Jumat, 12 Juli 2019

Inilah Keunggulan Budidaya Kakap Putih

Inilah Keunggulan Budidaya Kakap Putih

Foto: dok.DJPB-KKP


Makassar (TROBOSAQUA.COM). Budidaya kakap putih sedang diperkenalkan kepada pembudidaya tambak oleh pemerintah melalui program pengembangan kawasan di tambak idle. Apa keunggulannya ?

 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto (10/7) menjelaskan, budidaya kakap putih bisa dilakukan untuk menghidupkan kembali tambak-tambak idle dan memperbaiki daya dukungnya.

 

Dikatakannya, budidaya tambak udang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun, sehingga kualitas tanah sudah sangat menurun dan terjangkit penyakit, dengan budidaya kakap putih ini maka diharapkan dapat memutus rantai penyakit.

 

“Keong, teritip, cacing, kepiting dan berbagai hewan renik lainnya yang sudah terkontaminasi penyakit dan menjadi carrier penyakit virus yang mematikan udang menjadi makanan alami bagi kakap putih. Dengan begitu tambak berangsur-angsur menjadi pulih dan bebas penyakit udang,” lanjutnya.

 

 

Pakan Alami

Slamet menjelaskan, kakap putih dapat dibudidayakan tanpa menggunakan pakan buatan. Kakap putih yang ditebar pada kepadatan rendah dapat memanfaatkan rantai makanan di perairan tambak.

 

“Makanan utama kakap putih di tambak  anakan ikan nila, yang sudah disiapkan dan berkembang biak di tambak itu sebelum penebaran benih kakap putih,” dia merinci.

 

Keunggulan lain ikan kakap putih yaitu memiliki sifat euryhalin, mampu hidup pada rentang salinitas luas yakni 0 - 45 permil, sehingga sangat tepat dikembangkan di pertambakan.

 

Keunggulan Ekonomi

Slamet menyatakan, dengan kualitas daging yang baik, pertumbuhan yang cepat dan relatif tahan terhadap penyakit menjadikan kakap putih sebagai komoditas andalan budidaya.

 

Ikan kakap putih memiliki pangsa pasar yang cukup baik di Sulawesi Selatan maupun daerah lain di Indonesia. Harganya pun cukup tinggi Rp. 50.000/kg sehingga sangat menguntungkan. Saya optimis program ini akan berhasil,” terang Slamet.

 

Dijelaskannya, kakap putih termasuk ikan daging putih sehingga sangat potensial untuk kebutuhan ekspor mengingat kecenderungan konsumsi daging putih masyarakat dunia terus meningkat.

 

Slamet menghitung, jika potensi budidaya tambak udang yang sekitar 3 juta hektar itu, dimanfaatkan 500 ribu hektar untuk produksi kakap putih.  rata-rata 1,5 ton per ha, maka  akan ada tambahan produksi perikanan budidaya sebesar 750 ribu ton dari kakap putih.

 

“Jika harga perkilogram rata-rata Rp50 ribu, maka nilai ekonominya Rp 37,5 triliun atau USD 2,68 milyar (kurs USD 1 = Rp 14.000), ini sangat luar biasa,” ujar Slamet optimis.

 

Abdul Warih, pembudidaya ikan kakap putih dan udang windu di Pinrang menceritakan pengalamannya berbudidaya kakap putih. Menurutnya kakap putih bisa dibudidayakan di tambak, bersama komoditas bandeng dan udang secara polikultur.

 

"Sebelumnya, tambak kami hanya panen 300 kg udang windu dan bandeng 150 kg. Sekarang, tanpa sentuhan teknologi setidaknya kami mendapatkan tambahan minimal 300 kg kakap putih, disini kami jual dengan Rp 50 ribu per kilo, jadi ada tambahan pendapatan Rp 15 juta setiap panen," ungkap Warih.

 

Dia menyatakan, polikultur kakap putih dengan udang windu juga menjadikan udang semakin sehat, tumbuh lebih cepat dan ukuran panennya lebih besar.

 

Benih Siap

Slamet menguraikan, Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar dan Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, ditunjuk sebagai penanggung jawab program in,i seiring dengan bertambahnya fasilitas dan kemampuan produksi hatchery kakap putih yang dimiliki.

 

“Tahun ini 5 unit hatchery tambahan dengan sistem resirkulasi (RAS) untuk pendederan kakap putih mulai beroperasi di BPBL Ambon. Kapasitas produksi benih meningkat mencapai 3 Juta ekor per tahun. Fasilitas dan kemampuan ini siap untuk mendukung pengembangan kawasan budidaya di berbagai daerah,” tambah Slamet.

 

Slamet juga mendorong agar daerah-daerah lain dapat mengembangkan kawasan-kawasan budidaya serupa dengan komoditas andalan masing-masing. "Tidak hanya Pinrang dan Maros, kabupaten lain seperti Pangkep dan Jeneponto Sulawesi Selatan juga akan kita dorong sebagai kawasan budidaya kakap putih,” kata Slamet.

 

Dirjen PB berharap budidaya berbasis kawasan dengan komoditas andalan dan spesifik ini bisa menjadi trend di daerah-daerah potensial seluruh Indonesia. “Ada kawasan budidaya windu, nila salin, bandeng, vaname dan lainnya,” pungkas Slamet. ist/meilaka

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain