Senin, 13 Mei 2019

Pasokan Melimpah, Harga Patin Lampung Jatuh

Pasokan Melimpah, Harga Patin Lampung Jatuh

Foto: dok.datuk


Lampung (TROBOSAQUA.COM). Harga jual ikan patin di Provinsi Lampung jatuh menyusul melimpahnya pasokan, sebab banyak pembudidaya yang panen menjelang puasa dan terus berlangsung.

 

Menurut pembudidaya ikan patin H Noto, sejak awal Ramadan 1440 H, permintaan pasar terhadap ikan patin pun cenderung turun. Penyebabnya, selama puasa, banyak rumah makan yang tutup.

 

Sebaliknya produksi melonjak karena pembudidaya buru-buru memanen patinnya untuk memperoleh dana guna memenuhi kebutuhan bulan puasa dan Lebaran.

 

“Jadi jatuhnya harga jual patin disebabkan tidak seimbangnya antara pasokan dengan permintaan. Di saat permintaan pasar cenderung turun, pembudidaya malah pada panen semua. Saya sendiri dari 170 ton patin yang siap panen, baru dipanen 40 ton,” ujar pembudidaya yang tinggal di desa Putra Buyut, kecamatan Gunung Sugih, kabupaten Lampung Tengah, provinsi Lampung, Kamis (9/5) siang.

 

Akibatnya, lanjut Pak Haji—panggilan akrabnya, harga jual patin di kolam jatuh, dari sebelumnya Rp 16.500/kg menjadi Rp 15.500/kg. Sementara harga ikan patin di pasar lokal tak banyak berubah yakni berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 27 ribu/kg. Ia memperkirakan harga jual ikan patin di kolam bakal terus turun hingga usai lebaran.

 

Dengan turunnya harga jual, Pak Haji mengakui, jelas mengerus keuntungan pembudidaya. Apalagi pembudidaya yang sepenuhnya bergantung kepada pakan pabrikan. “Kalau saya lebih banyak menggunakan pakan buatan sendiri guna menekan biaya produksi,” sambungnya.

 

Dengan harga jual Rp 15.500/kg, ia masih tetap untung karena lebih banyak menggunakan pakan buatan sendiri. Tapi bagi pembudidaya yang sepenuhnya menggunakan pakan pabrik maka kuntungannya sudah menipis.  

 

Haji Noto mengakui, produksi patin di Lampung sudah mampu memenuhi kebutuhan warganya. “Jika produksi naik lagi, pembudidaya semakin susah menjualnya. Mau dikirim ke Palembang, di sana juga patin sudah banjir dari Belitang, kabupaten Ogan Komering Timur (OKU) Timur. Lalu harganya juga murah sehingga tidak menutupi biaya transportasi,” sambungnya.

 

Menurut dia, jika ikan patin mau dibesarkan lagi untuk dijual ke cold storage harganya juga tidak menguntungkan. Harga yang ditetapkan cold storage hanya Rp 14.500/kg.

 

“Itu pun kita harus teken kontrak dulu, baru bisa kirim ke cold storage. Sementara biaya produksi untuk patin fillet lebih mahal karena kepadatan tebar harus diturunkan dari 15 ekor/meter kubik menjadi 10 ekor/meter kubik,

 

Lalu masa pemeliharaan lebih lama sehingga biaya pakan lebih besar. Jika untuk patin konsumsi hanya dibutuhkan masa pemeliharaan 5 bulan untuk memperoleh patin ukuran 0,5 kg, sementara untuk patin fillet ukurannya minimal 0,8 kg sehingga butuh masa pemeliharaan hingga 7 bulan.   

 

“Kami pembudidaya memang mengharapkan lebih banyak patin diolah menjadi fillet dan diekspor. Namun kami minta harganya lebih tinggi dari harga lokal karena jelas biaya produksinya lebih besar,” tambahnya.

 

Untuk patin fillet, Noto menyatakan, minimal sebulan sebelum panen harus full diberi pakan pabrikan agar citarasanya gurih dan dagingnya putih. Sementara harga pakan pabrikan lebih mahal dua kali lipat paka buatan sendiri. datuk

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain