Senin, 15 Juli 2019

Tambak Bersih Kurangi Berak Putih

Tambak Bersih Kurangi Berak Putih

Foto: asep
Simposium udang 2013 yang diadakan Central Proteinaprima beberapa waktu lalu

Penyebaran berak putih yang cepat di dalam lingkungan tambak didorong penumpukan limbah organik di dasar tambak
 
 
Wabah penyakit yang menyerang udang seolah belum ada habisnya. Masalah utama para petambak ini menghampiri berbagai negara produsen udang. Sebagian penyakit hanya terjadi di satu dan beberapa negara saja, sebagian yang lain terjadi secara merata. Di Tiongkok misalnya, baru-baru ini telah mewabah penyakit shrimp hemocyte iridescent virus (SHIV) yang sangat mengganggu produktivitas udang mereka. Bahkan Tiongkok harus mengimpor udang untuk memenuhi kebutuhan di dalam negerinya.
 
 
Beragam upaya modifikasi budidaya sudah dilakukan oleh negara-negara produsen udang untuk mengamankan produksinya. Sebagiannya berhasil, tetapi ada juga yang perlu terus perbaikan.
 
 
WFD (White Fecess Desease) menjadi fokus utama yang diutarakan Aquatics Animal Helath Care Products Specialist and Solutions Provider Charoen Pokphand Group, Prakan Chiarahkhongman dalam acara Simposium Udang 2019 yang diadakan Central Proteinaprima beberapa waktu lalu di Jakarta. WFD ini, terangnya, telah menjadi penyakit yang beberapa tahun ini cukup mengganggu para petambak di berbagai negara, apalagi di Indonesia. Selain penyakit yang telah lebih dulu ada seperti white spot dan myo. Kepada para petambak di Indonesia, Prakan pun menyampaikan bagaimana fenomena WFD terjadi dan penanganannya di negara produsen udang yang lain. 
 
 
Penyebab Berak Putih
Meskipun Prakan lebih banyak menyampaikan kondisi perudangan di luar Indonesia, tetapi ia berharap para petambak Indonesia bisa menyerap banyak pelajaran. Ia banyak menjelaskan mengenai WFD yang terjadi di negara lain. Menurut Prakan, WFD sebetulnya tidak cocok dikatakan sebagai penyakit. Melainkan gejala klinis suatu penyakit yang penyebabnya bisa beragam. “Istilah WFD (white fecess deseas) itu salah. Yang benar itu white feces syndrome,” jelasnya.
 
 
Oleh karena berak putih hanya gejala klinis, maka yang perlu diketahui adalah penyebabnya. Menurut pemaparan Prakan yang mengutip hasil riset Global Aquaculture Alliance, penyebab utama fenomena berak putih adalah EHP (Enterocytozoon Hepatopenaei). “Kasus-kasus berak putih itu 90 %-nya terkait EHP ini,” katanya. Sementara penyebab lainnya bisa karena infeksi bakteri dan kualitas air yang buruk. 
 
 
Prakan melanjutkan, EHP ini tidak terlihat kasat mata pada udang yang terkena berak putih. Sehingga ia pun melakukan pengamatan terhadap EHP menggunakan mikroskop elektron. Ia menemukan, EHP ini merupakan spora yang berdinding tebal. Oleh karenanya, EHP cukup kuat dan tahan terhadap perubahan lingkungan. “Spora ini bisa bertahan dan aktif di lingkungan selama tiga bulan hingga satu tahun,” sambungnya.
 
 
Spora ini akan banyak terlihat pada hepatopankreas udang yang terserang. Setelah spora ini ada pada udang, ia bisa merusak hepato dalam waktu 3 – 4 minggu. Gejala klinis dari EHP sendiri antara lain pertumbuhan yang lambat dan keropos. “Jika kita lihat, performa FCR-nya (rasio konversi pakan) tinggi, tetapi ADG-nya (average daily gain) rendah,” ujar Prakan. Sementara berak putih merupakan gejala klinis EHP yang sudah parah.
 
 
Spora yang sudah masuk ke hepatopankreas bisa terbuang ke lingkungan tambak bersama feses udang. Feses ini lah yang bisa menjadi perantara penyebaran spora pada udang lainnya di dalam suatu tambak. Karena akumulasi feses di tambak yang jarang dibersihkan bisa termakan oleh udang lain. Atau penyebarannya bisa juga melalui udang mati yang dimakan udang lainnya (kanibalisme). 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-86/15 Juli – 14 Agustus 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain