Minggu, 28 April 2019

Membedah Cara Budidaya Cacing Sutera

Membedah Cara Budidaya Cacing Sutera

Foto: dok.DJPB-KKP


Jakarta (TROBOSAQUA.COM). Produksi cacing sutera untuk mendukung produksi benih ikan air tawar, bisa dilakukan sebagai usaha pokok maupun sampingan.

 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, di Jakarta, Selasa (23/4) menyatakan usaha ini menguntungkan secara ekonomi karena cacing sutera dapat dijual kepadapara pembenih ikan air tawar. Sebab cacing sutera merupakan pakan alami utama bagi larva benih ikan.

 

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya berhasil berinovasi mengembangkan budidaya cacing sutera secara massal. Inovasi tersebut telah disebarkan kepada masyarakat pembudidaya ikan di seluruh Indonesia melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi, Jambi, Tatelu dan Mandiangin.

 

Tahapan Budidaya

Pembudidaya cacing sutera di Bogor yang juga Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Pintu Air, Umar Hasan menyebutkan tahapan budidaya cacing sutera cukup sederhana, terdiri dari persiapan wadah dan media, kemudian penebaran benih, pemberian pakan hingga pemanenan biomassa.

 

Umar melakukan budidaya cacing sutera dengan menggunakan 96 wadah nampan (tray) yang diletkkan di atas rak tersusun secara vertikal.

 

Wadah tersebut dipasang pelindung berupa paranet atau plastik UV yang berfungsi menjaga kestabilan suhu, masuknya air hujan serta menjaga agar partikel lainnya (sampah atau kotoran) tidak masuk ke dalam media.

 

Kemudian, pemupukan dasar media dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu pemupukan langsung dan pemupukan fermentasi. Pemumpukan dengan cara langsung dilakukan dengan mencampur kotoran hewan (ayam, kambing atau sapi) sebanyak 100 – 250 gr/m2 dan dedak 200 – 250 gr/m2 ke dalam media. Sedangkan pemupukan fermentasi, dilakukan dengan pemberian tambahan probiotik 100 ml/m2 dan molase sebanyak 10% dari jumlah bahan pemupukan.

 

“Setelah itu, media didiamkan selama 3 – 4 hari dan dilanjutkan dengan penebaran benih cacing sutera dengan kepadatan 1 liter per meter persegi,” jelas Umar.

 

Kegiatan pemberian pakan perlu dilakukan sebagai asupan makanan untuk pertumbuhan cacing sutera dengan cara menaburkan pakan secara langsung. Pakan cacing sutera dapat berupa dedak, sayuran yang telah dimasak atau sisa olahan dapur.

 

“Setelah masa budidaya selama 2 minggu, cacing sutera dapat dipanen dengan menggunakan serok dengan bahan yang halus atau lembut,” tuturnya.

 

Menurut Umar, budidaya cacing sutera yang dilakukannya membutuhkan investasi Rp 4,5 juta yang digunakan untuk pembuatan rak kayu, terpal untuk kolam penampung air, serta pembuatan media budidaya. Prasarana budidaya ini mampu bertahan selama 2,5 (dua) tahun, dengan penyusutan Rp 150 ribu per bulan. Sedangkan biaya operasional sebesar Rp 200 ribu untuk benih dan pakan per dua minggu atau Rp 400 ribu per bulan.

 

Selama periode budidaya 1 bulan, dia membutuhkan modal tambahan Rp 720 ribu. Setiap periode rata-rata dapat memanen 96 liter cacing sutera, jika harganya Rp 15 ribu per liter maka Umar hasil penenannya setara Rp 1,4 juta per bulan.

 

Keuntungan bersih perbulan sebesar Rp 890 ribu dengan nilai R/C ratio (revenue per cost ratio) sebesar 2, artinya usaha sangat menguntungkan.

 

“Semakin banyak nampan yang digunakan semakin banyak produksi cacing sutera yang ingin dicapai pun bisa semakin meningkat,” ungkapnya.

 

Budidaya cacing sutera yang dilakukan Umar dengan metode ini tidak membutuhkan lahan yang luas karena media disusun secara vertikal sehingga memungkinkan untuk dilakukan di lahan sempit dan di sekitar rumah.

 

Cacing sutera sebagai pakan alami untuk mendukung pembenihan ikan air tawar memiliki banyak keunggulan. Kandungan nutrisi tinggi, mudah dan murah untuk dibudidayakan di lahan yang berbatas serta masa reproduksi yang terbilang cepat. Ketersediaan cacing sutera merupakan kunci keberhasilan untuk peningkatan produksi benih ikan air tawar nasional. ist/meilaka

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain