Rabu, 15 Mei 2019

Karantina Usung Program Keberkelanjutan

Karantina Usung Program Keberkelanjutan

Foto: 


Menjaga kelestarian spesies ikan endemik melalui program-program keberkelanjutan
 
 
 
Sesuai arah kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait Sustainable Development Goals berbagai instansi mulai mengacu pada tujuan pembangunan perikanan dan keluatan yang berkelanjutan. Begitu pila yang dilakukan oleh Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Banjarmasin Kalimantan . “Program yang ada di BKIPM Banjarmasin ini menganut pada program yang ditetapkan pemerintah, yakni Sustainable Development Goal,” kata Sokhib selaku Kepala Balai BKIPM Banjarmasin. 
 
 
Sokhib juga mengatakan bahwa program yang dilakukan tersebut meliputi eradikasi, pengendalian cemaran, pelepasan spesies yang asli, endemik, atau lokal. Hal ini juga berkaitan dengan pengendalian IAS (Infasive Alien species). “Potensi daerah seindah apapun kalau IAS-nya tidak dikendalikan, kita tinggal menghitung waktu untuk kehilangannya,”ucap Sokhib. 
 
 
 
Program Berkelanjutan 
Dalam mewujudkan program berkelanjutan, jelas Sokhib, salah satu upaya yang sudah dilakukan oleh BKIPM Banjarmasin adalah pengembalian ikan ke habitat awalnya. Benih-benih ikan lokal yang sudah di data sebelumnya ditebarkan di perairan yang sudah mulai langka. Ikan-ikan endemik yang sudah tidak ada juga dikembalikan ke tempat awalnya. “Salah satu ikan endemik atau ikan khas Kalimantan Selatan adalah ikan papuyu, sehingga kita harus menjaga kelestariannya secara serius,” ungkapnya. 
 
 
Pihaknya juga pernah melakukan percobaan dengan menangkap ikan di perairan umum dengan radius tidak sampai 2 km selama 2 jam. Hasilnya ditemukan banyak sekali ikan sapu-sapu yang terjaring. Menurut Sokib jumlah ikan sapu-sapu yang tertangkap mencapai 2 ton. 
 
 
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa ikan sapu-sapu tersebut dapat memakan telur-telur ikan, larva ikan, maupun ikan-ikan kecil lainnya. Sehingga apabila ikan sapu-sapu tersebut terus dibiarkan, ikan-ikan lokal dan ikan endemik akan habis begitu saja. “Ikan papuyu kebanggaan kami pun akan menghilang dan sulit untuk dicari,” jelas Sokhib.
 
 
Melalui kerjasama dengan beberapa pihak, papar Sokhib ikan sapu-sapu tersebut tidak lantas dijadikan sampah saja, melainkan dijadikan pula untuk pakan mandiri dan menjadi beberapa produk olahan. Tim BKIPM Banjarmasin juga telah melakukan uji logam berat untuk ikan sapu-sapu yang berada di sana. Hasilnya, kandungan logam berat pada ikan sapu-sapu di wilayah perairan Kalimantan Selatan masih berada di bawah ambang batas sehingga sangat aman untuk diolah kembali. 
 
 
 
Cara Persuasif 
Cara lain yang pernah dilakukan oleh BKIPM Banjarmasin adalah upaya persuasif kepada para pengusaha yang ada di sana. Sokhib menuturkan bahwa perusahaan yang telah banyak menghasilkan indukan arwana banjar red, yang merupakan ikan endemik Kalimatan Selatan, diminta untuk melepaskan kembali indukan dengan katagori tertentu. Hal ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan dan kesinambungan alam. 
 
 
Selain itu bagi indukan yang kurang produktif diharapkan dengan dikembalikan lagi ke alamnya, dapat bebas dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya sehingga dapat berproduksi secara optimal. Pengembalian induk arwana ini juga dikarenakan induk ikan arwana tersebut termasuk pada golongan apendix 1. Menurut Sokhib apendix 1 merupakan kategori ikan yang tidak bisa diperjualbelikan serta tidak boleh dikirimkan kemana-mana, kecuali apendix 2 atau anakannya. 
 
 
Pada tahun ini sebanyak 150 ekor indukan ikan arwana berhasil dilepas ke alamnya. Apabila dikalkulasikan, satu ekor induk ikan arwana saja sekitar Rp 15 juta, jika melepas 150 ekor, nilainya bisa mencapai Rp 2,25 miliar. “Angka tersebut bukan merupakan angka yang sedikit, dibutuhkan pengorbanan para pengusaha untuk dapat melepaskannya ke alam,” ujarnya. 
 
 
Upaya persuasif yang dilakukan Sokhib dan tim tersebut akhirnya membuahkan hasil. Setelah melalui rangkaian yang panjang dengan meyakinkan para pengusaha secara terus-menerus mengenai pentingnya menjaga keseimbangan, akhirnya para pengusaha pun tergerak untuk mendukung program ini. Para pengusaha juga mau untuk melepaskan beberapa persen apendik 2 yang dimiliki demi menjaga alam agar dapat dinikmati oleh anak dan cucu kelak. 
 
 
Dalam mewujudkan program-program tersebut pihaknya tidak bekerja sendiri, melainkan bekerjasama dengan instansi terkait, baik instansi daerah maupun pusat. “Kami bersatu padu untuk menjalankan program ini dengan melakukan kerjasama dengan instansi terkait seperti BPSPL (Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut), DJPB (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya), BPSDMKP (Badan Pengembangan Sumber daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Kelautan dan Perikanan), dan instansi lainnya,”ungkapnya. 
 
 
 
Fasilitas Berstandar Internasional 
Untuk menjamin kesehatan dan mutu produk perikanan, BKIPM Banjarmasin dilengkapi fasilitas-fasilitas yang berstandar internasional. Laboratorium misalnya, fasilitas ini telah memiliki sertifikasi ISO 17025. Dikatakan oleh Sokhib bahwa ikan-ikan yang ada disana dijamin keamanannya, tidak hanya ikannya saja, tetapi aman juga untuk dikonsumsi oleh manusia. 
 
 
Pelayanan yang ada di BKIPM Banjarmasin juga telah tersertifikasi internasional. Mereka mendapatakan ISO 9001. Hal ini menunjukkan bahwa sistem manajemen mutu ataupun jasa yang diberikan oleh BKIPM Banjarmasin telah berstandar internasional. 
 
 
Tidak hanya pelayanannya saja, namun petugas pun mendapatkan sertifikasi internasional. Petugas layanan yang ada di BKIPM Banjarmasin sudah memperoleh ISO 17020. Hal ini menunjukkan bahwa petugas layanan berkompeten untuk melakukan tugas ataupun inpeksi. 
 
 
 
Komoditas Unggulan 
Banjarmasin merupakan kota yang dikenal juga sebagai kota seribu sungai. Tak heran, menyimpan potensi perikanan yang sangat besar, tidak hanya komoditas untuk tujuan konsumsi saja, namun potensi ikan hias yang ada disana juga cukup besar. Data dari tahun 2018 menunjukkan bahwa ikan yang diekpor melalui BKIM Banjarmasin sebanyak 2.683.512,68 Kg dengan nilai rupiah mencapai Rp.273.359.913.235. 
 
 
Untuk ikan hias yang diekpor diantaranya arwana banjar red, arwana golden, arwana super red, kura-kura ambon, dan labi-labi hidup. Tahun 2018 ikan arwana jenis ini diekspor hingga 14.100 ekor. Sedangkan ikan hias arwana golden 1.300 ekor, arwana super red 546 ekor, kura-kura ambon 1.000 ekor, dan labi-labi hidup sebanyak 975 ekor. 
 
 
Selain ikan hias, komoditas lain yang juga jadi bidikan ekspor adalah udang beku, produk makanan beku, black pomfret, king fish segar, dan fresh salted opossium shrimp. Pada tahun 2018 sebanyak 2.324.410 kg udang beku di ekspor, disusul oleh produk makanan beku sebanyak 200.778 kg, fresh salted opossium shrimp sebanyak 153.644 kg, king fish segar sebanyak 3.905 kg, serta black pomfret sebanyak 776kg. TROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain