Senin, 15 Juli 2019

KKP Launching Tambak Kakap Putih Pertama

KKP Launching Tambak Kakap Putih Pertama

Foto: 
Pemanfaatan tambak idle menjadi kembali produktif membuat kegiatan ekonomi masyarakat terus berlanjut

Berprinsip kawasan berkelanjutan, Kabupaten Pinrang dan Maros terpilih sebagai lokasi pertama program ini dengan target produksi per tahun mencapai 1.950 ton
 
 
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meluncurkan kawasan pengembangan tambak ikan kakap putih pertama di Indonesia, yaitu di Kabupaten Pinrang dan Maros-Sulawesi Selatan. Untuk mendukung program tersebut, sepanjang 2018-2019 sebanyak 1,08 juta ekor benih kakap putih telah disalurkan kepada kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) di Pinrang dengan luas kawasan 1.068 hektar (ha) dan 384 ribu ekor benih kakap putih di Maros di kawasan seluas 300 ha. Sebanyak 1.950 ton kakap putih diharapkan dapat diproduksi dari kawasan ini tiap tahunnya. 
 
 
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto (Rabu 10/07) mengatakan, budidaya kakap putih dikembangkan berbasis kawasan dengan komoditas andalan selain udang yang terus digalakkan KKP. Pengembangan perikanan budidaya berbasis kawasan lanjut Slamet, akan memberikan manfaat baik secara lingkungan, manajemen maupun pemasaran. Hal ini, terang Slamet, tidak terlepas dari komitmen KKP untuk terus menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam kegiatan budidaya sekaligus sebagai strategi peningkatan produksi ikan nasional. 
 
 
Dengan konsep kawasan, prinsip-prinsip budidaya berkelanjutan akan lebih mudah diterapkan. Kelompok dapat menjaga lingkungan budidayanya. “Tata letak tambak, inlet dan outlet, tandon, IPAL atau pengolahan air limbah, biosekuriti, pemeliharaan hutan mangrove untuk green belt termasuk manajemen pengelolaan secara berkelompok jauh lebih mudah dapat dilakukan secara kolektif. Dengan kerja kelompok berbasis kawasan, petambak tidak memikirkan diri sendiri tetapi lebih mengutamakan keberhasilan secara kawasan sehingga tambak yang satu harus memperhatikan juga milik tetangganya,” terang Slamet. 
 
 
Budidaya berbasis kawasan, lanjut Slamet, juga akan memudahkan dalam pemasaran produk melalui pengaturan waktu penebaran dan panen. Ada polanya kapan waktu tebar dan panen secara terus menerus, sehingga pasokan pasar dapat terpenuhi sesuai kuota dan kualitasnya ter-jamin, ini akan memudahkan pemasarannya. “Jika ini terjadi maka yakinlah pembeli yang akan datang ke sini,” lanjutnya. 
 
 
Tidak itu saja, pengembangan budidaya ini juga dimaksudkan untuk memutus mata rantai penyakit guna mengembalikan kualitas tanah dan lingkungan tambak. Terutama tambak-tambak idle eks budidaya udang yang kualitasnya sudah menurun akibat penyakit. 
 
 
Dan kakap putih, menjadi komoditas andalan untuk tujuan memutus rantai penyakit. “Kita sudah budidaya udang berpuluh-puluh tahun, sehingga kualitas tanah sudah sangat menurun dan terjangkit penyakit, dengan budidaya kakap putih ini maka diharapkan dapat memutus rantai penyakit. Keong, teritip, cacing, kepiting dan berbagai hewan renik lainnya yang sudah terkontaminasi penyakit dan menjadi carrier (pembawa) penyakit virus yang mematikan udang justru menjadi makanan alami bagi kakap putih. Dengan begitu tambak berangsur-angsur menjadi pulih dan bebas penyakit udang,” terang Slamet.
 
 
Keunggulan lain budidaya kakap putih di tambak yakni tidak membutuhkan pakan buatan. “Ini sesuai dengan pesan Bu Menteri, agar budidaya ikan dapat dilakukan tanpa pakan buatan. Oleh sebab itu kita memakai teknologi alami dengan memanfaatkan rantai makanan di alam dan kepadatan rendah. Makanan utama kakap putih di tambak anakan ikan nila, yang sudah disiapkan dan berkembang biak di tambak itu sebelum penebaran benih kakap putih,” rinci Slamet. Ikan kakap putih juga dikenal memiliki sifat eurohalin, mampu hidup pada rentang salinitas luas yakni 0-45 promil, sehingga sangat tepat dikembangkan di pertambakan.
 
 
Tingkatkan Pendapatan Pembudidaya 
Selain teknis, faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan budidaya kakap putih. Tambak idle jika kembali produktif, kegiatan ekonomi masyarakat bisa terus berlanjut. Untuk itu, jelas Slamet, pemerintah akan terus berupaya untuk melakukan diversifikasi dan memilih berbagai komoditas yang tepat dan potensial dikembangkan di tambak-tambak idle seperti kakap putih sehingga dapat mencegah pengangguran. 
 
 
Slamet menegaskan, potensi ekonomi budidaya tambak ini sangatlah besar yang dapat dijadikan salah satu solusi untuk menciptakan lapangan pekerjaan, mengatasi pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Ikan ini memiliki pangsa pasar yang cukup baik di Sulawesi Selatan maupun daerah lain di Indonesia. Dengan kualitas daging yang baik, pertumbuhan yang cepat dan relatif tahan penyakit menjadikan kakap putih sebagai komoditas andalan budidaya. Harganya pun cukup tinggi Rp 50 ribu per kilogram (kg) sehingga sangat menguntungkan,” terang Slamet. 
 
 
Slamet juga menjelaskan kakap putih termasuk jenis ikan daging putih sehingga sangat potensial untuk kebutuhan ekspor mengingat kecenderungan konsumsi daging putih masyarakat dunia terus meningkat. “Bayangkan, jika potensi budidaya tambak udang yang sekitar 3 juta ha itu, kita manfaatkan 500 ribu ha saja dengan produksi kakap putih rata-rata 1,5 ton per ha, maka akan ada tambahan produksi 750 ribu ton dari kakap putih. Jika harga per kg rata-rata Rp 50 ribu, maka nilai ekonominya Rp. 37,5 triliun atau USD 2,68 miliar (kurs USD 1 = Rp. 14.000), ini sangat luar biasa. Saya optimis terhadap program ini,” ujar Slamet. 
 
 
Abdul Warih, pembudidaya ikan kakap putih dan udang Windu di Pinrang pun menceritakan pengalamannya berbudidaya kakap putih. Ternyata menurutnya kakap putih bisa dibudidayakan di tambak, bersama komoditas bandeng dan udang atau polikultur. 
 
 
“Jika sebelum dari tambak kami hanya panen 300 kg udang windu dan bandeng 150 kg. Sekarang, tanpa sentuhan teknologi setidaknya kami mendapatkan tambahan minimal 300 kg kakap putih, disini kami jual dengan Rp 50 ribu per kilo, jadi ada tambahan pendapatan Rp 15 juta setiap panen,” ungkap Warih. Selain itu, udang windu juga semakin sehat, tumbuh lebih cepat dan ukuran panennya lebih besar. “Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, khususnya KKP yang terus berupaya mencarikan solusi bagi permasalahan tambak kami, sehingga tambak kami terus beroperasi, kami punya pekerjaan, tidak nganggur dan terus bisa punya penghasilan,” ucap Warih penuh syukur. 
 
 
Siapkan Balai di Daerah 
Terkait dipilihnya Kabupaten Pinrang dan Maros sebagai lokasi pengembangan kawasan kakap putih, Slamet menyebut karena kabupaten ini memiliki potensi lahan tambak yang luas. Jumlah pembudidaya yang banyak dan tambak idle yang kurang produktif cukup luas. Potensi budidaya payau di Kabupaten Pinrang kurang lebih 15.814 ha dan di Maros seluas 12.000 ha yang dimanfaatkan untuk budidaya udang, bandeng dan rumput laut. Namun dalam perkembangannya budidaya udang mengalami stagnasi dan cenderung mengalami penurunan produksi akibat menurunnya kualitas lahan tambak dan serangan penyakit. 
 
 
Untuk mendukung program ini, KKP memberikan dukungan benih, disertai pembinaan dan pendampingan kepada pokdakan untuk penguatan kelembagaan dan peningkatan kemampuan manajemen dan teknis pembudidaya. “Kita juga akan mendampingi kelompok dan anggotanya sampai memiliki kemampuan manajemen maupun teknis yang cukup dalam berbu¬didaya ikan kakap putih. Sehingga bantuan yang diberikan benar-benar bermanfaat. Kawasan budidaya kakap putih ini bisa terus berkembang dan kelak dapat menjadi andalan dan pusatnya produksi kakap putih,” jelas Slamet optimis. 
 
 
Untuk mendukung benih kakap putih, Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar dan Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon lanjut Slamet, ditunjuk sebagai penanggung jawab program ini. Seiring pula dengan bertambahnya fasilitas dan kemampuan produksi hatchery (pembenihan) yang dimiliki. “Tahun ini ada 5 unit hatchery tambahan dengan teknologi budidaya sistem resirkulasi (RAS). Yang ditujukan untuk kegiatan pendederan benih ikan konsumsi termasuk kakap putih dan mulai beroperasi di BPBL Ambon. Kapasitas produksi benih meningkat mencapai 3 Juta ekor per tahun. Fasilitas dan kemampuan ini siap untuk mendukung pengembangan kawasan budidaya di berbagai daerah,” tambah Slamet. TROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain