Rabu, 15 Mei 2019

Peresmian Kawasan Hatchery Ikan Laut Modern

Peresmian Kawasan Hatchery Ikan Laut Modern

Foto: 
Kapasitas produksi benih hatchery mampu mencapai 3 juta ekor benih

Kapasitas produksi hatchery di BPBL Ambon mencapai 3 juta ekor benih per tahun dengan jangkauan hingga ke seluruh Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, Papua dan Papua Barat
 
 
 
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto meresmi¬kan hatchery (unit pembenihan) ikan laut modern dan terbesar kapasitas produksinya yang berada di Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, Selasa (30/4/2019) pagi. Dalam kesempatan itu, Slamet menyampai¬kan bahwa dengan beroperasinya hatchery ini, maka kebutuhan benih berbagai jenis ikan laut seperti bubara, kakap putih, kerapu macan dan kerapu bebek bagi pembudidaya ikan, khususnya dikawasan timur Indonesia semakin terpenuhi. 
 
 
Jangkauannya pun makin luas hingga ke seluruh Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, Papua, dan Papua Barat. “Pembangunan hatchery ini merupakan implementasi dari amanat Menteri Kelautan dan Perikanan agar kita memiliki balai perikanan budidaya laut yang modern dan sebagai pintu gerbang inovasi teknologi perikanan budidaya laut di Indonesia Timur. Ini akan menjadi kebang-gaan Indonesia,” terang Slamet optimis.
 
 
 
Teknologi Modern 
Hatchery ini modern karena sepenuhnya telah menerapkan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) seperti di negara-negara maju, khususnya pada fase pendederan dan penggelondongan benih. Keunggulan teknologi ini yaitu kepadatan ikan bisa ditingkatkan dimana dengan wadah yang sama, kapasitasnya bisa naik hingga 5 kali lipat. Kualitas air juga mudah dikontrol dan jauh lebih stabil. 
 
 
Selain itu, penggunaan air ganti jauh lebih sedikit yakni hanya dibutuhkan 10 % dari volume total air per hari, sehingga jauh lebih efisien bila dibandingkan dengan teknologi biasa (flowthrough) yang membutuhkan pergantian air hingga 300 % agar ikan bisa hidup dengan baik. “Dibangunnya hatchery ini bertujuan untuk menciptakan industri budidaya atau pembenihan yang berkelanjutan sehingga apa yang dilakukan harus meningkatkan efisiensi dan produk¬tivitasnya serta ramah lingkungan. Oleh karena itu juga perlu diterapkan mekanisasi dan digitalisasi,” lanjutnya. 
 
 
Slamet juga menjelaskan bahwa penerapan teknologi RAS di hatchery sudah sangat tepat. Ia mengutip pernyataan FAO bahwa ada tiga kendala yang dihadapi oleh perikanan budidaya kedepan yakni sempitnya lahan akibat alih fungsi lahan untuk kegiatan lain, seperti perumahan dan industri. 
 
 
Selain itu lanjut Slamet, tantangan kedepan menurut FAO yakni ancaman terjadinya krisis air dan tantangan peningkatan produktivitas seiring semakin meningkatnya penduduk dunia yang berakibat pada kebu¬tuhan pangan juga akan meningkat. “Oleh karena itu jawabannya adalah penerapan teknologi RAS dan ini sudah sangat tepat,” tegas Slamet. 
 
 
Penerapan teknologi RAS, menurut Slamet saat ini sudah diterapkan juga oleh UPT DJPB lainnya termasuk balai perikanan budidaya air tawar di Sukabumi, Mandiangin Kalimantan Selatan, dan Tatelu Sulawesi Utara. Dalam kegiatan yang juga dihadiri oleh seluruh kepala UPT lingkup Ditjen Perikanan Budidaya tersebut, Slamet juga berpesan agar UPT selain sebagai pusat produksi benih juga menjadi rujukan dan bermanfaat luas bagi seluruh stakeholder. 
 
 
“Selain sebagai pusat produksi benih dan induk unggul, UPT juga berfungsi sebagai pusat teknologi dan inovasi, pelayanan laborato¬rium, pakan alami. Termasuk memiliki fungsi pembinaan serta pendampingan kepada masyarakat,” pungkasnya. 
 
 
 
Lumbung Ikan Nasional 
Sementara itu Kepala BPBL Ambon, Tinggal Hermawan menjelaskan bahwa hatchery yang baru diresmikan ini dibangun di lahan seluas 2 hektar sehingga keseluruhan hatchery yang dimiliki BPBL Ambon kini berdiri di lahan seluas 4 hektar. Kapasitas produksi benih hatchery pun kini mampu mencapai 3 juta ekor benih per tahunnya dari sebelumnya hanya 700 ribu ekor. 
 
 
Salah satu komoditas utama yang diproduksi lanjut Tinggal yakni benih ikan bubara. Ikan yang telah berhasil diproduksi massal oleh BPBL Ambon ini, kapasitas produksinya berhasil ditingkatkan hingga minimal 1 juta ekor benih per tahun dari sebelumnya 500.000 ekor atau naik hingga 2 kali lipat lebih. 
 
 
Sementara itu, Walikota Ambon dalam sambutan tertulisnya menyampaikan bahwa salah satu aktivitas ekonomi yang menjadi prioritas pembangunan Kota Ambon yakni sektor perikanan disamping jasa/perdagangan dan pariwisata. Oleh karena itu menurutnya, pemerintah Kota Ambon terus berupaya meningkatkan produksi perikanan termasuk perikanan budidaya. 
 
 
“Masyarakat dan pemerintah Kota Ambon tentunya sangat bersyukur serta memberikan apresiasi yang tinggi, bahwa di hari ini, diresmikan hatchery atau unit pembenihan Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon. Ini tentu akan mendukung pengembangan perikanan di Kota Ambon yang ditetapkan sebagai salah satu lumbung ikan nasional,”ungkap asisten III Pemerintah Kota Ambon saat membacakan sambutan Walikota. TROBOS Aqua/Adv
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain