Selasa, 26 Maret 2019

Pembatasan Ukuran Penangkapan Kepiting Perlu Dipertegas

Pembatasan Ukuran Penangkapan Kepiting Perlu Dipertegas

Foto: dok.BKIPM-KKP


Balikpapan (TROBOSAQUA.COM). Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mempertegas kembali perlunya pembatasan penangkapan kepiting.

 

Menyusul masih maraknya percobaan penyelundupan kepiting yang tengah bertelur ke luar negeri, Susi menegaskan kembali aturan penangkapan kepiting. Dia meminta nelayan untuk mengembalikan kepiting ke habitatnya jika ada kepiting bertelur dan atau di bawah 200 gram yang tertangkap.

 

Pembatasan ukuran, kondisi, dan waktu pemanfaatan itu merupakan upaya pelestarian dengan tetap mengakomodasi pemanfaatannya oleh masyarakat. “Kelestarian dan keberlangsungan hidup kepiting di alam perlu diperhatikan. Oleh karena itu, pemanfaatanya harus dilakukan secara lestari agar bisa dimanfaatkan anak cucu kita di waktu mendatang,” ungkap Susi pada 23/3, disiarkan oleh KKP.

 

Sebagai salah satu sumber pendapatan nelayan, Menteri Susi menyayangkan masih maraknya penyelundupan kepiting bertelur yang tentu merupakan hasil penangkapan.

 

Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebutkan, upaya penggagalan penyelundupan kepiting bertelur ini sebagai salah satu implementasi penegakan Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah menjadi Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan sebagai upaya mendukung program pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan.


“Pemerintah dalam hal ini KKP bekerja sama dengan berbagai instansi terkait lainnya akan semakin gencar menindak segala bentuk penyelundupan yang bisa mengancam keberlanjutan sumber daya perikanan kita di alam,” tutur Menteri Susi.

 

Menteri Susi juga meminta partisipasi aktif masyarakat untuk ikut mengawal, mencegah, melaporkan, dan memberi informasi mengenai aktivitas penyelundupan yang terjadi di sekitar lingkungannya.

 

“Kalau kepiting bertelur diburu, anak-anak kepiting ditangkap, begitu juga dengan lobster atau rajungan, nanti habis stok di alam. Nanti beberapa tahun lagi, anak cucu kita tidak bisa lagi menikmati kepiting, lobster, maupun rajungan. Karena apa? Karena pengelolaan yang tidak berkelanjutan akibat keserakahan kita sekarang. Untuk itu kita terus sosialisasikan peraturan yang ada. Semoga tidak ada lagi yang melanggar,” tandasnya.

 

Kembali Digagalkan

Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (KIPM) Balikpapan, Kalimantan Timur berhasil menggagalkan upaya penyelundupan kepiting bertelur pada Jumat (22/3) pukul 13.10 WITA. Petugas Balai KIPM Balikpapan melakukan penangkapan terhadap sebuah mobil pick up yang mengangkut kepiting bertelur sebelum pintu masuk Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS), Sepinggan, Balikpapan.

 

Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) KKP Rina mengatakan, berdasarkan laporan petugas di lapangan, saat pemeriksaan ditemukan 30 box styrofoam berisi 2.790 ekor kepiting bertelur selundupan seberat 900 kg.

 

Berdasarkan pengakuan supir pick up, kepiting bertelur tersebut rencananya akan dibawa ke Tarakan, Kalimantan Utara dengan pesawat AURI Balikpapan. Pemilik atau pelaku diketahui seorang warga Kelurahan Manggar, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan berinisial AA.

 

Saat ini, kasus tengah didalami tim penyidik dari Balai KIPM Balikpapan. Sementara itu, barang bukti kepiting bertelur yang telah diamankan di Kantor Balai KIPM Balikpapan dilepasliarkan di perairan Bakau Kariangau, Balikpapan, Sabtu (23/3) pagi. Pelepasliaran tersebut diikuti oleh Balai KIPM Balikpapan, Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Balikpapan, dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Balikpapan.

 

Rina menyebutkan, operasi penggagalan ini merupakan bentuk pelaksanaan giat prioritas BKIPM K3, yaitu Komunikasi, Kerja sama, dan Koordinasi. Menurutnya, penggagalan ini merupakan tindak lanjut penyelidikan atas laporan masyarakat mengenai adanya pengiriman kepiting bertelur lewat bandara.

 

Penyelundupan kepiting bertelur ini telah melanggar Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) No 56/2016 tentang larangan penagkapan dan/atau pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan dari wilayah Republik Indonesia. Berdasarkan aturan tersebut, kepiting dalam keadaan bertelur dan kepiting undersize dengan ukuran di bawah 200 gram per ekor dilarang ditangkap atau diperjualbelikan. ist/ntr

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain