Jumat, 15 Maret 2019

Siapa Peduli Nelayan?

Siapa Peduli Nelayan?

Foto: dini


Untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan tradisional dibutuhkan integrasi yang luas diantara semua pemangku kepentingan
 
 
 
Produksi perikanan nasional, dilaporkan meningkat setiap tahunnya. Laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat produksi perikanan triwulan III 2017 tumbuh 8,51 % dengan jumlah 6.124.522 ton. Kemudian pada 2018, produksi perikanan meningkat 1,93 % dengan total produksi perikanan mencapai 6.242.846 ton. Dalam data ini, pada 2018, produksi perikanan tangkap mengalami peningkatan terutama dari perikanan laut berjumlah 4.954.822 ton. Angka ini meningkat 4,19 % jika dibandingkan 2017 yang mencapai 4.755.138 ton.
 
 
M Zulficar Mochtar, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap mengungkapkan, berdasarkan pengkajian stok sumber daya ikan oleh Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumber Daya Ikan (Kajiskan), pada 2013 potensi perikanan Indonesia tercatat sebesar 7,31 juta ton. “Lalu pada 2015 meningkat menjadi 9,93 juta ton, dan pada 2016 meningkat kembali menjadi 12,5 juta ton,” ungkapnya dalam suatu acara forum bisnis di Jakarta beberapa waktu lalu. 
 
 
Alhasil, pemerintah pun mengklaim Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) Perikanan terus menunjukkan pertumbuhan positif hingga 2018. Dalam laporan KKP, pada triwulan III 2018, nilai PDB Perikanan mencapai Rp 59.984,3 triliun. Angka tersebut meningkat 3,71 % jika dibandingkan PDB Perikanan pada 2017 dalam periode yang sama yang hanya mencapai Rp 57.838,0 triliun. 
 
 
 
Tantangan Cuaca
Hal ini tentunya sangat membanggakan dan bisa mendorong semangat pelaku usaha kelautan dan perikanan, khususnya perikanan tangkap untuk terus berproduksi. Menurut Zulficar, stok ikan yang semakin banyak dengan ukuran yang semakin besar buah dari perang melawan illegal, unreported, and unregulated fishing (IUUF). Makanya, hal ini harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat. 
 
 
Namun, adakalanya dengan megahnya suatu peraturan, atau dengan konsep perikanan yang rapi belum tentu sama dengan realitas di lapangan, yakni kenyataan di akar rumput (grass root). Di beberapa kawasan penangkapan ikan, nelayan mengungkapkan, hari ini sungguh berbeda dengan dua puluh tahun lalu. Wilayah penangkapan ikannya sudah semakin menjauh. Penyebabnya, sederhana. “Masyarakat semakin banyak, yang  nangkap ikan makin banyak. Kita pun menangkap ikan jadi lebih jauh,” terang Anasrun, nelayan pancing asal Kabupaten Anambas-Kepulauan Riau (Kepri).
 
 
Karena faktor pendukung operasi penangkapan ikan, tidak hanya bergantung pada satu dua faktor. Menurut Amriansyah Amir Kasi Kemitraan Usaha dan Iptek Nelayan Kecil, Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan; faktor cuaca, musim penangkapan ikan, hingga faktor lingkungan juga turut mempengaruhi. 
 
 
“Kadang gelombang teduh menurunkan pendapatan nelayan. Pada Maret-Mei, itu kan di sini sebutnya musim timur yang cenderung teduh, karena angin terhalang Kalimantan. Musim utara angin kencang  karena laut luas dari Vietnam sehingga gelombang tinggi. Tapi ikan banyak, seperti tenggiri, yakni di September-Oktober, puncaknya sampai November-Desember,” terang pria yang akrab disapa Amri ini. Musim paceklik bagi nelayan, terang Amri justru datang pas musim teduh atau musim selatan sekitar Agustus-September. Gelombang tinggi, tapi ikan juga jarang didapat. 
 
 
Hal ini pun diamini Arief Febrianto, Kadip Litbang Kabupaten Bangka Selatan (Basel)-Bangka Belitung. Dia mengungkapkan, ada kalanya produksi tangkapan ikan nelayan menurun ada kalanya mencapai puncak karena perikanan Indonesia yang tergantung musim. 
 
 
Selain itu, perubahan lingkungan juga turut mempengaruhi. Arief mencontohkan, di wilayah penangkapan Basel, untuk produksi cumi-cumi, nelayan mengeluhkan daerah tangkapan yang berkompetisi dengan pemanfaatan lainnya, seperti penambangan timah di laut. Sehingga nelayan pun harus menangkap ikan lebih jauh karena komoditas cumi-cumi pun menjauhi habitat lamanya. 
 
 
Pengaruh perubahan lingkungan ke nelayan pun tercatat dalam laporan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara). Seperti perubahan daerah pesisir akibat proyek reklamasi dan tambang. Pusat Data dan Informasi Kiara pada 2018 mencatat, 79.348 keluarga nelayan terdampak akibat proyek reklamasi serta lebih dari 35.000 keluarga nelayan, terdampak proyek tambang pesisir dan pulau-pulau kecil. 
 
 
Dalam lapopran Kiara pada 2018 juga tercatat total luasan proyek reklamasi telah mencapai 79.348,9 hektar (ha) di 42 lokasi pesisir di Indonesia. Akibat proyek ini, keberlanjutan hidup 747.363 keluarga nelayan di Indonesia terancam hilang akibat rusaknya ekosistem pesisir dan hilangnya hasil tangkapan ikan. Dibandingkan data 2016, jumlah proyek reklamasi terus mengalami peningkatan dari 16 kawasan menjadi 42 kawasan pesisir. Dengan kata lain, ada peningkatan lebih dari 100 % proyek reklamasi dalam dua tahun terakhir.
 
 
 
Tantangan Perizinan
Tantangan bagi nelayan juga tak berhenti dari sisi itu saja, Sugiyono, nelayan cantrang asal Pati-Jawa Tengah menuturkan, dirinya harus selalu menghadapi permasalahan klasik. Yaitu perizinan. Di Pati saat ini terdapat sekitar 2.500 nelayan dengan kepemilikan sebagian besar adalah perorangan.
 
 
Sugiyono mengungkap, aturan yang saat ini berlaku berupa kapal cantrang dengan ukuran 30 gross tonnage (GT) sudah tidak dapat izin melaut sehingga mangkrak. Sedangkan kapal cantrang ukuran 5 GT masih diberikan izin hingga Maret 2019. “Kapal diatas 30 GT belum bisa melaut. Saya melautnya pake kapal yang ukuran 5 GT,” ujarnya.
 
 
Sementara alternatif yang ditawarkan pemerintah, terang Sugiyono, adalah mengalihkan alat tangkap cantrang menjadi purse seine atau pancing. “Dan izin operasionalnya harus jauh, hingga ke Laut Arafura sana. Padahal kalau kapal kecil begini terlalu berat di biaya operasional karena ngangkut ikannya sedikit. Beda dengan kapal diatas 100 GT yang bisa ngangkut banyak, dengan biaya operasionalnya bisa imbang. Belum lagi bila di perjalanan ketemu cuaca jelek, tantangannya banyak,” tutur Sugiyono. Sementara waktu melaut pun tidak sebentar, sekali trip ke lautan jauh bisa memakan waktu tiga hingga empat bulan.
 
 
Tidak itu saja, imbuh Sugiyono, kapal 100 GT pun tidak serta merta gembira bila dapat hasil tangkapan. Karena bila cuaca tidak mendukung, hasil tangkapan pun biasanya tidak sesuai harapan. “Sesuai aturan SIPI (Surat Izin Penangkapan Ikan), hasil tangkapan per tahun yang dilaporkan harus diatas 100 ton. Itu kan mustahil. Faktor cuaca gak bisa diprediksi, kalau bersahabat bisa lebih, kalau tidak memungkinkan bisa kurang dari 50 % nya,” bebernya.
 
 
Dan sayangnya, jelas Sugiyono, bila laporan pendaratan ikan sedikit, tidak ada respon dari pemerintah. “Untuk perpanjang izin pun harus ada laporan ini. Kalau kurang, teman-teman tekor karena nambahin sendiri atau ujungnya banyak yang make jasa broker. Nunggu izinnya pun mesti berbulan-bulan, kalau terbitnya pas cuaca buruk gimana? Kan gak bisa jalan,” ungkapnya. 
 
 
Makanya, Sugiyono pun berharap, ranah perizinan bisa dikembalikan ke provinsi masing-masing terkait ukuran diatas 30 GT. “Beda kan ama yang dibawah 30 GT, izin di provinsi gak lama. Usulan kami dikembalikan saja ke provinsi, karena kalau ke pusat (Jakarta) yang mesti cara online juga kami gak mampu karena kemampuan nelayan rendah. Belum lagi kalau di Jakarta yang bermainnya broker,” tegasnya.
 
 
Permasalahan izin secara online pun diamini Nandang, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) wilayah Jawa Barat. “Masalah perizinan ini, kalau nelayan dengan kapal 5-30 GT biasanya masih gaptek (gagap teknologi). Mau isi sistem OSS (Online Single Submission) bingung karena saya nelayan, masih main manual. Saya mau sikapi 30 GT keatas bagaimana nelayan Indramayu dan Cirebon bisa berlayar sementara SIPI sulit untuk terbit?” tukasnya.
 
 
Padahal, sebut Nandang, sesuai amanat Undang Undang Dasar 1945, bumi, alam, dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikelola untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. “Harusnya itu dulu kuncinya. Nelayan kita totalnya sekitar 157 ribu kepala keluarga,” ucap Nandang. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-82/15 Maret – 14 April 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain