Budidaya Udang ala Ekuador

Budidaya Udang ala Ekuador

Foto: dok. fernando garcia abad
Tambak udang di Ekuador

Kombinasi sistem pendederan dan kepadatan rendah dapat mengurangi biaya produksi yang signifikan dalam setiap kilogram udang yang dihasilkan
 
 
 
Selain menyebar di Asia, terutama Asia Tenggara, produsen udang dunia juga datang dari beberapa negara di Amerika Latin. Namun, hal yang berbeda terlihat dari 10 tahun terakhir, dimana di kisaran 2012-an Asia alami penurunan produksi akibat outbreak EMS (Early Mortality Syndrome). Sementara di Ekuador, salah satu negara Amerika Latin, secara konsisten memasok udang ke pasar Amerika Serikat (AS). Bahkan, dilansir dari berbagai sumber, produksi Ekuador sendiri pada 2018 lalu diperkirakan bisa mencapai 530 ribu ton. 
 
 
Tidak hanya itu, Commercial Director Epicore-Neovia, Fernando Garcia Abad memaparkan, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir pertumbuhan budidaya di Ekuador cenderung konsisten. Kuncinya, ia pun bercerita, Ekuador secara konsisten meningkatkan produksinya karena sistem budidaya yang dilakukannya. Yakni efisiensi.
 
 
Petambak Ekuador paham efisiensi budidaya udang dibutuhkan untuk mengurangi risiko usaha. Kunci dari efisiensi ini adalah memotong lama budidaya setiap siklusnya. “Efisiensi waktu bisa memangkas biaya hingga 50 %,” ujarnya dalam suatu forum petambak muda di Bandung beberapa waktu yang lalu. 
 
 
 
Pendederan untuk Efisiensi
Yang mengejutkan, negara yang terletak di barat laut Amerika Selatan ini ternyata lebih fokus pada target panen yang efisien ketimbang menggunakan kepadatan yang tinggi. Hal ini terlihat dari kepadatan yang cukup rendah jika dibandingkan dengan sistem budidaya yang biasa ditemui di Indonesia. 
 
 
Tujuan padat tebar yang rendah tidak lain untuk menjaga umur industri perudangan jauh lebih lama. Menurutnya, produksi udang tidak bisa dilakukan dengan buka-tutup lahan secara terus menerus. “Kami meningkatkan produksi, tapi kami tetap menjaga lingkungan,” tegas Fernando. 
 
 
Caranya, Fernando pun menonjolkan fase pendederan sebagai budidaya perantara antara benur dari hatchery sebelum pembesaran. Dengan adanya masa budidaya perantara ini, pembesaran di tambak menjadi lebih singkat. 
 
 
Fernando mencontohkan, pemotongan masa budidaya di tambak pembesaran memberikan dampak yang signifikan terhadap efisiensi. Pembesaran bisa dilakukan hanya dalam 30 – 60 hari dengan bobot panen bisa mencapai 17 – 27 gram per ekor. Jumlah siklus budidaya selama satu tahun pun menjadi lebih banyak. 
 
 
Udang yang didederkan terlebih dulu pun cenderung memiliki performa yang lebih bagus di tambak pembesaran. Alasannya, udang lebih sehat karena dibudidayakan di tempat yang terkontrol. “Rata-rata laju sintasan (SR) bisa mencapai 75 – 85 %,” tambahnya.
 
 
Bahkan, lebih rinci ia menjelaskan, kombinasi pendederan dengan padat tebar rendah bisa menghasilkan produktivitas yang tidak berbeda jauh dengan kepadatan tinggi. Fernando menyajikan data pada kepadatan 10 ekor per m2 tanpa pendederan dan 6 ekor per m2 dengan pendederan menghasilkan SR yang jauh berbeda. Pada kepadatan 10 ekor per m2, SR yang dihasilkan sebesar 66 %. Sedangkan pada kepadatan 6 ekor per m2  SR-nya bisa mencapai 83 %. 
 
 
Dengan demikian, produktivitasnya menjadi tidak terlalu jauh. Biomassa panen yang dihasilkan antara kepadatan 10 ekor per m2 dan 6 ekor per m2 berturut-turut sebesar 1,3 dan 1,4 ton per hektar. Konversi pakannya pun berturut-turut sebesar 1,8 dan 1,06. “Sistem ini (pendederan dan kepadatan rendah) memiliki dampak besar terhadap pengurangan biaya produksi per kg-nya,” terang Fernando.
 
 
 
Nursery dan Madres
Adapun fase pendederan cukup sukses mengiringi berbagai sistem budidaya yang eksis di Ekuador. Selama perjalanan budidaya udangnya saat ini, setidaknya Ekuador memiliki tiga sistem budidaya udang. Yakni, sistem Pre-Crias (nursery), Madres (mothers), hingga yang teranyarnya sistem raceway. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-80/15 Januari – 14 Februari 2019
 

 
Aqua Update + Primadona + Cetak Update +

Artikel Lain