Jumat, 15 Maret 2019

Kolaborasi Riset Air Tawar

Kolaborasi Riset Air Tawar

Foto: dini
Magot

Beberapa hasil riset yang telah dihasilkan antara lain pakan ikan alternatif dari magot, tanaman hias air, dan smart keramba jaring apung (KJA)
 
 
 
Adakah yang termenung ketika melihat sosok ikan-ikan koi yang berlarian dalam air? Ketika ada manusia mendekati, rombongan mereka pun ikut mendekat ingin tahu. Dan ketika manusia berjalan, mereka pun ikut seakan-akan mengikuti kemana manusia pergi. Lantas, apa yang menjadikan ikan hias begitu berbeda diantara komoditas ikan hias lainnya? 
 
 
Komoditas ikan hias jika dibandingkan ikan konsumsi, tentunya akan dipandang sebelah mata. Karena peranannya terhadap perekonomian yang jauh lebih kecil, ikan ini belum dipandang sebagai ikan ekonomis penting. Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebutkan, Indonesia memiliki setidaknya 4.700 spesies ikan hias tawar dan laut, dan yang diperdagangkan tidak lebih dari 50 spesies. 
 
 
Salah satu kendalanya, terang Kepala Badan Riset dan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP Sjarief Widjaja, yakni ikan hias dilihat  sebagai komoditad hobi, bukan sebagai komoditas yang pengaruhi pangan. “Kalo bicara pangan berapa ton berapa makan sehari. Kalo hobi kan gak, bukan kebutuhan perorangan. Sehingga belum secara serius lihat nilainya. Padahal ekspor ikan hias bisa mencapai 1,1 miliar ekor atau senilai 60 juta USD setahun,  dan market share kita itu baru 7% di pasaran global ini. Makanya target kami, akan ada 100 spesies baru pada 2019 yang dapat kita kembangkan dari BRBIH,” ungkap Sjarief.
 
 
Target ini, terang Idil Ardi, Kepala Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) Depok-Jawa Barat tentu tidak main-main dan penuh semangat. Karena, menurut Idil, sebetulnya ikan hias di pasaran sudah banyak diperdagangkan, namun ikan lokal masih minimal jumlahnya dibandingkan ikan introduksi.
 
 
“Contohnya, ikan koki, tetra, platy itu introduksi. Makanya jenisnya yang dimaksud itu ikan lokal, kalau ikan introduksi udah banyak, tapi ikan lokal kita padahal harganya sangat mahal. Kalau ikan cupang introduksi Rp 10 ribu ekor, tapi yang jenis lokal Betta channoides satu pasangnya Rp 300 ribu. Adapula arwana super platinum yang dihargai hingga miliaran rupiah,” jelas Idil.
 
 
 
Magot dari Sampah Organik
Makanya, jelas Sjarief, ada mimpi besar terselip dalam pengembangan potensi ikan hias. Yakni menjadikan komoditas ikan hias sebagai salah satu pendorong pengembangan ekonomi daerah desa atau kota. Karena secara umum sebetulnya sudah banyak penelitian dan inovasi yang dilakukan, sepert komoditas ikan hiasnya, hingga tanaman hias airnya. Namun, sebagian besar sifat penelitian ini masih masing-masing. 
 
 
"Makanya kolaborasi riset antara berbagai sektor di dalam membangun inovasi teknologi penting adanya. Namun hal ini masih belum terbiasa dilakukan sehingga hasil riset masih terkesan sepenggal sepenggal dan belum begitu menggiurkan bagi kalangan industri untuk mengembangkannya,” papar Sjarief.
 
 
Dalam mewujudkan kolaborasi riset, BRSDM pun melaksanakan kerja sama dengan berbagai instansi. Bebarapa hasil riset yang telah dihasilkan oleh peneliti BRBIH dan telah dikembangkan dan dimanfaatkan oleh pengguna yang diwujudkan dalam bentuk kerja sama, antara lain hasil penelitian pakan ikan alternatif dari magot, tanaman hias air dan smart keramba jaring apung (KJA). 
 
 
Adanya berbagai kerjasama ini, Idil harapkan bisa bermanfaat untuk pengembangan ikan hias, khususnya dengan target KKP untuk pengenalan 100 spesies baru. Salah satunya kerja sama Pusat Riset Perikanan dengan PT. Biomagg Sinergi Internasional, A-Wing Group untuk pengembangan hasil riset pakan ikan alternatif dari magot dan turunannya. 
 
 
Bahkan sebagai inovasi terbaru, magot dihasil dari lalat BSF dengan memanfaatkan sampah organik dari daerah sekitar, bisa di desa ataupun kota. Melta Rini Fahmi, peneliti senior di BRBIH Depok mengungkap, pemanfaatan magot menggunakan lalat  Black Soldier Fly (BSF) yang siklus hidupnya jauh lebih singkat dibanding siklus larvanya (magot). Siklus hidup lalat BSF tidak lebih dari dua minggu, sedangkan magot fase hidupnya bisa mencapai hampir satu bulan.
 
 
Rini menerangkan, magot punya kemampuan mendegradasi material organik, dan disisi lain karena lalat BSF siklus hidupnya singkat. Berbeda dengan lalat lain yang fase hidupnya lebih panjang dan bisa menyebarkan penyakit. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-82/15 Maret – 14 April 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain