Senin, 15 April 2019

Achmad Poernomo: Perikanan, SDG, dan Pilpres 2019

Achmad Poernomo: Perikanan, SDG, dan Pilpres 2019

Foto: trobos
Achmad Poernomo

Sustainable Development Goals (SDG) merupakan arah pembangunan 15 tahun ke depan yang disepakati oleh 193 pemimpin dunia pada sidang PBB September 2015. SDG diberlakukan mulai 1 Januari 2016, dan disusun sebagai kelanjutan dari Millenium Development Goals (MDG) dengan lebih fokus kepada pengentasan kemiskinan, pengurangan ketidaksetaraan, dan perlindungan planet (bumi). 
 
 
Terdapat 17 Goal, 169 Target dan 241 Indikator dalam SDG, sedangkan  laut dan perikanan dimasukkan ke dalam goal ke 14 (SDG 14: Kehidupan di Bawah Air) dengan 10 target dan 10 indikator. Goal ke 14 dari SDG adalah Pelestarian & Pemanfaatan Berkelanjutan Ekosistem Laut (to conserve and sustainably use the oceans, seas and marine resources for the sustainable development). 
 
 
Di Indonesia, SDG dilaksanakan melalui Peraturan Presiden (Perpres) nomor 59 tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian TPB, dikoordinasikan oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas. Perikanan di Indonesia telah memegang peranan penting di dalam berbagai sektor kehidupan. Peran penting tersebut utamanya adalah ketahanan pangan, mata pencaharian dan devisa ekspor. 
 
 
 
Peran Perikanan
Sebagai bahan pangan, ikan terbukti memberikan sumbangan yang tidak kecil dari sisi kuantitas maupun manfaatnya. Tingkat konsumi ikan secara nasional pada tahun lalu berada pada kisaran 50 kg/kap/tahun. Angka ini sudah hampir sebanding bahkan melebihi angka konsumsi di negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand.
 
 
Sumber protein kita umumnya berasal dari daging, ikan dan telur (hewani) serta kacang-kacangan, khususnya kedele (nabati). Data Susenas menunjukkan bahwa secara konsisten ikan merupakan penyumbang protein utama bagi penduduk Indonesia, berkisar antara 43 – 47 %. Sedangkan bila dihitung terhadap protein hewani, maka kontribusi ikan sebesar 54 - 60 %. 
 
 
Kandungan nilai gizi ikan (terutama protein dan asam lemak omega 3) telah diakui oleh para ahli di dunia. Berbagai  studi menunjukkan bahwa kecerdasan anak semakin tinggi bila ibunya banyak mengonsumsi ikan selama masa kehamilan. Selain itu kita telah sering mendengar bahwa pada bangsa yang banyak mengonsumsi ikan (Jepang, Eskimo) prevalensi terhadap hipertensi dan penyakit jantung relatif rendah. Ikan adalah makanan yang sehat dan menyehatkan.
 
 
Perikanan sebagai salah satu hasil laut, telah menjadi tumpuan kehidupan masyarakat pesisir selama berabad-abad. Pada tahun 2018 diperkirakan sekitar 12  juta orang terlibat dalam perikanan (tangkap, budidaya, pengolah dan pemasar). Dengan asumsi satu tenaga kerja menanggung 2 jiwa, maka lebih dari 36 juta jiwa bergantung pada perikanan atau sekitar 15 % dari jumlah penduduk. Produksi perikanan (tangkap dan budidaya) pada tahun 2018 diperkirakan mencapai 12 juta ton ikan (tidak termasuk rumput laut), sedangkan sebagai sumber devisa, ekspor perikanan tahun lalu diklaim sekitar USD 5 miliar.
 
 
Melihat angka-angka di atas, maka di dalam mencapai SDG 14, pelestarian dan pemanfaatan ekosistem laut harus memperhatikan sisi sosial-ekonomi pemangku kepentingan perikanan. Dengan kata lain, peran ekosistem laut sebagai penopang ketahanan pangan, mata pecaharian dan sumber devisa harus tetap dipertahankan tanpa mengorbankan kelestariannya. 
 
 
Atau sebaliknya, memperhatikan kelestarian tidak bisa serta merta mengorbankan kepentingan pemangku kepentingan, utamanya mereka yang penghidupannya bergantung pada perikanan. Hanya dengan mempertahankan peran penting tersebut-lah maka cita-cita Laut Sebagai Masa Depan Bangsa dapat dicapai. 
 
 
 
Arah Kebijakan
Kebijakan yang diambil Pemerintah saat ini mencakup tiga pilar yaitu Kedaulatan, Keberlanjutan dan Kesejahteraan. Tidak ada yang salah dengan kebijakan ini, namun keseimbangan di antara ketiganya, terutama yang kedua dan ketiga harus dijaga agar tidak saling bertabrakan. 
 
 
Pengaturan keseimbangan ini seharusnya bernuansa pada dua dimensi yaitu (1) Meningkatkan dan mempertahankan kualitas daya dukung dan kelestarian fungsi lingkungan laut; serta (2) Meningkatkan harkat hidup nelayan dan masyarakat pesisir. 
 
 
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa laut dan pesisir merupakan ekosistem yang multifungsi sekaligus multisektor dalam pengelolaannya. Maka prinsip-prinsip yang dipilih dalam SDG merupakan prinsip yang harus juga diterapkan dalam pengelolaan laut dan pesisir di Indonesia. SDG mengamanahkan 5 prinsip dalam pelaksanaannya, tiga di antaranya sangat relevan untuk disampaikan di sini yaitu terintegrasi dan saling terkait pada semua dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan; tidak mengabaikan satu pihak-pun (harus bermanfaat bagi semua) dan kemitraan multi sektor.  
 
 
Pengelolaan laut dan pesisir di Indonesia sampai saat ini masih egosektoral, tidak terintegrasi dan lemah koordinasi. Akibatnya, pemangku kepentingan yang rentan yaitu para nelayan (dan pembudidaya kecil) serta masyarakat pesisir sering menjadi korban dan secara terpaksa harus tersingkir dari penghidupan yang telah digeluti selama puluhan tahun karena ketidakberdayaan. 
 
 
Hal ini masih diperparah dengan dampak perubahan iklim yang telah muncul di berbagai tempat dengan tingkat kegawatan yang bervariasi. Ketika tulisan ini diturunkan, hasil Pemilihan Presiden 2019 belum diketahui. Namun siapapun pemenang Pilpres 2019, kepadanya keberpihakan dan komitmen terhadap kelompok yang rentan ini harus ditagihkan, seraya menyelamatkan ekosisitem laut dan pesisir untuk generasi yang akan datang. 
 
 
 
*Pakar Perikanan
Dosen Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain