Kamis, 30 Mei 2019

Induk Udang Asal Tambak Tak Boleh Dipergunakan

Induk Udang Asal Tambak Tak Boleh Dipergunakan

Foto: dok.DJPB-KKP


Jakarta (TROBOSAQUA.COM). Pemerintah resmi melarang penggunaan induk udang vanname (Litopenaeus vannamei) maupun udang windu (Penaeus monodon) asal tambak terhitung mulai tanggal 22 Mei 2019.

 

Larangan itu dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Surat Edaran Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Nomor 4575/DJPB/2019 tanggal 22 Mei 2019. Aturan ini merupakan bentuk antisipasi  dan peningkatan kewaspadaan terhadap potensi serangan sindrom kematian dini (early mortality syndrome, EMS) yang disebabkan oleh infeksi Vibrio parahaemolyticus yang dapat menyebabkan penyakit Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND).

 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto di Jakarta, Rabu (29/5) menjelasakan bahwa rencana penerbitan surat edaran ini telah disosialisasikan kepada stakeholder dalam berbagai forum, sehingga diharapkan dapat segera diimplementasikan di lapangan. Slamet berharap dengan terbitnya larangan ini, maka status Indonesia sebagai negera yang bebas dari penyakit EMS/AHPND benar-benar terjaga.

 

Ada 3 (tiga) poin utama dalam edaran larangan tersebut, yaitu: pertama, setiap hatchery (hatchery skala besar dan skala kecil (HSRT) dan naupli center dilarang menggunakan induk udang dari tambak.

 

Kedua, hatchery dan naupli center yang selama ini menggunakan induk udang dari tambak diharuskan untuk mengganti induk udang dari hasil breeding program broodstock center udang vannamei yang dimiliki pemerintah maupun swasta atau mengimpor induk udang bebas penyakit dari negara yang dinyatakan bebas penyakit. Ketiga, pemerintah berupaya menyediakan induk udang hasil breeding program dari broodstock center.

 

"Indonesia merupakan salah satu negara yang dinyatakan terbebas dari penyakit EMS/AHPND, oleh sebab itu upaya yang benar-benar serius untuk mempertahankan status tersebut harus kita lakukan. Salah satunya dengan memastikan proses pembenihan udang benar-benar aman dari kontaminasi penyakit EMS/AHPND, tidak terkecuali dengan menggunakan induk udang yang benar-benar terbebas dari penyakit ini,” ujar Slamet.

 

Dijelaskannya, induk udang vanname maupun windu dari tambak sangat berpotensi menularkan penyakit karena dipelihara di tempat terbuka sehingga sangat rawan terpapar atau tertular berbagai penyakit serta potensial menciptakan dan menyebarkan penyakit lokal ke daerah lain.

 

Selain itu lanjutnya, proses pembuatan induk udang di tambak seringkali menyalahi atau tidak sesuai dengan protokol produksi induk. Akibatnya induk udang yang dihasilkan tidak dapat dijamin bahwa secara genetik baik atau unggul.

 

"Jika kita ingin udang kita tetap aman dan bebas EMS/AHPND, langkah pertama ya dari proses pembenihannya harus aman, induk yang dihasilkan harus melalui dan sesuai protokol produksi induk udang," lanjut Slamet.

 

Selain mengeluarkan surat edaran larangan penggunaan induk udang dari tambak, Slamet menerangkan ada 6 (enam) langkah atau upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam mencegah penyakit ini.

 

Pertama, Peningkatan kewaspadaan (public awareness) terhadap gejala-gejala serta cara penanganan EMS/AHPND melalui sosialisasi, peningkatan kapasitas pengujian laboratorium. Pengawasan terhadap lalu lintas induk, calon induk, benur, serta pakan alami (polychaeta dan artemia) juga ditingkatkan untuk mencegah pemasukan dari negara terkena wabah.

 

Kedua, mengajak untuk penebaran benur intensif 80 – 100 ekor per m2. Ketiga, kembali melakukan persiapan seperti prinsip-prinsip dasar atau panca usaha (back to basic).

 

Keempat, pelarangan menggunakan induk tambak untuk HSRT atau Naupli Center. Kelima, pengembangan kawasan budidaya perikanan berbentuk klaster secara terpadu dan terintegrasi dalam satu kesatuan pengelolaan, baik lingkungan, teknologi, input produksi maupun pemasaran.

 

Keenam, upaya mempertahankan keberlanjutan usaha budidaya perikanan melalui pengaturan izin lokasi, izin lingkungan (AMDAL/UKL-UPL), dan penyediaan saluran inlet/outlet yang terpisah. ist/meilaka

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain