Senin, 29 Juli 2019

Budidaya Ikan Hias Tetap Berorientasi Ekspor

Budidaya Ikan Hias Tetap Berorientasi Ekspor

Foto: ist/dok.DJPB-KKP


Jakarta (TROBOSAQUA.COM). Sebagai komoditas ekspor, pelaku usaha ikan hias masih terus dituntut meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi, melalui cara budidaya ikan yang baik (CBIB).

 

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, saat memberikan sambutan pada Focus Group Discussion (FGD) bertemakan Sinergi Stakeholder untuk Pengembangan Ikan Hias Nasional di Jakarta, Rabu (24/7).

 

Slamet menyatakan kekayaan sumberdaya ikan yang tercatat 4.720 jenis ikan air tawar maupun air laut, diketahui 650 jenis diantaranya adalah termasuk kategori ikan hias.

 

“Potensi besar sumberdaya ikan hias nasional, menjadi nilai strategis bagi Indonesia dalam menggenjot penerimaan negara dari sumber devisa atas ekspor ikan hias,” kata Slamet.

 

Dengan potensi sumberdaya ikan hias Indonesia, Slamet menganggap tidak berlebihan jika Indonesia bertekad untuk menjadi negara produsen dan eksportir ikan hias terbesar di dunia. “Namun dalam pengembangannya harus tetap melakukan perlindungan dan pelestarian,” jelas Slamet.

 

Dia melanjutkan, Selama ini sektor budidaya mampu berkontribusi terhadap peningkatan produksi ikan hias secara nasional, apalagi spesies ikan hias dibudidayakan secara massal dan dilakukan secara bertanggungjawab,” tutur dia.

 

“Selain itu, kami juga terus menggenjot Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen Perikanan Budidaya untuk terus meningkatkan inovasi perekayasaan teknologi ikan hias diantaranya penerapan teknik hormonal, rekayasa lingkungan, teknologi reproduksi dan nutrisi serta metode kultur jaringan,” ujar Slamet

 

Lebih lanjut Slamet mengatakan khusus untuk jenis spesies ikan hias yang belum mampu dibudidayakan dan/atau terancam kelestariannya telah ada mekanisme upaya perlindungan yang diatur melalui CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Perdagangan untuk ikan yang masuk dalam CITES sudah dilakukan pengawasan yang ketat oleh pemerintah.

 

Nilai Ekspor

Rina, Kepala Badan Karatina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM)  menjelaskan, volume ekspor ikan hias tahun 2015 hingga 2018 telah mencapai 257.862.207 ekor. Negara tujuan ekspor didominasi Jepang, Singapura, USA, China, Inggris, Korea, Malaysia, Jerman, Perancis dan Taiwan.

 

Kata Rina, jenis ikan air tawar yang paling banyak di ekspor yaitu botia, arwana, discus, cupang, tiger fish, guppy, udang hias. Sedangkan komoditas ikan hias laut diantaranya udang hias, angel fish, bintang laut dan jenis invertebrata.

 

Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, Tinggal Hermawan menyebutkan bahwa teknologi-teknologi budidaya ikan hias laut mulai dikuasai dengan baik sehingga produksi benih berkualitas maupun induk unggul dapat diproduksi secara massal dan siap dikembangkan di masyarakat.

 

“Untuk di BPBL Ambon sudah mampu memproduksi ikan hias Banggai Cardinal yang sebelumnya masuk daftar CITES karena merupakan ikan endemik. Namun kami telah mampu kembangkan dengan model budidaya keramba jaring apung (KJA. Kemudian untuk ikan nemo atau clowfish dibudidayakan dengan sistem resirkulasi,” urai Tinggal.

 

Pembiayaan

Selain itu, KKP juga mendorong akses permodalan bisnis budidaya ikan hias melalui pembiayaan oleh Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP).

 

Seperti yang disampaikan oleh Edison Tampubolon Direktur LPUMKP yang ikut hadir pada acara tersebut, untuk pengajuan kredit pembiayaan dari LPMUKP antaranya harus ada kelompok pembudidaya, sedangkan untuk perorangan mengacu pada persyaratan Kredit Usaha Rakyat (KUR) maksimum Rp 500 juta dengan tingkat bungan 7% per tahun.

 

Edison mengatakan LPUMKP siap mendukung program-program pengembangan budidaya ikan hias terkait dengan permodalan atau pembiayaan usaha yang didukung dengan tenaga pendamping di sekitar 250 kabupaten/kota di Indonesia.

 

Bersamaan dengan FGD tersebut, juga dikukuhkan Perkumpulan Aquascape Seluruh Indonesia (Perqusi), sehingga diharapkan menjadi wadah resmi nasional sebagai  sumber infomasi, pembinaan, memperdayakan dan mengembangkan aquascape untuk kelestarian lingkungan dan menciptakan lapangan kerja.

 

Pada kesempatan yang sama juga dilakukan penyaluran bantuan benih ikan hias kepada 2 (dua) kelompok pembudidaya ikan hias yaitu Kelompok Harapan Kabupaten Bogor dan Kelompok Mina Lestari Kedaung Kota Depok, masing-masing menerima bantuan 25.000 ekor ikan komet (Carrasius auratus) dan 25.000 ekor ikan koi (Cyprinus carpio). ist/meilaka

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain