Senin, 15 Juli 2019

David Christian, Dari Perhotelan ke Perudangan

David Christian, Dari Perhotelan ke Perudangan

Foto: asep
David Christian

Generasi muda yang ingin totalitas dalam berusaha, harus siap keluar dari zona nyaman
 
 
Paradigma budidaya udang yang hanya dilakukan oleh para pengusaha senior dan berpengalaman kini alami pegeseran. Generasi kedua para petambak dan para millenials berjiwa entrepreneurship mulai banyak yang melirik budidaya udang sebagai potensi bisnis yang menggiurkan. Mereka tidak hanya berinvestasi dengan modal yang banyak lalu menunggu hasil, tetapi juga terjun langsung memotori sendiri jalannya usaha.
 
 
Salah satu petambak muda ini adalah David Christian. Pria yang belum genap berusia 30 tahun ini sudah memulai tambaknya kurang lebih 3 tahun yang lalu. Ia nyaris tidak ada pengalaman sedikit pun tentang usaha yang baru digelutinya ini. “Latar belakang pendidikan saya Manajemen Perhotelan,” ungkapnya sambil tertawa. Yang dia ingat soal udang hanya dulu orang tuanya pernah berbisnis udang windu, dari hatchery (pembenihan) hingga ke pembesaran. 
 
 
Mencari Usaha Baru
Perkenalan David dengan budidaya udang diawali saat ia sedang mencari usaha baru. Sebelumnya, David nimbrung di bisnis katering milik keluarganya. Ia bersama teman-temannya waktu itu sudah hendak memilih berbisnis ayam untuk bisnis selanjutnya. Hanya saja, David merasa kesusahan mencari lokasi yang tepat untuk calon bisnisnya ini. Akhirnya ia berpikir untuk mencari bisnis lain yang membutuhkan lokasi yang sudah ada saja.
 
 
Kebetulan, keluarga David memiliki sejumlah lahan di pesisir Pulau Bangka. Sehingga terpikir olehnya untuk mebuka usaha baru di bidang perikanan. Ia pun diperkenalkan kepada seseorang yang cukup banyak mengetahui perudangan. “Teman saya yang mengenalkan. Kami ketemuan terus jalan dikasih lihat usaha tambak itu seperti apa. Di Cirebon seperti apa, Tegal, hingga Pemalang,” ungkap David kepada TROBOS Aqua. 
 
 
Dari perjalanan itu dan dari pendapat sebagian orang tentang tambak udang, David cukup tergiur dengan keuntungan yang bisa didapat dari menambak. Seolah mendapat dukungan, pihak keluarga pun setuju jika pilihan bisnis baru itu adalah udang, terlebih keluarganya memiliki pengalaman usaha di sektor perudangan. “Langsung akhirnya mulai jalan dalam waktu kurang dari lima bulan,” imbuh David. 
 
 
Mulai dari Nol
Meski orang tuanya mempunyai pengalaman di udang windu, tetapi itu jelas berbeda dengan udang vannamei. Menurut David, dari teknologinya saja sudah sangat jauh berbeda. “Sekarang (tambak) sudah modern. Kita beradaptasi dengan teknologi yang sudah ada,” ujarnya. Sehingga bagi David usaha ini memang benar-benar dimulai dari nol.
 
 
David pun perlahan-lahan mulai mempelajari bisnis ini dari teknis budidayanya hingga bagaimana manajerialnya. Untuk memudahkan proses itu, ia bekerja sama melalui program pendampingan dengan salah satu perusahan pabrik pakan. Ia memanfaatkan kerja sama itu untuk menyerap banyak ilmu. “Kita mempunyai data dari teknisi, data ini saya perlihatkan dan tanyakan kepada pendamping itu. Dari situ kita dapat ilmu baru,” imbuhnya. 
 
 
Selain belajar dari pendampingan, David pun belajar sendiri mulai dari browsing di internet hingga mengamati percakapan dalam grup media sosial para petambak muda. “Saya walau gak aktif di grup (media sosial) PMI (Petambak Muda Indonesia), mereka sering ngirim artikel apa, acara apa, saya coba belajar dari sana,” terang David. Lama-lama ia mulai memahami gambaran usaha tersebut. 
 
 
 Ia memang mengaku belum memahami hingga detail teknis perudangan, tetapi secara umum David sudah paham bagaimana mengelola usaha tambak. Ia juga banyak mepercayakan hal-hal detailnya kepada teknisi selama itu untuk kebaikan tambak. “Owner pun walau gak begitu mengerti, kita kan punya pemikiran dalam hal mengatur kapan tebarnya, kapan panennya, kapan kontrak jualnya. Dari sisi manajemennya kita lebih berperan di sana,” jelas David.
 
 
Udang Menantang
Setelah berjalan selama lebih dari 4 siklus, David mengaku sudah mantap dan tidak salah pilih terjun di bisnis udang, meskipun memang ada saja suka dukanya. Menurutnya, duka menambak itu hanya jika harga turun saja karena ia tidak bisa mengontrolnya langsung. Sementara duka lainnya seperti kegagalan budidaya, justru ia maknai sebagai pelajaran. “Karena semua dilakukan dengan ikhlas dan senang hati, jadi gak masalah. Duka itu dijadikan pelajaran,” terangnya. 
 
 
David juga mengaku jika bisnis udang lebih menantang dibandingkan bisnis yang lainnya. Alasannya, ia tidak bisa mengetahui apa yang menjadi keinginan udang. Sehingga tantangannya ia harus berhasil membuat udang peliharaannya itu hidup nyaman.  “Itu butuh kerja sama anak kolam kita dan teknisi kita,” jelasnya. 
 
 
David lahir dan besar di Jakarta, tetapi hal itu tidak membuatnya kesusahan untuk beradaptasi dengan lingkungan tambak yang jauh dari keramaian. “Hampir setiap hari saya di tambak. Kebetulan saya suka alam, gak terlalu suka perkotaan, jadi saya enjoy. Malah cocok,” aku bungsu dari lima bersaudara ini. Namun demikian, ia terpaksa harus menunda sebentar hobi travelling-nya demi mengurusi tambak.
 
 
Menurutnya sebagai generasi muda yang ingin totalitas dalam berusaha, ia harus siap keluar dari zona nyaman seperti itu. Lambat laun akan ada waktunya untuk menikmati hasil perjuangan yang sudah dilakukan. Hal ini pun menjadi pesan yang ingin ia sampaikan kepada generasi muda lainnya yang ingin berinvestasi di usaha tambak. “Dari lapangan dulu, baru ke kantor. Panas-panasan dulu, baru ke ruangan AC,” ujarnya terkekeh. 
 
 
Main Aman
Sebagai pengusaha muda, perjalanan David di dunia perudangan masih sangat panjang. Sehingga ia merasa perlu berhati-hati dalam menjalankan bisnisnya. Ia menahan diri untuk tidak jor-joran saat memulai tambaknya. Padahal secara teknis, kualitas perairan di pulau Bangka lebih dari cukup jika ia ingin budidaya kepadatan tinggi. “Saya lihat di beberapa tambak pada tebarnya itu tinggi-tinggi sekali. Bisa sampai 300, 500, bahkan 800 (ekor) per meternya,” ujar David. 
 
 
Namun baginya, prinsip budidaya yang paling penting adalah sustainability-nya. Bermain dengan kepadatan tinggi seakan bertolak belakang dengan nurani David. Ia tidak ingin untung besar-besaran di awal, tetapi ke depannya justru malah kepayahan. “Saya lebih baik menjaga kualitas air saya, kualitas lingkungan darat maupun lautnya. Dari pada jor-joran, tiga siklus udah bermasalah. Saya lebih baik main aman di densitas 100 – 150 ekor permeter,” terangnya. 
 
 
Ada sekitar 50-an petak tambak milik David yang saat ini sudah beroperasi. Luasanya bervariasi dari 700-an meter persegi sampai 2 ribuan. Melihat prospek tambak yang masih sangat menjanjikan, ia pun kini tengah mepersiapkan ekspansi tambak baru. Perluasan usaha ini rencananya masih dilakukan di Pulau Bangka. “Tanahnya banyak di Bangka, jadi buka di Bangka,” ungkapnya menutup pembicaraan.trobos/asep
 
 
 

 
Aqua Update + Siapa Dia + Cetak Update +

Artikel Lain