Jumat, 15 Maret 2019

Belajar EMS dari Negara Tetangga

Belajar EMS dari Negara Tetangga

Foto: ute
Hatchery udang

Umumnya serangan EMS ditemukan pada tambak yang mempunyai kepadatan tebar udang dan salinitas tinggi
 
 
 
Penyakit adalah salah satu permasalahan yang paling sering dihadapi oleh para petambak dalam negeri dikala proses budidaya udang berlangsung. Berbagai jenis penyakit dan penyebab yang ada di dalam negeri seperti, Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) atau yang lebih familiar disebut myo, kemudian White Feces Disease (WFD), White Spot (WS).
 
 
Tidak itu saja, secara global khususnya Thailand dan Vietnam sudah lebih duluan menghadapi serangan penyakit Early Mortality Syndrome (EMS) atau Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND). Penyakit ini ditengarai bisa sangat merugikan pada petambak. Meskipun sejauh ini di Indonesia belum ditemukan serangan penyakit.
 
 
“Penyakit ini bisa mematikan udang dalam waktu singkat, dan tidak terprediksi sebelumnya. Bisa dalam hitungan jam dan terjadi kematian massal,” ungkap Arfindee Abru selaku Regional Technical Support Inve Aquaculture Thailand, pada saat menjadi pemateri dalam acara bertemakan Waspada EMS dan AHPND yang digelar di Surabaya-Jawa Timur beberapa waktu lalu. 
 
 
 
Masuknya EMS/AHPND 
Menurut Arfindee, EMS dan AHPND itu tidak sama, EMS merupakan gejala penyakit. Sesuai dengan kepanjangannya EMS berarti kematian yang terjadi di awal, maka penyakit apapun yang terjadi di fase awal budidaya digolongkan EMS. Pada saat terjadi kematian massal pertama kali di Thailand, pemerintah langsung mengambil sampel yang di lapangan dan dibawa ke laboratorium, kemudian hasilnya didapati lebih dari 50 % itu serangan WS bukan AHPND. 
 
 
Sejarah dan masuknya EMS dan AHPND, kata Arfindee, di Thailand berawal pada 2009 di China. Kemudian masuk ke Vietnam pada 2010, dan masuk di Thailand pada 2011 di wilayah Chanthaburi. Selanjutnya, pada 2012 seluruh wilayah budidaya udang di Thailand terkena penyakit. 
 
 
“Perkiraan pada 2011 produksi udang Thailand mencapai 600 ribu ton, 2012 produksi menurun menjadi sekitar 400 ribuan ton, dan akhirnya menurun drastis pada 2013 menjadi 200 ribu lebih ton. Kondisi terkini produksi udang Thailand pada 2018 sekitar 300 ribu ton,” terang Arfindee yang juga fasih berbahasa Indonesia. 
 
 
Memaparkan perkembangan masuknya EMS di Negara Vietnam, Nguyen Ngoc Binh menjelaskan, ini merupakan masalah yang dihadapi di dunia dan juga Vietnam. “Pada 2009 kita mendapat laporan tentang adanya serangan EMS di Vietnam. Dimana pada saat itu terjadi kematian di fase awal, akan tetapi tidak satupun yang mengetahui penyebab dan jenis penyakit ini. Laporan pertama terjadi pada 2009. Kemudian pada 2010 semua orang mulai ramai membicarakan EMS,” terang perwakilan Kemin Aquascience Vietnam ini. 
 
 
Binh melanjutkan, pada 2011 pun dilakukan penelitian sehingga didapati profil histopatologi dari EMS. Kemudian pada 2014 banyak perusahaan di Vietnam mengembangan obat untuk membunuh sumber penyakit dengan antibiotik. Mulai sejak itu banyaknya penggunaan antibiotik dalam melakukan pencegahan serta penanganan EMS di kalangan petambak. 
 
 
Selanjutnya, pada 2016 mulai ada pergerakan menerapkan sistem nursery (pendederan) pada tambak, dengan tujuan agar meminimalisir penggunaan antibiotik serta menekan penyakit. Dengan penggunaan sistem nursery dirasa memberikan manfaat, maka pada 2017 banyak yang menerapkan sistem ini dan dengan demikian serangan EMS menurun. 
 
 
 
Penyebab 
Dengan adanya penelitian mendalam ini, Arfindee menjelaskan tentang penyebab penyakit ini. “Setelah dilakukan penelitian dari serangan AHPND, penyebab utamanya ada bakteri Vibrio parahaemolyticus yang menyerang di hepatopankreas udang. Lebih berbahayanya lagi bahwa Vibrio ini bisa menularkan toxic gen ke Vibrio lainnya, sehingga bisa menyerang udang,” papar Arfindee. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-82/15 Maret – 14 April 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain