Sabtu, 15 Juni 2019

Soen’an Hadi Poernomo: Susut Ikan dan Gizi

Soen’an Hadi  Poernomo: Susut Ikan dan Gizi

Foto: 
Soen’an Hadi Poernomo

Miliaran penduduk dunia mengalami kondisi kekurangan gizi. Bahkan diberitakan kematian sekitar 3,1 juta anak berusia kurang dari lima tahun adalah disebabkan oleh problem tersebut, serta saat ini diperkirakan 165 juta anak dalam status kekurangan gizi bertubuh pendek, atau yang populer disebut stunting.
 
 
Pada tahun 2002, didirikanlah diantaranya organisasi yang peduli terhadap kondisi tersebut, yakni Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN). Organisasi nirlaba yang berkedudukan di Swiss ini memiliki tujuan utama mempertemukan jejaring internasional guna meningkatkan kesadaran konsumen terhadap perlunya pangan yang aman dan bergizi, ketersediaan bahan pangan tersebut, serta dukungan lingkungan yang terkait. 
 
 
Di Indonesia, prevalensi stunting secara nasional tahun 2013 adalah 37,2 %, terdiri dari 18 % sangat pendek, dan 19,2 % pendek. Menurut Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization), masalah kesehatan masyarakat dianggap berat bila prevalensi stunting sebesar 30 – 39 % dan tergolong serius apabila permasalahan pendek tersebut lebih dari 40 %. Apabila dilihat data gizi masyarakat pada setiap provinsi, sebanyak 14 provinsi masuk dalam kategori berat, sedangkan 15 provinsi tergolong serius.
 
 
Peraturan Presiden nomor 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi ditetapkan. Sasaran utamanya adalah untuk ibu hamil serta penurunan stunting, berfokus pada “seribu hari pertama kehidupan”, sejak dalam kandungan sampai bayi usia dua tahun.  Salah satu rekomendasinya adalah peningkatan asupan protein melalui konsumsi ikan.
 
 
Gizi Ikan
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar, serta termasuk satu dari pemilik pantai terpanjang di dunia, ikan dapat diharapkan sebagai bahan pangan yang menjadi pemecah problem kekurangan gizi. Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan pada tahun 2017, ikan merupakan penyumbang protein tertinggi, yakni 78,4 gram, diatas daging 42,8 gram dan telor 19,7 gram. Apalagi, ikan memiliki kelebihan proteinnya mudah dicerna, dibanding daging. Kalau dilihat jenis lauk konsumen Indonesia, 42,6 % berupa ikan laut, 23,4 % ikan air tawar, 8,7 % olahan ikan, 2,6% udang dan kepiting, serta 1,2 % cumi, kerang dan keong.
 
 
Tingkat konsumsi ikan berdasarkan data BPS tahun 2015 adalah 41,11 kg/ kapita/ tahun, tentu masih perlu ditingkatkan. Sebagai pembanding, penduduk Jepang tingkat konsumsi ikannya adalah 140 kg/ kapita/ tahun.
 
 
Susut Ikan
Guna meningkatkan konsumsi ikan, diperlukan banyak upaya untuk mendorong ketersediaan ikan beserta distribusinya hingga konsumen, termasuk yang jauh dari pantai. Dan yang cukup penting juga menanamkan kesadaran kepada masyarakat mengenai nilai positif mengkonsumsi ikan yang bergizi tinggi.
 
 
Disamping hal tersebut, terdapat hal yang perlu diperhatikan adalah mencegah terjadinya susut hasil produk perikanan, yang berefek mengurangi nilai gizi saat dikonsumsi masyarakat. Penyusutan tersebut terjadi terutama oleh karena penanganan (handling) ikan yang kurang baik. Sebagaimana diketahui, ikan adalah tergolong bahan pangan yang mudah mengalami pembusukan (perishable food), sehingga harus ditangani secara cepat, bersih, hati-hati, dan suhu dingin. 
 
 
Sejak tahun 1970-an angka susut hasil yang sering jadi acuan adalah kisaran 30 – 40 %. Dalam kajian Koeshendrajana dalam kurun waktu 2008 - 2012, susut hasil  di 33 kota/ kabupaten, terhadap ikan sejak ditangkap, di kapal, didaratkan, di pelabuhan dan pelelangan, diolah dan dipasarkan, adalah antara 5,85 - 7,11 %.
 
 
Pada kajian terhadap ikan tongkol di Indonesia yang dalam pasar domestik 66 % dan ekspor 34 %, susut ikan diperkirakan 75.000 - 125.000 ton/ tahun. Dengan demikian berarti hilang sekitar 16.500-27.500 ton protein/ tahun.
 
 
Setelah ditangkap atau pasca-panen, susut hasil perikanan (fish losses) dapat terdiri dari susut fisik, yakni berat ikan yang terbuang atau hilang; susut mutu, yaitu perbedaan nilai ikan saat segar baru ditangkap, dibanding setelah kualitasnya turun ketika di konsumen; susut harga, perbandingan harga ketika masih segar, dibanding harga saat sudah buruk mutu di konsumen; susut nutrisi, komponen gizi yang sudah berkurang, seiring dengan turunnya kualitas; susut fungsional, ikan kehilangan fungsi positifnya dibanding saat masih segar; dan susut financial, menurunnya harga, bersamaan dengan kemunduran mutu yang dialaminya.
 
 
Atas dasar kompleksnya upaya yang harus dilakukan guna menangani berbagai penyusutan komoditi ikan tersebut, maka pada tanggal 28 Agustus 2018, Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan, menetapkan Surat Keputusan Nomer HK 01.07/I/3211/2018 tentang pembentukan Indonesia- Postharvest Loss Alliance for Nutrition (I-PLAN), atau Jejaring Pasca Panen untuk Gizi (JP2G), yang mewadahi berbagai kelembagaan dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, LIPI, Perguruan Tinggi, Organisasi Profesi dan Organisasi Perusahaan terkait.
 
 
Kali ini terfokus pada produk perikanan, dimulai sebagai awal langkah di Provinsi Jawa Timur, yakni Kota Surabaya,serta Kota dan Kabupaten Probolinggo. Dengan penanganan ikan yang baik, diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan dan konsumsi hasil laut yang aman serta bergizi, sehingga menciptakan masyarakat beserta generasi berikutnya yang sehat dan cerdas.
 
 
 
*Ketua Forum Jejaring Penanganan Pasca Panen dan Gizi (JP2G)
*Pengurus Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani)
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain