Kamis, 9 Mei 2019

Restocking Bandeng dan Rajungan di Natuna

Restocking Bandeng dan Rajungan di Natuna

Foto: dok.DJPB-KKP


Natuna (TROBOSAQUA.COM). Sebanyak 4.000 ekor benih ikan bandeng (nener) dan 2.000 ekor benih rajungan direstocking di perairan Natuna pada Minggu (4/5).

 

Rajungan merupakan jenis komoditas laut yang terus mendapat tekanan eksploitasi akibat penangkapan di alam. Sedangkan bandeng banyak ditangkap dari alam untuk kebutuhan indukan maupun benih.

 

Restocking nener bandeng berlokasi di pantai Sahi oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Dia menyatakan restocking nener bandeng diharapkan akan meningkatkan jumlah stocknya di alam. Mengingat ikan bandeng merupakan komoditas yang digandrungi masyarakat sehingga perlu dijaga kelestariannya agar tidak over eksploitasi.

 

Pada kesempatan itu, Menteri Susi mengajak semua pihak untuk peduli terhadap kelestarian dan keberlanjutan sumber daya alam laut Indonesia, termasuk berbagai komoditas ikan laut yang makin menurun stocknya.

 

“Saya mengajak kepada aparat penegak hukum terkait untuk terus bekerja keras melindungi dan menyelamatkan sumber daya alam laut kita dari oknum-oknum masyarakat yang tidak bertanggung jawab, lebih khusus perdagangan ilegal spesies dilindungi," pungkasnya.

 

Restocking 2.000 ekor benih rajungan dilakukan oleh Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, Toha Tusihadi pada Senin (5/5).

 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto di Jakarta pada Senin (6/5), menerangkan Kepulauan Natuna merupakan kawasan yang strategis, sehingga kelestarian sumber daya ikan yang ada di sana harus dipertahankan.

 

Oleh karenanya, sebagai unsur teknis, dikatakannya, Ditjen Perikanan Budidaya memiliki tanggungjawab untuk menjamin agar jenis-jenis ikan asli dan terancam eksistensinya agar tetap terjaga keseimbangan stoknya. Caranya dengan inovasi teknologi pembenihan ikan dan spesies dimaksud.

 

"Perikanan budidaya ini fungsinya sebagai buffer stock. Artinya keseimbangan stok SDI di alam akan banyak bergantung pada peran perekayasaan di bidang perikanan budidaya. Jadi intinya, perikanan budidaya punya peran ganda yakni sebagai buffer stock di alam dan untuk pemenuhan kepentingan ekonomi dan pangan. Saya intruksikan ke semua UPT, agar restocking ini jadi bagian program prioritas", tutur Slamet.

 

Khusus restocking rajungan, Slamet mengatakan bahwa komoditas ini hingga kini menjadi salah satu jenis yang terus mendapatkan tekanan kuat akibat eksploitasi yang berlebih. Menurutnya permintaan pasar yang besar dan harga yang menggiurkan memicu tingginya penangkapan di alam.

 

Namun demikian, sambung Slamet, upaya perekayasaan yang dilakukan oleh UPT Ditjen Perikanan Budidaya KKP telah berhasil membenihkan rajungan secara massal. Produksi benih rajungan melalui rekayasa ini diharapkan mempercepat pemulihan stok di alam.

 

"Rajungan ini komoditas yang nilai ekonominya tinggi. Disatu sisi permintaan hampir semuanya tergantung dari alam. Nah, ini yang perlu kita selamatkan agar tidak terjadi depleting stock di alam. Oleh karenanya, KKP konsisten melakukan restocking sebagai agenda rutin,” tutur Slamet

 

Pembenihan rajungan dilakukan oleh BBPBAP Jepara sebagian besar arahkan untuk restocking, sisanya untuk kepentingan budidaya. Sehingga budidaya pembesaran rajungan kelak tidak lagi mengambil dari alam, tetapi mengambil benih hasil budidaya.

 

Slamet berharap kedepannya restocking atau penebaran benih ke alam bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi perlu kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk melakukan restocking secara mandiri.

 

"Saya akan mengeluarkan surat edaran berisi ajakan agar para pembudidaya khususnya pelaku pembenihan bersedia menyisihkan minimal 2% dari benih yang dihasilkannya untuk dirilis ke alam atau perairan umum. Agar bisa memperkaya kembali plasma nutfah di Indonesia," pungkas Slamet. ist/meilaka

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain