Senin, 15 April 2019

Mengukur Kualitas Benur

Mengukur Kualitas Benur

Foto: ramdan


Peningkatan kualitas indukan dan benur udang terus dilakukan dengan berbagai cara, termasuk penyebarannya perlu diperketat guna meminimalisir ancaman penyakit
 
 
 
Dalam proses budidaya udang, benur yang berkualitas memegang peranan yang sangat penting. Benur merupakan sebutan untuk benih udang, baik itu udang vannamei, windu (tiger prawn), margeunsis (jerbung), dan lain-lainnya. Dalam budidayanya, semua dimulai dari unit pembenihan, perawatan larva dan pemeliharaan induk udang atau yang umum dikenal dikalangan pembudidaya sebagai hathcery. 
 
 
Hatchery berfungsi memproduksi benur berkualitas dan juga berperan sebagai proteksi masuknya suatu penyakit ke dalam negara yang melakukan budidaya udang. Lantas, bagaimana kondisi benur di dalam negeri dan apa upaya pelaku usaha hatchery lakukan untuk menghasilkan benur berkualitas?
 
 
Ditemui dalam kegiatan sarasehan Shrimp Club Indonesia (SCI) chapter Jawa Barat (Jabar) dan Banten, Suryana selaku Head Office hatchery udang PT Suri Tani Pemuka wilayah Indramayu, Jabar menyampaikan gambaran kondisi produksi benur dalam negeri. Menurut Suryana, perkembangan benur di dalam negeri sangatlah pesat, dimana dulu kala banyak yang coba-coba membenihkan sediri, namun didapati hasilnya kurang memuaskan karena waktu pemeliharaannya yang lebih lama, dan kualitas benur yang mudah terserang penyakit. 
 
 
Lalu, katanya, sejak masuknya udang vannamei ke Indonesia, perkembangan usaha pembenihan udang kini lebih baik. Hal ini karena beberapa perusahaan besar mulai berkontribusi ke arah sana, mendatangkan indukan dengan kualitas baik, dan juga menghasilkan benur yang baik. 
 
 
 
Sumber Indukan
Menurut Suryana, hingga saat ini, perkembangan produksi benur semakin pesat dibandingkan dahulu pada saat ada yang mencoba-coba membenihkan sendiri. Sejak masuknya vannamei ke Indonesia, ini dapat dilihat dari produsen-produsen benur yang berlomba-lomba untuk menghasilkan benur dengan kualitas terbaik. “Kita terus melakukan perbaikan-perbaikan (improvement), baik dari sisi daya tahan, pertumbuhan cepat, dan lain-lain,” ungkap Suryana di sela-sela  acara tersebut kepada TROBOS Aqua. 
 
 
Ia menjelaskan, dalam melakukan peningkatan kualitas benur ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, sumber indukan yang berkualitas dimana bukan hanya dilihat dari kenampakan fisik induk vannamei yang bagus dan proposional saja, namun perlu juga dilihat dari kesehatannya genetiknya, sehingga benar-benar dipastikan sehat dan bebas dari penyakit. 
 
 
Senada dengan Suryana, Farshad Shishehchian selaku Chief Executive Officer Blue Aqua Internasional (produsen induk udang vannamei) ikut angkat bicara mengenai pentingnya induk udang vannamei yang sehat. Dalam mengadakan induk atau calon induk perlu disertai adanya surat keterangan bahwa induk atau calon induk tersebut bebas dari berbagai macam penyakit.
 
 
Hal ini karena dengan demikian benur yang dihasilkan nantinya juga akan bebas dari penyakit yang kini banyak dikenal dengan istilah Specific Pathogen Free (SPF). “Kami mendatangkan calon induk dari Hawai yang merupakan hasil dari penelitian Ocean Institute, Amerika Serikat (AS). Mereka melakukan pengembangan indukan dengan perkawinan-perkawinan silang induk vannamei yang berasal dari Hawai, Sehingga didapati vannamei yang mempunyai pertumbuhan baik,” terang Farshad.
 
 
Bicara mengenai induk udang vannamei, Ricky Liduan Kho, yang namanya sudah tidak asing lagi sebagai petambak udang kawakan dari daerah Medan mengungkapkan, saat ini kita masih ketergantungan dengan induk vannamei asal Hawai. Kemudian, hingga saat ini hanya ada satu perusahaan di sana yang menjadi penyuplai tunggal indukan ke Indonesia.
 
 
Jadi, lanjut Ricky, apabila kini ada perusahaan lain yang mencoba mendatangkan induk vannamei, haruslah benar-benar jelas asal usulnya. “Tidak hanya benur yang memerlukan uji polymerase chain reaction (PCR), namun calon induk atau indukan juga wajib dilakukan tes tersebut sehingga dinyatakan SPF,” tegas Ricky.
 
 
 
Benur Kunci
Benur yang dihasilkan hatchery, kata Ricky, merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam proses budidaya udang. Mengenai upaya peningkatan kualitas benur ia menyambut baik adanya upaya tersebut. Harapannya, bahwa hatchery harus benar-benar melakukan sampling terhadap benur yang dihasilkan, dan memperketat pengujian. 
 
 
Hal ini karena, ia sebagai petambak sangat merasakan betul apabila benur yang dihasilkan kurang baik. “Saya berharap peningkatan kualitas benur terus ditingkatkan agar petambak dalam budidaya tidak merasakan kerugian dari benur yang kurang baik,” kata Ricky.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-83/15 April – 14 Mei 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain