Jumat, 15 Pebruari 2019

Sedikit Benihnya, Banyak Peminatnya

Sedikit Benihnya, Banyak Peminatnya

Foto: asep


Penghasil bibit ikan gabus masih sangat jarang, sementara permintaan gabus untuk konsumsi terus tumbuh
 
 
 
Belakangan ini ikan gabus menjadi salah satu komoditas yang mencuri perhatian para pembudidaya. Hal ini dituturkan salah satu penghasil bibit gabus asal Ciseeng Bogor, Mamat Macho. Menurutnya, harga jual ukuran konsumsi yang bisa mencapai Rp 55 – 60 ribu per kilogram (kg) di tingkat pembudidaya, menjadi salah satu pemicunya. 
 
 
Belum lagi, tambahnya, relatif tingginya harga ikan air tawar tersebut disebabkan permintaan yang lebih banyak dari pasokannya. Alasan konsumen, ikan yang sempat dikenal sebagai ikan hama ini, dipercaya memiliki kandungan albumin yang bagus untuk kesehatan.
 
 
 
Bibit Tergantung Alam
Mengulik lebih tingginya permintaan dibanding pasokan, pria yang akrab disapa Bang Macho ini pun memberi penjelasan. Jika ditarik hingga ke hulu, minimnya produksi gabus ukuran konsumsi disebabkan oleh minimnya bibit yang dihasilkan. Terutama dari sektor budidaya. Pelaku pembibitan ikan ini masih bisa terhitung jari keberadaannya. 
 
 
Ia menuturkan, minimnya bibit pun dikarenakan produksinya masih bergantung tangkapan alam. Celakanya lagi, saat dibudidayakan, bibit gabus tangkapan tersebut tak pernah berumur panjang. Tingkat kematiannya sangat tinggi. “Mati terus semuanya,” ungkap Macho.
 
 
Pembeberan ini pun berdasar pengalaman pribadinya semenjak berkutat dengan gabus 8 tahun lalu. “Awal mula saya memulai budidaya gabus juga dengan mengumpulkan bibit-bibit ikan yang ditangkap dari alam,” terangnya. 
 
 
Alhasil, terangnya, percobaan membesarkan ikan hasil tangkapan tersebut berkali-kali gagal. Hingga pada akhirnya Macho tidak lagi menanam bibit, tetapi mulai dari telur ikannya langsung. Telur gabus yang juga didapat dari alam itu ternyata bisa menetas dan tumbuh hingga ukuran produktif untuk dikawinkan. 
 
 
 
Proses pembenihan 
Siapa disangka, gabus yang berhasil dibesarkan tersebut dapat juga dipijahkan. Dengan ketekunan Macho dalam mengulik potensi ikan, ia akhirnya bisa memijahkan gabus. Saat dikunjungi tim TROBOS Aqua di rumahnya, Macho membeberkan bagaimana ia memijahkan ikan yang masih sulit bagi sebagian pembudidaya yang lain.
 
 
Proses pembenihan gabus yang dilakukan oleh Macho menggunakan teknik semi alami. Yaitu, dengan memberikan rangsangan berupa hormon pemacu maturasi yang banyak dijual di pasaran. Sementara proses pemijahannya tetap terjadi di wadah budidaya. 
 
 
Dia tidak menyebutkan dengan pasti berapa dosis hormon yang diberikan, tetapi kata Macho dosis tersebut harus pas. “Tidak boleh kurang, harus pas. Kalau lebih boleh. Kalau (ikan) lele kan dosisnya bisa kurang,” jelasnya membandingkan. 
 
 
Proses pemijahan akan berlangsung kurang lebih 1-2 hari setelah penyuntikan dilakukan. Induk gabus yang sudah disuntik dipasangkan 1:1 dan dibiarkan di bak atau kolam pemijahan. Setiap wadah pemijahan tersebut hanya diisi dengan satu pasang induk. Sehingga ukuran bak yang digunakan bisa kecil saja. “Itu ukurannya 3x1 meter,” ucap Macho sambil menunjuk area bak pemijahan gabus miliknya. 
 
 
Berdasarkan pengamatannya selama ini, gabus selalu memijah pada sore hari. Paling cepat sehari setelah penyuntikan. Namun bisa juga pemijahannya terjadi 2-4 hari setelah penyuntikan. “Dari 10 pasang, tujuh pasang bisa memijah besoknya. Sisanya bisa memijah 2-4 hari kemudian,” ungkap Macho mencontohkan. 
 
 
Telur gabus memiliki sifat yang berbeda dengan lele. Jika telur lele menempel pada substrat pemijahan, maka telur gabus justru mengambang. Sehingga perlakuan yang diberikan pun berbeda. Bak pemijahan gabus tidak dipasangi kakaban seperti layaknya pemijahan lele. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-81/15 Februari – 14 Maret 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain