Senin, 13 Mei 2019

Budidaya Nila Sistem Bioflok Lebih Efisien

Budidaya Nila Sistem Bioflok Lebih Efisien

Foto: dok.DJPB-KKP


Jakarta (TROBOSAQUA.COM). Budidaya ikan nila sistem bioflok mampu meningkatkan survival rate (sintasan) hingga 90%, menekan konversi pakan dari 1,5 menjadi 1,05 dan meningkatkan kepadatan hingga 10 kali lipat.

 

Nilai konversi pakan atau feed conversion ratio (FCR) mampu mencapai 1,05 artinya untuk menghasilkan 1 kg ikan nila hanya dibutuhkan 1,05 kg pakan, atau mampu menghemat 30% penggunaan pakan. Kepadatan tebar juga meningkat tajam, yakni sebanyak 100 ekor/m3 atau 10 kali lipat dibandingkan dengan sistem konvensional hanya 10 ekor/m3.

 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengungkapkan hal tersebut  di Jakarta, Kamis (9/5). Dengan keberhasilan ini, Slamet meyakini bahwa pengembangan budidaya nila sistem bioflok merupakan salah satu terobosan untuk meningkatan produksi nila untuk meningkatkan pendapatan pembudidaya secara signifikan, namun tetap mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan.

 

“Teknologi ini terbukti efektif dan efisien dalam penggunaan sumberdaya air dan lahan serta adaptif terhadap perubahan iklim. Sedangkan ikan nila sendiri merupakan salah satu komoditas air tawar yang potensial untuk dikembangkan karena tahan terhadap perubahan lingkungan, pertumbuhannya cepat serta lebih resisten terhadap penyakit. Jadi ini memang kombinasi yang sangat tepat,” ujar Slamet.

 

Dijelaskannya, nila semakin diminati masyarakat sehingga permintaan pasar meningkat tinggi. Selain untuk konsumsi lokal juga merupakan komoditas ekspor terutama ke Amerika Serikat dalam bentuk fillet.

 

Slamet juga menjelaskan bahwa penguasaan teknologi budidaya nila bioflok kini terus diperluas di berbagai daerah melalui unit pelaksana teknis (UPT) perikanan budidaya.

 

“Teknologi bioflok di masyarakat akan terus dikawal UPT-UPT dan para penyuluh agar tidak keliru menerapkannya. Harus diterapkan secara benar sesuai kaidah-kaidah cara budidaya ikan yang baik seperti penggunaan benih unggul, pakan sesuai SNI, serta monitoring kualitas air budidaya,” pesannya.

 

Slamet menjelaskan, perkembangan produksi ikan nila secara nasional cukup menggembirakan karena terus mengalami peningkatan, produksi tahun 2016 sebesar 1.114.156 ton, sedangkan tahun 2017 meningkat menjadi 1.265.201 ton. Produksi hingga triwulan III tahun 2018 tercatat 579.688 ton.

 

Sentra budidaya ikan nila di Indonesia diantranya Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sulawesi Utara dan Sumatera Utara, dimana secara berurutan pada tahun 2017 produksinya yakni 344.583,06 ton; 160.594,19 ton; 114.391,16 ton; 91.571,39 ton; dan 51.228,37 ton. meilaka

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain