Senin, 15 April 2019

Pasar Lele Lesu Terapkan Efisiensi

Pasar Lele Lesu Terapkan Efisiensi

Foto: meilaka
Kolam lele

Mau tidak mau pembudidaya pun mengakali sistem budidaya mereka agar lebih efisien dan menekan biaya produksi
 
 
 
Tampak barisan kolam berjejer rapi sekian meter dari bahu jalan raya Eretan Wetan, Kandanghaur, Kabupaten Indramayu-Jawa Barat (Jabar). Mentari terik siang itu menambah elok lekuk kolam yang ternyata kolam lele di kota Mangga ini. 
 
 
Sajian ini seakan menggambarkan ramainya usaha budidaya lele di Indramayu sebagai pemanis di kantong  para pelaku usaha lele. Seperti tak lekang oleh waktu, jika diamati dari tahun ke tahun bisnis ini di Indramayu tetap menjadi primadona bahkan semakin masif perkembangannya baik dari sisi hulu maupun hilir. 
Berbicara mengenai dunia bisnis si kumis di kota Mangga, kurang afdol rasanya jika tidak mengintip perkembangannya di bagian hulu. Dan di sisi inilah, kerap kali pembudidaya masih menemukan berbagai tantangan di tengah-tengah masifnya perkembangan lele di Indonesia. 
 
 
Masih banyak yang merasakan sulitnya menghubungkan antara hulu ke hilir, atau bagian sederhananya antara hulu ke pemasarannya. Apalagi bagi pembudidaya yang menjalankan usaha di segmen pembesaran. “Tantangan budidaya lele saat ini itu di pasarnya, kalau pasar sepi berarti ikan banyak artinya ada penumpukan di sini, jadi putaran panen lama,” jelas H Syaiful salah seorang pembudidaya lele di wilayah Eretan Wetan, Kandanghaur, Kabupaten Indramayu. 
 
 
Hal ini diamini Sunardi, penanggung jawab kolam Syaiful. Sunardi mengatakan, dari Februari serapan pasar lele sedang mengalami kelesuan yang diprediksi berlanjut sampai menjelang puasa. “Turunnya ke pendapatan kira-kira bisa sampai 50 %,” aku Sunardi.
 
 
Sepinya pasar ini pun ditengarai karena semakin banyak bermunculan pembudidaya lele baru di Indonesia. Sehingga, produksi tinggi sementara serapan pasarnya kurang. “Serapannya lagi lesu soalnya dari daerah lain banyak yang masuk, dari Parung masuk dari Jawa (daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur) juga mulai masuk,” beber Sunardi.
 
 
 
Efisiensi Budidaya
Dengan putaran panen yang lama dan lesunya pasar, ditakutkan akan ada penambahan modal. Makanya, sebut Syaiful yang terjun ke bidang usaha ini dari 2003, harus ada efisiensi produksi untuk menekan modal.
 
 
Pengalaman dan pembelajaran selama bertahun-tahun menggeluti lele pun memberikan ilmu terapan berarti. Salah satu caranya, terang pembudidaya yang saat ini sudah memiliki hingga 100 kolam lele ini, yaitu melalui pengaturan teknis budidaya. Yakni, secara klasik melalui efisiensi pakan dengan pengaturan pola pemberian makan ikan.
 
 
Dalam manajemen pakan untuk menekan biaya produksi, gamblang Syaiful, ia menggunakan jenis pakan campur; yaitu pelet dan ikan rucah.  Dengan jumlah kolamnya saat ini yang mencapai 100 kolam, pemberian pakan dilakukan kurang lebih 2 - 3 kali sehari dan sekali pemberian pakan untuk satu kolamnya bisa menghabiskan 60 kg. Rasio konversi pakannya (FCR) di kisaran 1.
 
 
“Pemberian pelet mulai dari benih umur 10 hari,” imbuh  Sunardi. Akan tetapi semua itu kembali tergantung pada kondisi ketersediaan ikan.  “Kalau ikan lagi banyak hanya dua kali, pagi dan siang sedangkan kalau lagi kosong tiga kali, pagi sore malam,” ujar Sunardi. Nutrisi tambahan untuk lele, jelas Sunardi, yaitu menggunakan probiotik dan juga vitamin C. 
 
 
Tidak hanya manajemen pakan, Sunardi menambahkan manajemen kualitas air juga berperan erat untuk keberhasilan budidaya. Khususnya pada kolam bertipe tradisional atau kolam tanah yang dikelola Sunardi. Untuk menjaga kualitas air ini, ucap Sunardi, digunakan probiotik pada media sebelum penebaran benih dilakukan. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-83/15 April – 14 Mei 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain