Kamis, 11 Juli 2019

CP Foods Investasi di Camanor, Harapan Bangkitnya Perudangan Brasil ?

CP Foods Investasi di Camanor, Harapan Bangkitnya Perudangan Brasil ?

Foto: ist/camanor


Brasil (TROBOSAQUA.COM). Harapan kebangkitan perudangan Brasil datang dari kehadiran CP Foods yang berinvestasi di Camanor. Negara ini mengalami masa sulit selama dua dekade akibat wabah whitespot yang menghancurkan tambak.

 

Laman Shrimpnews melansir, Brasil bersuhu tropis ideal, memiliki potensi besar untuk budidaya udang. Tersedia pula pasar dalam negeri dengan 208 juta penduduk, yang rata-rata menggemari seafood. Faktor itu mendorong Charoen Pokphand Foods (CP Foods) Thailand bertaruh untuk berinvestasi di Camanor. Farm ini merupakan salah satu penghasil udang terkuat di negara itu yang selamat dari wabah whitespot yang telah mengurangi separuh produksi nasional pada dekade terakhir.

 

Werner Jost, berkebangsaan Swiss, telah memimpin Camanor sejak 1990-an dan telah menciptakan model manajemen tambak yang khas, untuk memerangi whitespot. Mereka menggunakan campuran teknik pertambakan intensif dengan budidaya nila dan teknik bioflok. Benih udang fase postlarvae yang dibawa oleh CP Foods akan melengkapi model ini.

 

“Kami menangani lima generasi sekarang, seleksi udang dibantu CP Foods. Udang-udang itu sangat berbeda dari udang yang kami miliki sebelumnya. Mereka makan lebih banyak dan berperilaku berbeda,” ungkapnya.

 

Divisi udang CP Foods memiliki pengalaman menangani berbagai wabah penyakit yang telah mendera pertambakan udang intensif di Asia Tenggara, dari serangan whitespot hingga early mortality syndrome (EMS). EMS khususnya sangat mempengaruhi industri udang Cina dan Thailand dalam dekade terakhir.

 

Kondisi Perudangan Brasil

Produksi udang Brasil menurut Instituto Brasileiro de Geografia e Estatistica (IBGE) merosot menjadi 40.991 metrik ton pada 2017, terendah dalam 15 tahun. Produksi terus merosot sejak negeri ini mencapai puncak produksi udang terbaik sebesar 90.190 metrik ton pada 2003. Ketika whitespot merobek tambak udang di negara bagian timur laut Ceara dan Piaui pada 2015 produksi turun menjadi 87.000 metrik ton, dan pada 2016 terhempas di angka 60.000 metrik ton.

 

Jost menyatakan, saat survival rate udang tinggal 5%, dia mencoba berbagai upaya untuk memperbaiki keadaan. Seperti menutupi kolam dengan jaring untuk menghindari kontaminasi penyakit dari burung. Camanor menerapkan program yang disebut AquaScience yang menggunakan nila untuk memakan pakan udang yang tersisa di petakan tambak.

 

“Perusahaan juga memproses kotoran udang yang dapat mencapai 2.000 kilogram per hektar, per siklus. Probiotik juga merupakan fitur penting dalam sistemnya,” katanya.

 

“Udang telah tumbuh resisten terhadap whitespot pada budidaya dengan kepadatan lebih rendah. Kunci untuk AquaScience adalah memastikan hewan tidak stres. Mengontrol suhu di bulan-bulan musim panas Brasil ketika temperatur dapat melonjak hingga 40oC juga penting,” urai Jost.

 

Camanor, dia menguraikan, memiliki target langsung untuk meningkatkan produksi menjadi 5.000 metrik ton per tahun, dari sekitar 3.000 ton sekarang. Perusahaan berencana untuk memproduksi 20.000 ton udang dalam jangka panjang. 

 

Industri udang Brasil juga harus bersaing dengan kondisi pasar yang lesu di bawah pemerintahan baru Presiden Jair Balsonaro. Dipilih pada 1 Januari 2019, investasi asing lambat tiba di Brasil, dan ekonomi hanya tumbuh sekitar 1% tahun ini, menurut data kementerian ekonomi.

 

Ekonomi Brasil surut lebih dari 3% pada tahun 2015 dan 2016, resesi terburuk yang dialami oleh negara dengan level ekonomi global utama dalam 50 tahun terakhir. Keadaan ini mengikis daya beli kelas menengah dan memengaruhi permintaan produk perikanan.

 

 

Lambatnya pertumbuhan pasar udang dalam negeri Brasil diperparah dengan kedatangan impor udang Ekuador ke Brasil, sehingga mengikis harga premium udang domestik.

 

"Brasil sangat rumit, harga akan turun sedikit dan kami akan mendapatkan harga internasional (bukan harga premium domestik). Warga Ekuador dapat mengimpor tanpa pajak dan mereka akan memiliki pajak lebih sedikit untuk dibayar daripada produsen di Brasil,” ujar Jost mengeluh.

 

Kualitas Buruk

Tantangan besar lain dari industri perikanan Brasil, terutama yang dihadapi oleh produsen yang berada di timur laut negara itu, adalah kurangnya fasilitas penyimpanan dingin dan kondisi jalan yang buruk, jauh berbeda dibandingkan dengan daerah metropolitan di sekitar Sao Paulo dan Rio de Janeiro yang berjarajk 3.000 kilometer (1.864 mil) ) ke selatan.

 

Parahnya, Jost menuturkan penanganan udang dari sana seringkali buruk dan udang dari timur laut Brazil sering tiba di supermarket Sao Paulo dalam kondisi buruk. Beberapa produsen dan distributor menggunakan glasir fosfat untuk membuat udang tampak dalam kondisi yang lebih baik. Hal ini menjadikan udang dari tempat itu sulit bersaing dengan udang impor yang tiba langsung di pelabuhan. ist/meilaka

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain