atas risiko kegagalan usahanya, saat ini telah diluncurkan produk Asuransi Usaha Budidaya Udang (AUBU) komersial. Izin AUBU komersial tersebut telah mendapatkan pengesahan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

 

Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebijakto menjelaskan AUBU komersial ditujukan bagi pelaku usaha budidaya udang windu/vaname baik dengan teknologi sederhana, semi intensif maupun intensif. Syaratnya, pembudidaya udang tersebut belum pernah menjadi penerima bantuan premi APPIK maupun pembudidaya yang sudah pernah menerima bantuan namun telah berakhir masa pertanggungannya.

 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto pada acara launching AUBU-APPIK 2019 di Jakarta pada Kamis (1/8) mengatakan, melalui AUBU diharapkan dapat lebih banyak mendorong peran swasta untuk bersinergi dengan pembudidaya melalui dukungan teknologi, termasuk mobile application menuju digital farming.

 

Slamet berharap, melalui skema komersil AUBU, pembudidaya tidak selalu bergantung kepada bantuan pemerintah. Sehingga memiliki kemandirian tinggi, mampu bangkit dengan cepat jika terjadi musibah pada usahanya.

 

“Kita harapkan akhir tahun 2019 dapat segera terealisasi untuk para pelaku usaha, dengan rencana pilot project di beberapa lokasi antara lain Pemalang, Purworejo, dan Lampung. Target 50-100 unit tambak udang per bulan dapat diasuransikan,” ungkap Slamet.

 

Pada kerjasama ini pembudidaya akan mengeluarkan modal kerja kurang lebih 20% - 30% termasuk membayar semua premi tanpa subsidi sama sekali. Pembudidaya termotivasi untuk menghindari gagal panen serta menciptakan rasa tanggung jawab yang tinggi. Sedangkan untuk akses pembiayaan usaha, akan dibuka peluang dari berbagai pihak baik perbankan maupun financial technology (Fintech).

 

Dalam acara launching AUBU-APPIK 2019 ini turut dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Konsorsium AUBU dengan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) terkait sinergi dalam membangun ekosistem pendukung asuransi.

 

Program AUBU menyusul APPIK yang hadir sebagai wujud komitmen KKP untuk melindungi pembudidaya ikan yang diatur UU No 7/2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam.

 

Sementara itu Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) II OJK Moch Ihsanuddin yang turut hadir dalam acara launching AUBU-APPIK menyatakan dengan bergulirnya program AUBU-APPIK ini, dua tujuan sudah tercapai yakni program inklusi dan literasi keuangan, serta turut membantu penetrasi bisnis asuransi di Indonesia yang baru mencapai 3%.

 

“Sinergi yang bersifat mutualistik juga terjadi antara pemerintah yang memiliki kewajiban untuk mensejahterakan rakyat dengan industri asuransi yang membutuhkan bisnis baru,”  kata Ihsanuddin.

 

Sunaryo, Ketua Pokdakan Karya Bahari, Desa Karangsong Indramayu, yang merupakan konsumen AUBU Komersial menyatakan tertarik mengasuransikan lahannya yang seluas 1,5 hektar setelah mendapatkan sosialisasi dari penyuluh KKP.

 

“Dengan mengikuti program asuransi ini, kelompok kami dapat lebih tenang dan fokus untuk berbudidaya dengan baik tanpa harus memikirkan kegagalan yang terjadi di luar kehendak seperti virus atau banjir,” kata Sunaryo. ist/meilaka, ntr

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain