Jumat, 15 Pebruari 2019

Garap Celah Baru Pasar Udang

Garap Celah Baru Pasar Udang

Foto: yopi


Adanya keyakinan demand yang terus meningkat, khususnya pasar China membuat perudangan nasional tetap optimis
 
 
 
Akhir tahun kemarin menjadi penutup tahun yang kurang bersahabat bagi komunitas perudangan nasional, khususnya bagi para petambak udang vannamei. Pasalnya, harga udang di pasar global mengalami penurunan yang berimbas bagi petambak di dalam negeri.
 
 
Sepanjang 2018 juga harga udang global masih dianggap lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Laporan Organisasi Pangan Dunia (fao.org) menyebutkan, harga vannamei berada pada tingkat yang cukup rendah pada April 2018, yang kemudian sedikit menanjak pada Juni 2018.
 
 
Berdasarkan laporan Rabobank, harga udang size (ukuran)  60 ekor per kilogram (kg) di Thailand pada kuartal pertama 2018 berada di kisaran 120 BHT (atau sekitar Rp Rp 54 ribu). Setelah sebelumnya sempat menyentuh kisaran 180 BHT (atau sekitar Rp 81 ribu) pada awal 2018. 
 
 
MenurutKetua Shrimp Club Indonesia (SCI), Iwan Sutanto, harga udang size 50 juga menurun di kuartal pertama 2018, yakni di kisaran Rp 70 ribu per kg. Harga ini perlahan menanjak menjadi sekitar Rp 75 ribu per kg pada Juli 2018. 
 
 
Bahkan, ditengarai Desember kemarin harga menyentuh paling rendah sepanjang 2018. “Pada Desember, size kecil yakni 100 ekor per kg itu, harganya hanya sampai Rp 45- Rp 46 ribu per kg,” ungkap Steven Kurniadi, petambak asal Bali.
 
 
 
Harga Melandai
Laporan Rabobank juga menyebutkan, tingginya tingkat produksi udang global seperti di India dan Ekuador pada semester pertama 2018, menjadi faktor yang mempengaruhi harga udang global. Suplai yang tinggi ini bisa dilihat dari tingginya investasi inovasi udang untuk menurunkan tingkat mortalitas; semakin banyaknya pembukaan tambak vannamei (konversi tambak windu menjadi vannamei); hingga naiknya produksi udang dengan Recirculatory Aquaculture System (RAS).
 
 
Pengaruh suplai yang tinggi terhadap harga udang juga diamini Steven. “Menurut temen-temen (importir) di luar, hal ini murni karena supply-demand. Saat udang-udang dirilis ke pasar global, pabrik dan negara luar masih punya cadangan sehingga mereka gak ambil terlalu banyak. Istilahnya, mereka ‘nandon’ udang dalam bentuk beku,” ungkapnya.
 
 
Otomatis, jelas Steven, petambak nasional pun terkena dampak. “Karena Indonesia sebagai salah satu negara paling semangat nambak, kan lihat pertumbuhan pembudidaya luar biasa banyak. (Karena harga anjlok) petambak banyak akhirnya panik. Harga turun bagaimana?,” terang Steven.
 
 
Alhasil, imbuh Steven, banyak petambak belum sempat persiapan budidaya dengan baik, sudah keburu menebar. “Akhirnya sakit atau ada yang misalnya udang masih numbuh bagus, tapi takut harganya makin anjlok akhirnya dijual. Terjadilah panic selling. Berantakan jadinya,” tambahnya.
 
 
Besarnya pengaruh harga global terhadap harga udang nasional, pun dibeberkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Budhi Wibowo. “Harga Indonesia sangat pasti tergantung dari harga internasional. Seperti saat harga turun, yaitu karena harga internasional, bukan karena pabrik indonesia pengen untung, tidak. Kita selalu ikuti harga internasional. Jadi adalah salah kalau ada yang bilang produksi Indonesia harus dikurangi biar harga udang di dunia naik,” terang Budhi.
 
 
Budhi pun mengatakan, ketergantungan Indonesia pada harga internasional juga karena kecilnya market share di pasar global. “Total market share kita di dunia itu kurang dari 10 %, bagaimana bisa pengaruhi harga dunia? Gak mungkin. Sehingga dengan kondisi sekarang masih sangat kecil kalau kita pengen diperhitungkan bener-bener di pasar dunia. Paling gak harusnya kita bisa 10 % ambil market share itu,” tukasnya.
 
 
Budhi mengambil contoh market share udang nasional yang masih kecil di dunia. Impor Uni Eropa saja tiap tahunnya bisa mencapai 600 ribu ton. Dan dari Indonesia hanya masuk ke pasar sana sekitar 1,2 %-nya. “Sekarang itu, pangsa pasar kita yang di atas 15 %, hanya Amerika Serikat dan Jepang,” ujarnya. 
 
 
 
Prediksi Pasar 2019 
Sementara itu, diawal 2019 ini pun mulai dirasa ada angin segar dalam pergerakan harga udang dunia. Prediksi membaiknya harga udang pun digambarkan Ketua SCI chapter Banyuwangi Yanuar Toto Raharjo. Khususnya size 100 up. Dia melihat, walaupun ada penurunan harga, permintaan pasar hampir stabil. “Yang membedakan, produksi dan size, karena size 100 up lebih menarik. Akhirnya apresiasi harga lebih bagus di situ,” jelasnya. 
 
 
Steven pun mengamini. Dia menyebut, per Januari lalu, harga size 100 sudah membaik di sekitar Rp 55 ribu – Rp 56 ribu per kg. “Jadi ya temen-temen petambak lebih gairah walau belum pulih. Karena, mestinya harga bisa lebih baik. Soalnya, kalau berdasar supply-demand, kemarin ada cadangan udang, tapi kalau sudah keluar kan kosong lagi sekarang,” tuturnya.
 
 
Di sisi lain, Steven menerangkan para petambak pun menjadi lebih awas terhadap supply-demand ini. “Harus pinter kita baca market. Kita mungkin banyak terlena gak nyadar bakal terjadi (harga turun). Dan temen-temen yang kemarin sudah merasa rugi karena harga rendah sekarang lebih hati-hati budidaya,” bebernya.
 
 
Sebagai contoh, Steven mengatakan petambak harus bisa membaca momen. “Misalkan sekarang musim hujan, petambak sudah bisa baca itu. Maka, banyak penebaran dikurangi, antisipasi SOP (Standar Operasional Prosedur) diperbaiki. Yang biasanya lebih padat (tebar), jadi dilonggar-in, yang nebar di 20 kolam, gak mampu jadi 10 kolam. Lebih tertata dan gak dipukul rata. Sehingga bila mau menghindari kejadian yang sama, pasti yakin pada momen tertentu gak nebar, atau nebar dengan kapasitas sedikit. Jangan digas terus,” imbuhnya.
 
 
 
Permintaan China
Optimisme membaiknya pasar pun diterangkan Yanuar. “Karena permintaan dunia tidak kurang, yang butuh makan udang lebih banyak lagi,” ujarnya. Apalagi berdasarkan laporan yang dikeluarkan EU Science Hub, konsumsi seafood global terus meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir. 
 
 
Meningkatnya konsumsi seafood, dimana udang termasuk di dalamnya otomatis meningkatkan demand (permintaan) global. Hal ini pun bisa dilihat dari laporan fao.org bahwa impor udang dari Uni Eropa dan AS meningkat pada 2018 lalu. Tidak dipungkiri, harga pada 2018 yang terhitung rendah di pasaran dan konsumen yang sudah familiar dengan komoditas ini membuat pasar cenderung positif menarik konsumen.
 
 
Dan, yang menarik adalah meningkatnya demand (permintaan) pasar China terhadap udang impor, khususnya di semester awal 2018. Dalam laporan fao.org disebutkan impor udang ke China lebih tinggi dari ekspor, dimana impor langsung ke China naik sekitar 92 %. Padahal, dalam tahun-tahun sebelumnya China cukup banyak mengekspor ke pasar global. Penurunan tingkat ekspor China pada waktu ini dikarenakan produksi udang yang lebih rendah, sebaliknya permintaan domestiknya terus meningkat. 
 
 
Memenuhi kebutuhan konsumsi domestiknya, laporan fao.org juga menerangkan bahwa China membuka pasarnya dengan menerapkan tarif impor yang rendah, yakni 2 %. Otomatis pengekspor udang global banyak memfokuskan pasarnya ke negara tirai bambu ini. Laman ini pun memuat ekspor Indonesia cukup terpengaruh dengan demand China yang tinggi. Ekspor Indonesia ke China meningkat sedikitnya sebanyak 124 % (naik sekitar 3.100 ton) pada semester pertama 2018.
 
 
Sementara, berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Kementerian Kelautan dan Perikanan (Ditjen PDS-KKP), ekspor udang Indonesia mencapai 182,71 ribu ton (Januari-November 2018). Dengan nilai mencapai 1,616 miliar USD.
 
 
Gerakan pasar China pun tak luput dari mata AP5I. Menurut Budhi, anggota AP5I pun saat ini mengarah ke China karena potensinya untuk digarap. “Di sana pasarnya sangat besar dan pasar baru. Dulu kan China itu produsen, tiba-tiba minta karena pasarnya sangat besar, pertumbuhan ekonominya pun sangat besar,” ujar Budhi.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-81/15 Februari – 14 Maret 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain