Selasa, 15 Januari 2019

Tentukan Strain Sesuai Lingkungan

Tentukan Strain Sesuai Lingkungan

Foto: asep


Strain yang dipilih harus cocok dan sesuai dengan lokasi usaha
 
 
 
Pembenihan merupakan hulu dari panjangnya rentetan proses budidaya. Karena disanalah benih berkualitas banyak dihasilkan dan juga merupakan faktor penentu pada saat dibudidayakan pada segmen pembesaran. Dalam proses pembesaran akan terlihat manakah strain yang lebih unggul dan menghasilkan benih dengan kualitas terbaik, mengingat banyaknya strain yang beredar di dalam negeri baik strain lokal dan impor. 
 
 
 
Sesuaikan Pilihan
Budiyono, pembudidaya nila di daerah Kabupaten Klaten-Jawa Tengah (Jateng) menyampaikan nila Merah strain Janti (Larasati) merupakan strain nila yang cocok dan sesuai dengan iklim Klaten. Nila Larasati merupakan hasil pemuliaan genetik yang dilakukan oleh  Satuan Kerja (Satker) Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) Janti, Kabupaten Klaten. 
 
 
Nilai rasio konversi pakan (FCR) strain ini mencapai 1,25 - 1,3. Masa pemeliharaannya sekitar 3 bulan dengan mencapai bobot 250 gram (gr) – 400 gr. “Nila Larasati sangat cocok dan perkembanganya baik untuk di daerah Klaten. Pertumbuhannya cepat menjadikan Larasati primadona di Jateng,”ungkapnya. 
Lebih gamblang, Budi menjelaskan mengenai sistem budidaya yang ia terapkan. Umumnya, budidaya nila yang dilakukan di Kabupaten Klaten menggunakan sistem kolam air deras. Walau tetap ada juga yang menggunakan sistem kolam air tenang. 
 
 
Luasan kolam yang ia gunakan berkisar 60 meter persegi (m2), dengan panen nila bisa mencapai 1,5 - 2 ton. “Dengan sistem kolam deras, budidaya dengan nila Larasati di Kabupaten Klaten menghasilkan produktivitas panen cukup tinggi. Umumnya padat tebar yang kami lakukan sekitar 200 ekor per m2. Bahkan kolam yang mendekat ke sumber air bisa mencapai 500-600 ekor per m2 karena kelimpahan oksigen lebih banyak di lokasi ini,” beber Budi.
 
 
Menyebut kesesuaian nila dengan kondisi di lapangan, Budi pun memberi penjelasan. Sebagai contoh, ia menyebut ketika ramai-ramainya serangan Tilapia Lake Virus (TILV). “Kondisi budidaya nila di Kabupaten Klaten aman-aman saja. Hanya beberapa waktu lalu di daerah Ngrajeg, Magelang – Jateng, terjadi banyak kematian indukan nila,” terang Budi yang juga berprofesi sebagi penyuluh perikanan. 
 
 
Lanjutnya, nila Larasati pun menjadi pilihan bukan tanpa sebab. “Nila ini memiliki daya tahan cukup tinggi terhadap goncangan iklim yang tidak bisa kita prediksi. Sehingga jarang terjadi kegagalan budidaya akibat penyakit ataupun perubahan cuaca yang ekstrim,” beber Budi.
 
 
Sebelumnya, kata Budi, dirinya juga telah mencoba beberapa strain lain. Diantaranya strain  Genetic Improvement for Farmed Tilapia (GIFT). Namun, ikan ini kurang laku di pasaran. Alasannya, postur tubuhnya terlihat lebih memanjang dan juga dagingnya tidak terlalu tebal. Sehingga pasar menganggap ikan nila yang berumur sudah tua atau lama besarnya, padahal waktu pemeliharaanya sama, yakni 3 bulan. 
 
 
Tidak itu saja, Budi pun sempat mencoba nila Genetically Supermale Indonesian of Tilapia (Gesit). Dia akui pertumbuhan nila ini lebih cepat dibanding nila pada umumnya. Tapi menurutnya, ikan ini tidak ramah lingkungan. Karena, dengan hanya monosex (kelamin jantan) tidak akan terjadi pelestarian alam dan hanya berfokus kepada produksi saja. 
 
 
“Tidak cocok di kami karena dengan sistem budidaya yang kami terapkan, terkadang terjadi pemijahan alami. Sehingga, benih dan larva tersebar ke alam dan stok ikan bisa tersebar di perairan umum dan kestabilan lingkungan terjaga,” bebernya. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-80/15 Januari – 14 Februari 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain