Senin, 15 Juli 2019

Perlu Perluasan Pasar Lele

Perlu Perluasan Pasar Lele

Foto: ramdan


Perlu adanya campur tangan pemerintah untuk menstimulasi pangsa pasar lele baru 
 
 
Sajian ikan lele goreng ditemani lalapan beserta cabai yang diulek  sudah menjadi panganan favorit hampir semua kalangan di dalam negeri. Warung tenda kaki lima dengan menu pecel lele berjejer di sepanjang jalan di berbagai daerah dengan menyajikan ikan berkumis satu ini. Biasanya tak kurang dari 10 - 20 kg lele habis dijajakan di warung tersebut setiap harinya. Ini  menggambarkan, tingkat kebutuhan akan lele yang cukup tinggi setiap harinya.
 
 
Pangsa Pasar
Merambah ke sisi hulu, Haji Usman selaku pembudidaya lele di daerah Sawangan, Depok,  memaparkan kondisi usahanya terkini, bahwa saat ini kondisi pangsa pasar lele cenderung stagnan dimana hanya berputar di sana-sana saja jika kita tidak ada terobosann baru. “Saya memperhatikan, jika kondisi ayam yang murah saat ini mungkin pembelinya beralih ke sana, namun jika tinggi akan beralih ke lele, jadi di seputar itu itu saja pembelinya,” bebernya kepada TROBOS Aqua. 
 
 
Lanjutnya, karena salah satu langganan saya berasal dari swalayan retail yang cukup besar di Jabodetabek, jadi kondisinya persaingan dengan harga ayam saja. Hal ini karena komoditras lele bersama ayam masih menjadi primadona protein dalam negeri sebeb murah dan mudah didapatkan. 
 
 
H Usman menjelaskan, untuk pasar retail dalam satu kali pengiriman, bisa sekitar 3 - 4 kuintal dan dalam satu minggu pengiriman bisa sampai 3 - 4 kali pengiriman. Selain pasar modern output 4 - 5 ton lele per hari di tempatnya juga didambil oleh bandar atau pedagang untuk didistribusikan ke pasar–pasar tradisional. 
 
 
Namun, ungkap H Usman, jika kondisinya hanya terus menerus seperti itu saja, bagaimana caranya agar meningkatkan produksi dan menaikan angka serapan pasar lele? Perlunya ekspansi dalam hal ini agar menjadi alternatif pasar apalagi ketika beberapa pasar sedang lesu. “Perlu adanya campur tangan pemerintah dalam hal ini, agar menstimulasi pangsa pasar baru dibanding stagnannya kondisi ini. Serta, adanya regulasi yang mengatur rantai perdagangan guna kestabilan harga,” kata Usman.
 
 
Yang dimaksud di sini, lanjut Usman, adalah peran pemerintah dalam menjalankan sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) harusnya terealisasi. Dimana pembudidaya-pembudidaya yang telah tersertifikasi sajalah yang bisa mengelurkan produk lele ukuran konsumsi. 
 
 
Hal ini karena sudah jelas jika pembudidaya lele yang telah disertifikasi menggunakan pakan full pelet, sedangkan di luaran sana masi ada pembudidaya yang menggunakan ayam tiren atau usus. Namun memiliki harga jual sama dengan yang full pelet, jika dilihat dari kualitas dan kandungan daging tentu akan berbeda hasilnya.
 
 
Kemudian, kata H Usman,  perlunya edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat baik konsumen akhir, rumah-rumah makan, swalayan yang menyajikan lele, bahwa lele yang dibudidayakan dengan menggunakan pelet jauh lebih higienis. Misalnya dengan melakukan survei dan penindakan jika terdapat pembudidaya yang tidak sesuai CBIB, memeberikan arahan kepada rumah makan, swalayan agar membeli lele dari pembudidaya yang tersertifikasi. “Terlebih daripada itu semua, sosialisasi pemerintah kepada masyarakat luas bahwa konsumsi lele itu sehat, perlu gencar dilakukan agar menstimulasi pangsa pasar lokal naik,” saran H Usman.
 
 
Sebenarnya ada lagi pangsa pasar lokal baru, dimana proyek-proyek pemerintah dalam membangun jalan atau sarana transportasi membutuhkan pekerja yang cukup banyak. Beberapa waktu lalu saya ditawarkan untuk mensuplai kebutuhan katering atau makan para pekerja proyek. Dimana dalam satu hari membutuhkan 1.000 ekor lele berukuran 1 kg isi 12 ekor, yang berarti totalnya hanya sekitar 84-85 kg. Dan dalam penawaran tersebut diminta mensuplai selama 3 kali dalam seminggu. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-86/15 Juli – 14 Agustus 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain