Senin, 15 Juli 2019

Kemilau Mutiara Laut Selatan

Kemilau Mutiara Laut Selatan

Foto: dok. m khalil gibran
Budidaya mutiara di perairan Teluk Nara - Lombok

Hasilkan mutiara kelas papan atas dengan teknik budidaya dan pemasaran mumpuni
 
 
Lombok – Nusa Tenggara Barat (NTB), tak hanya dikenal karena Senggigi, Rinjani, Putri Mandalika atau sebagai Pulau Seribu Masjid. Tetapi, daerah yang  dikaruniai bentang pantai nan eksotik ini, dikenal dunia internasional sebagai penghasil mutiara terbaik dari laut selatan (South Sea Pearl). 
 
 
Di Kabupaten Lombok Utara tepatnya di Teluk Nara, jenis tiram Pinctada maxima dibudidayakan sudah bertahun-tahun lamanya. Kerang jenis ini diakui mampu menghasilkan mutiara dengan kualitas terbaik. 
 
 
Cirinya ialah hanya mampu memproduksi sebutir mutiara dengan varian warna putih susu, keemasan, kekuningan, abu-abu, dan sampanye. Mutiara yang dihasilkan memiliki kemilau permukaan yang sangat mengkilap dengan diameter rata-rata antara 8-19 mm, dan dibutuhkan waktu pemeliharaan sekitar 4 tahun. Harganya pun mencapai puluhan juta rupiah.
 
 
Kali ini, TROBOS Aqua berkesempatan berkunjung ke salah satu perusahaan pembudidaya kerang dan pengekspor mutiara terbesar di provinsi NTB itu, yaitu Autore. Perusahaan yang karyawannya adalah sebagian besar waga lokal tersebut berlokasi di Teluk Nara, tidak terlalu jauh dari sentra kawasan wisata Senggigi. Sekitar 30  menit mengendarai sepeda motor  dengan kecepatan standar. 
 
 
Di area budidaya tersebut, terdapat hatchery (pembenihan), laboratrium, showroom (ruang pameran), farm budidaya, juga paket tur (tour). Perusahaan yang berpusat di Australia itu memulai budidaya mutiara di Indonesia sejak 1996 dengan nama Kosuma Mutiara, dan pada 2005 berubah nama menjadi Autore. 
Produk-produk perusahaan ini pun mendunia. Sebut saja kalung, liontin, giwang, cincin, gelang, dan pernak-pernik lainnya. Kesemuanya menjadi langganan deretan artis-artis papan atas saat berada di red carpet (gelaran karpet merah). 
 
 
Teknik Budidaya
Secara umum, budidaya kerang mutiara bisa dibagi menjadi empat segmen. Segmen pertama adalah pembibitan yang menghasilkan benih kerang berukuran 1 milimeter (mm). Segmen kedua adalah pendederan ke-1 untuk berukuran 1 mm hingga 3 cm. Berikutnya adalah segmen pendederan ke-2 untuk menghasilkan benih kerang berukuran 5-10 cm. Ketiga segmen ini dilakukan di laboratorium.  Selanjutnya, segmen perbesaran untuk menghasilkan mutiara. 
 
 
“Untuk sistem budidaya, kami mulai dari perkawinan indukan sehingga diperoleh bayi kerang (larva). Larva tersebut dipelihara di dalam laboratorium selama kurang lebih dua bulan kemudian setelah itu dipelihara di laut hingga usia 2 tahun,” terang M Khalil Gibran, Asisten Manajer Showroom Autore. Indukan ini didatangkan dari Dobo-Papua dan ada juga dari peranakan. 
 
 
Selanjutnya, kerang yang sudah berusia dua tahun akan dioperasi penanaman nukleus sebagai inti mutiara bersama dengan potongan jaringan yang diambil dari kerang lain. “Kerang ini kemudian dipelihara lagi selama dua tahun untuk proses nacre-ing atau pembentukan mutiaranya. Setelah kerang berusia empat tahun, mutiara sudah bisa dipanen,” imbuh lelaki yang akrab dipanggil Gibo ini. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-86/15 Juli – 14 Agustus 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain