Senin, 15 Juli 2019

Pembenihan Lele Keteter Kualitas Induk

Pembenihan Lele Keteter Kualitas Induk

Foto: rizki


Produksi benih lele masih terbelit masalah kualitas indukan dan kontinuitas produksi
 
 
Permintaan akan konsumsi ikan lele terus meningkat. Kondisi ini otomatis pada pproduksi budidaya yang terus harus ditambah termasuk produksi benih lele yang lebih banyak. Faktanya kerap terjadi ketidakseimbangan antara suplai benih dengan pembesaran lele. Kondisi ini menjadi fase tahunan yang selalu terjadi. 
 
 
Gambaran besarnya kebutuhan benih lel diungkapkan Haji Usman yang merupakan pelaku usaha pembesaran lele di Sawangan, Depok, Jawa Barat. H Usman mampu memproduksi atau panen lele  per harinya mencapai 4 - 5 ton ukuran konsumsi. Dari jumlah produksi tersebut ia membutuhkan tidak kurang 500 ribu – 600 ribu ekor benih setiap minggunya. 
 
 
Kebutuhan Benih
Lebih lanjut H Usman mengungkapkan, ketidakseimbangan suplai benih lele terhadap pembesaran lele selalu terjadi setiap tahunnya, terutama bulan Juni – Juli. “Kondisinya kini, bahwa permintaan akan lele ukuran konsumsi cenderung menurun sekitar 20 % dan sedangkan pasokan benih sedang banyak,” ungkapnya keada TROBOS Aqua.
 
 
Lanjut Usman, dengan memperhatikan hal tesebut mau tidak mau kita sebagai produsen lele konsumsi menurunkan harga jual, dan juga sedikit “mengerem” produksinya dikala masa-masa seperti ini. Lain hal, bahwa pada bulan Agustus dan September biasanya permintaan akan benih tinggi, namun kondisi yang biasa dihadapi adalah justru suplai benih menurun.
 
 
Ketidakseimbangan suplai benih terhadap pembesaran juga dinyatakan oleh Ade Sunarma Selaku Perekayasa Genetik di Balai Budidaya Perikanan Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Ujarnya, jika dlihat secara umum di dalam negeri, jumlah pelaku usaha pembenih dengan pelaku usaha pembesaran tidak proporsional. 
 
 
Menurut Ade, pada umumnya jika orang yang ingin terjun untuk budidaya lele pasti yang terbayangkan dengan mudah adalah pembesaran lele, padahal sebenarnya susah. Kemudian kualifikasi pekerja untuk pembenihan lebih mudah didapatkan karena hanya mau memberikan pakan, mengontrol air dan memanen. 
 
 
Sedangkan, ia katakan, untuk kualifikasi pekerja di pembenihan lebih sulit dicari, karena harus bisa menguasai berbagai aspek, dari mulai pemilihan induk, hingga panen benih. Hal ini yang mendasari bahwa pertumbuhan pelaku usaha pembesaran lebih cepat ketimbang pembenihan. Disamping itu, ada beberapa faktor lainnya yang juga menyebabkan kenapa suplai benih untuk pembesaran masih sulit untuk dipenuhi, seperti dari sisi teknis, teknologi dan lainnya.
 
 
Kendala Teknis
Ade coba menelusuri beberapa kendala yang terjadi dilapangan, apa dan mengapa pemenuhan benih untuk pembesaran lele tidak stabil. Dan pada akhirnya didapati beberapa masalah dari mulai teknis sampai dengan genetik.
 
 
Sambungnya, jika dilihat dari secara umum, tingkat kelangsungan hidup atau Survival Rate (SR) benih lele yang dihasilkan pembudidaya dalam negeri masih rendah kemungkinan sekitar 30 % dari mulai larva hingga mencapai ukuran 7 - 8 cm, ukuran tersebut merupakan ukuran yang paling banyak dicari untuk pembesaran. Jika ada yang mengatakan berhasil mungkin satu atau dua kali siklus pemijahan saja.
 
 
Hal ini terjadi, sambung Ade, karena ada proses kanibalisme yang tinggi pada saat pemeliharaan larva hingga menuju pendederan pertama (P1). Pada stadia larva, berdasarkan jurnal-jurnal penelitian bahwa banyak sekali terjadi kematian yang disebabkan karena kanibalisme yang cukup tinggi hingga mencapai 70 %. Hal tersebut diakibatkan karena saling gigitnya sesama larva, atau larva yang digigit mengeluarkan aroma tertentu sehingga menancing yang lainnya. 
 
 
Kemudian, pada saat panen ukuran P1 yang mencapai ukuran benih 2 cm, penanganan yang kasar menyebabkan luka-luka pada tubuh ikan. Sehingga nantinya pada saat pendederan kedua (P2) terjadi penurunan SR kembali. Hal tersebut umumnya terjadi ketika kita mulai memindahkan benih P1 ke kolam P2 dengan kasar. 
 
 
“Seberat-beratnya seser pasti kira bisa mengangkatnya, namun kita tidak memperhatikan ketika jumlah benih lele P1 yang diserok sekian banyak akan menimbulkan luka, karena saling gesek dan ditumpuk. Mungkin menurut kita tidak apa-apa, namun jika dilihat secara mikroskopis akan menimbulkan luka-luka kecil,” papar Ade. Lanjutnya, jika tejadi hal demikian yang ada akan terserang penyakit ataupun mati secara perlahan akibat luka tersebut.
 
 
Kedala teknologi pun tak menampikan disampaikan oleh Ade, bahwa secara umum pelaku usaha pembenihan masih bersifat konvensional. dengan demikian produksi yang masih bersifat konvensinal sukar untuk meningkatkan benih baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. 
 
 
Jika berkaca kepada teknologi pembenihan di luar negeri dimana banyak yang menggunakan sistem Resisculating Aquaculture System (RAS) dan ruang gelap, serta pemberian artemia pada stadia larva dengan harapan SR pada P1 akan tinggi. “Apabila pembudidaya kita meng-upgrade sistem pembenihannya, baiknya dilakukan penelitian lebih lanjut, jangan sampai jika sudah high tech nantinya akan sulit menjalankannya. Mulai yang dari sederhana seperti pemberian artemia yang meningkatkan SR,” himbau Ade. 
 
 
Rematurasi Indukan
Dari sisi pembenih lele, Sahban I Setioko, selaku pembenih lele di daerah Bogor mengungkapkan bahwa ada permintaan  sekitar 9 - 11 juta ekor benih lele per bulannya di daerah Bogor dan sekitarnya. Belum bicara skala Provinsi, namun untuk memenuhi permintaan tersebut ia merasakan kendala yang dihadapi yakni mengenai indukan. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-86/15 Juli – 14 Agustus 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain