Sabtu, 15 Juni 2019

Sinkronisasi Rumput Laut Dalam Negeri

Sinkronisasi Rumput Laut Dalam Negeri

Foto: meilaka


Harapan kami melakukan sinkronisasi program bersama pemerintah, agar pengembangan rumput laut Indonesia memiliki daya saing baik di dalam negeri maupun internasional. 
 
 
 
Rumput laut merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan sektor perikanan. Dimana posisinya kini Indonesia menjadi nomor satu di dunia dari segi produksi. Pemerintah dan juga Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) gencar dalam mempromosikan dan mengenalkan rumput laut dalam negeri ke dunia internasional, lantas bagaimanakah kesiapan kita dalam berlaga di kancah internasional?
 
 
 
Kurang Sinkronisasi
Ketua ARLI, Safari Azis menggambarkan kondisi rumput laut dalam negeri yang masih belum sinergis. Ia menekankan masih kurangnya sinergitas dan juga masih belum satu persepsi mengenai pemahaman rumput laut. 
 
 
Ia mengatakan, masih saja banyak ditemukan kurang sinerginya program pemerintah dengan kebutuhan bisnis rumput laut. Seperti halnya pemberian bantuan bibit unggul yang diklaim bisa penen dalam kurun waktu selama 30 hari. “Tujuan pemerintah itu baik, karna memberikan bantuan kepada pembudidaya yang membutuhkan untuk mengambangkan usahanya. Namun jika dikaji lebih dalam, apa bibit unggul tersebut sudah diakui di dunia internasional? Selanjutnya, bagimana dengan pangsa pasar bibit unggul tersebut?” tanyanya.
 
 
Berdasarkan beberapa pengalaman di lapangan, Azis melanjutkan, asosiasi akan selalu ditanyai dan diminta bantuan jika hasil panen dari bibit unggul tersebut sulit terjual. “Kemudian kadang kita juga ditegur apabila terjadi kegagalan. Terkadang mengenai pembuatan regulasi baru kita juga jarang dilibatkan, yang ada pada saat melakukan produksi hingga ekspor ada kendala yang dihadapi karena berbenturan dengan regulasi baru yang sebelumnya tidak kita ketahui,” ungkapnya. 
 
 
Dampaknya, terang Azis, dengan kondisi demikian akan menghambat usaha yang dijalankan. “Namun, dengan demikian kita langsung lakukan koordinasi ke Kementerian Kelautan Dan Perikanan (KKP) mengenai aturan baru. Jika perlu anggota dan pelaku usaha diberikan pelatihan, maka ARLI akan mengadakan pelatihan guna memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah,” terangnya. 
 
 
 
Daya Saing
Belakangan ini, beber Azis, kita sering bicara mengenai kebijakan, khususnya kebijakan baru banyak yang membuat kesan terhambat dalam menjalani usaha ini. Seperti pada 2012 mengenai isu pelaranggan ekspor bahan baku, supaya industri lokal tumbuh, kemudian pada 2014 isu pengenaan bea masuk dengan tujuan industri asing bisa masuk. 
 
 
Ini yang Azis khawatirkan, karena hanya meminta kebijakan pemerintah agar melarang tanpa meningkatkan daya saing. Pada akhirnya pesaing yang datang ke Indonesia. “Jangan salahkan ekspornya, karena apa pabrik lokal mampu berkompetitor dari segi harga dengan pabrik dari China hingga negara-negara Eropa. Oleh karena itu sebagai produsen akan memilih pabrik yang mempunyai daya saing tinggi,” tuturnya.
 
 
Padahal sebenarnya, beber Azis, kunci dari permasalahan ini adalah tingkatkan daya saing baik dari sektor hulu sampai hilir. Dengan demikian, terang Azis, produktivitas rumput laut dapat meningkat. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-85/15 Juni – 14 Juli 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain