Sabtu, 15 Juni 2019

Ria Nugrahaningsih: Budikdamber Solusi Pangan Lahan Terbatas

Ria Nugrahaningsih: Budikdamber Solusi Pangan Lahan Terbatas

Foto: dok. pribadi
budikdamber solusi untuk lahan

Manfaatkan lahan sempit untuk berusaha perikanan
 
 
Perkembangan pembangunan yang pesat di wilayah perkotaan berdampak pada semakin berkurangnya lahan pertanian yang ada. Seiring maraknya pembangunan perekonomian dan pemukiman di wilayah perkotaan, semakin meningkat pula alih fungsi lahan yang terjadi di perkotaan. Lahan-lahan yang dulunya merupakan lahan pertanian ataupun perikanan, berubah menjadi pemukiman penduduk.
 
 
Dengan semakin menyempitnya potensi lahan di wilayah perkotaan yang bisa dimanfaatkan, maka pemanfaatan pekarangan merupakan salah satu opsi yang bisa dipilih. Yakni yang digunakan untuk mendukung  pembangunan pertanian pada umumnya dan pembangunan perikanan pada khususnya. 
 
 
Pemanfaatan pekarangan kemudian sangat erat kaitannya dengan usaha mencapai ketahanan pangan masyarakat yang dimulai dari skala yang paling kecil, yaitu skala rumah tangga. Salah satu cara yang bisa digunakan dalam pemanfaatan pekarangan adalah teknologi budidaya ikan dalam ember atau dikenal dengan budikdamber.
 
 
Adapun dasar  dari  teknik ini adalah sistem akuaponik, yaitu menanam tanaman dan memelihara ikan dalam satu wadah. Prosesnya dimana tanaman memanfaatkan unsur hara yang berasal dari kotoran ikan yang apabila dibiarkan di dalam kolam akan menjadi racun bagi ikannya. Lalu tanaman akan berfungsi sebagai filter vegetasi yang akan mengurai zat racun tersebut menjadi zat yang tidak berbahaya bagi ikan, dan suplai oksigen pada air yang digunakan untuk memelihara ikan. 
 
 
Dengan siklus ini akan terjadi siklus saling menguntungkan dan bagi masyarakat yang  mengaplikasikanya tentu saja akan sangat menguntungkan sekali, karena lahan yang dipakai tidak akan terlalu luas. Sehingga  dapat diambil  manfaat keduanya. 
 
 
Latar belakang Budikdamber
Perwujudan budikdamber diawali dari kegiatan penyuluhan perikanan pada sekelompok ibu rumah tangga yang tidak bekerja (seperti tergabung dalam keanggotaan PKK). Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan ibu-ibu rumah tangga dan warga secara umum, maka perlu dilakukan pendampingan. Salah satunya dengan mengenalkan pengembangan budidaya ikan lele sistem budikdamber (budidaya ikan dalam ember).
Budikdamber mengadaptasi teknik Yumina-Bumina yang merupakan teknik budidaya yang memadukan antara ikan dan sayuran serta buah-buahan. Berdasar beberapa penelitian, pada budidaya Yumina-Bumina dikenal empat sistem, yaitu; rakit, aliran atas, aliran bawah serta pasang surut. 
 
 
Pada sistem aliran atas, distribusi air dilakukan lewat atas ke setiap wadah media tanam sehingga nutrisi yang berasal dari limbah budidaya dapat tersebar merata ke setiap batang tanaman. Untuk membuat sistem aliran atas diperlukan bahan seperti bak ikan, wadah media tanam, saluran air, pompa air, media tanam (batuapung), ikan (lele) dan tanaman (kangkung, pakcoy, tomat dan terong).
 
 
Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan metode pendekatan penyuluhan atau sosialisasi tentang budikdamber. Pendekatan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja (PKK) tentang cara budidaya ikan lele sekaligus kangkung yang efektif dan efisien dalam wadah ember. 
 
 
Kegiatan penyuluhan dilakukan dengan metode ceramah dan diskusi. Tujuannya adalah untuk memberikan pengetahuan tentang cara memelihara ikan dalam ember termasuk cara pemberian pakan dan pergantian air serta cara menanam kangkung. Setelah diberikan penyuluhan/sosialisai para ibu-ibu ini diberikan pelatihan budikdamber meliputi alat dan bahan yang digunakan untuk budidaya, cara pembuatan, cara perawatan ikan, cara menanam kangkung, dan teknik pergantian air(penyiponan).
 
 
Aplikasi Budikdamber
Adapun untuk bahan yang dibutuhkan dalam budidaya berupa ember 80 liter, gelas plastik, kawat, arang, benih ikan lele, nila, atau patin, dan sayuran kangkung. Tahap selanjutnya air diendapkan dalam ember selama satu hari. Kemudikan membuat media tanam sayuran berupa gelas plastik (sebagai pot) yang dilubangi kawat sebagai tempat untuk digantungkan ke mulut ember.
 
 
Selanjutnya, arang dibersihkan sebagai pengganti tanah dan dimasukkan ke dalam pot plasitk. Terakhir tanaman kangkung dimasukkan ke dalam pot. Yang harus diperhatikan saat meletakkan pot harus sebagian terendam air. Ember air yang sudah diendapkan, sehari kemudian dimasukkan ikan lele,nila, atau patin. Dalam satu ember bisa diisi sekitar 100 ekor benih lele ukuran 4-5.
 
 
Keuntungan Budikdamber
Kegiatan budikdamber dilaksanakan selama 4 bulan. Hasil dari kegiatan tersebut adalah panen ikan lele dan sayur kangkung. Lele sudah bisa dipanen kira-kira sekitar 1,5-2 bulan masa pemeliharaan. 
 
 
Panen lele tidak dilakukan secara serentak untuk seluruh ember, karena besar ikan lele tidak seragam untuk pemeliharaan selama dua bulan tersebut. Ikan yang pertama kali dipanen sekitar lima ember dan setiap embernya ada kurang lebih 20-30 ekor dengan berat  1-2 kg setiap embernya. 
 
 
Bulan berikutnya sampai dengan pemeliharaan bulan ke 4 bisa dilakukan panen kembali. Pada bulan ketiga pemeliharaan bisa didapatkan panen lele dengan berat 3,8 kg dengan jumlah ikan 30 ekor.
 
 
Sementara panen kangkung pertama kali dilakukan pada masa pemeliharaan selama 2-3 minggu. Jumlah awal panen kangkung rata-rata 1 ikat dua ember. Panen berikutnya sekitar satu hingga dua minggu dengan jumlah panen sekitar lebih banyak dari panen pertama yaitu satu ikat satu ember. 
 
 
Jumlah panen kangkung akan semakin berkurang ketika memasuki bulan ketiga dan keempat pemeliharaan. Ketika jumlah panen kangkung sudah mulai berkurang bisa dilakukan penanaman kembali melalui pergantian kangkung dengan bibit yang baru.
 
 
Adapun keuntungan budidaya ikan dalam ember ini adalah tidak memerlukan aliran listrik  untuk  suplai oksigen maupun resirkulasi air kolam. Tentunya ini sangat sederhana dan murah. 
 
 
Penggunaan ember sebagai pengganti kolam adalah karena hemat tempat. Ketika tempat menjadi keterbatasan dalam memulai bisnis/usaha sampingan ini maka menggunakan ember dianggap solusi terbaik. Tidak seperti menggunakan kolam, memanen dari ember plastik lebih mudah. Yakni caranya, melapisi ember dengan plastik terlebih dahulu dan tinggal membuang air saja. Setelah air surut maka lele mudah diangkat, yaitu dengan mengangkat plastik pelapis saja maka lele semua akan ikut.
 
 
Dengan wadah budidaya yang terbatas  kita mendapatkan manfaat ganda dari kangkung dan ikan. Yaitu, bisa kita manfaatkan kapan saja dalam kondisi  segar, sehat, dan bebas kontaminasi bahan yang berbahaya.
 
 
 
*Penyuluh Perikanan Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten
 
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain