Sabtu, 15 Juni 2019

Bioflok pada Budidaya Mas Koki

Bioflok pada Budidaya Mas Koki

Foto: rizki
Kolam Calon Indukan Mas Koki

Yang dibutuhkan ikan untuk hidup bukan tergantung jernih airnya, tapi kualitasnya 
 
 
Ikan mas koki merupakan ikan hias yang umum dan dikenal seluruh kalangan, bentuknya yang lucu memanjakan mata yang melihatnya. Terlebih lagi jika dipelihara di dalam akuarium yang diberi hiasan rerumputan serta dialiri air yang jernih. Namun jika dibayangkan sesaat,  apabila mas koki dipelihara di kolam dengan air yang keruh hingga coklat akan menimmbulkan pertanyaan, apa bisa hidup?
 
 
Kali ini tim TROBOS Aqua meliput mengenai budidaya mas koki yang berbeda pada umumnya, dimana keruhnya air dan ribuan mas koki menyambut datangnya tim TROBOS Aqua. Budidaya mas koki di kolam terpal terdengar biasa, namun kali ini Joko Purwanto menerapkan budidaya mas kokinya dengan sistem bioflok dan juga kepadatan tebar yang tinggi.
 
 
“Lokasi usaha budidaya di daerah pemukiman Kota Bekasi yang notabenenya padat penduduk dan lahan terbatas. Maka, penerapan sistem budidaya bioflok dilakukan,” terang pembudidaya yang telah menjalani sistem ini selama 2 tahun lebih dengan varietas bermacam ikan. 
 
 
Karena, sambungnya, dengan menggunakan sistem budidaya ini akan menghemat biaya listrik, karena minim pergantian air. Disamping itu, intensifikasi usaha bisa dilakukan dengan menambah kepadatan tebar mas koki dalam wadah budidaya.
 
 
Aplikasi
Untuk aplikasi di lapangan, sebut laki-laki yang akrab disapa Joko ini, pada umumnya sama dengan  penerapan bioflok untuk komoditas lele. Seperti pada lele, diperlukan persiapan kolam hingga penambahan bakteri sampai membentuk flock di wadah budidaya, kemudian dilakukan penebaran benih mas koki.
 
 
Namun, ia menyebut, terdapat perbedaan dalam sumber karbon yang digunakan. “Pada sistem bioflok untuk lele digunkan molase (tetes tebu). Sedangkan yang kami terapkan di sini menggunakan gula merah,” tutur Joko yang mempunyai latar belakang pendidikan Informasi Teknologi (IT). 
 
 
Selain itu, penerapan bioflok pada koki di sini menggunakan kolam bundar. Namun ukurannya sedikit berbeda dengan peruntukan komoditas lele. Untuk mas koki, ukuran diameter 2 meter (m) dengan tinggi kolam hanya sekitar 60-80 sentimeter (cm). 
 
 
Pemberian aerasi juga tetap dilakukan guna menjaga pasokan oksigen sehingga oksigen terlarut (Disolve Oxygen) mencukupi kebutuhan ikan. “Pemberian aerasi saya terapkan karena kepadatan ikan cukup tinggi. Untuk kolam ukuran 2 m dengan tinggi 60-80 cm diisi benih mas koki sebanyak 3000-5000 ekor, dengan  ukuran benih 1-2 cm,”ungkap Joko. 
 
 
Penerapan teknologi ini, ia katakan, cukup bermanfaat untuk menekan biaya produksi. Seperti yang disampaikan sebelumnya, pergantian air yang minim dapat menekan biaya operasional. Karena pada umumnya para pembudidaya mas koki mengunakan air yang selalu bening. 
 
 
Berbeda dengan teknologi yang ia terapkan dimana airnya butek dan berwarna coklat atau bahkan hijau. Bioflok yang ia terapkan, jelas Joko, bukan berarti tidak melakukan pergantian air sama sekali. Namun, pergantian air tetap dilakukan dengan kurun waktu lebih lama dibandingkan pembudidaya yang menerapkan sistem konvensional. 
 
 
“Saya hanya mengganti air dalam kurun waktu 1 bulan sekali. Berbeda dengan sistem kovensional yang rata-rata melakukan pergantian air sebanyak 3 kali dalam satu minggu. Pembuangan air hanya sekitar 30-40 %. Jangan membuang lebih dari 50 % apabila tidak terjadi hal-hal tertentu. Selanjutnya dilakukan penambahan bakteri kembali setelah dilakukan pergantian air,” ujarnya.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-85/15 Juni – 14 Juli 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain