Selasa, 15 Januari 2019

Strain Lokal Versus Strain Impor

Strain Lokal Versus Strain Impor

Foto: dok. trobos


Strain nila dalam negeri tidak juga bisa dipandang sebelah mata, karena juga banyak mempunyai keunggulan tersendiri, serta bisa bersaing dengan nila luar negeri
 
 
 
Beragam jenis strain nila yang beredar di kalangan pembudidaya adakalanya menimbulkan banyak perbincangan, manakah yang lebih unggul? Tidak dipungkiri, para pembudidaya nila ingin agar nila yang mereka budidaya merupakan kualitas unggulan.
 
 
Sejauh ini, yang menjadi perbincangan umum lebih mengarah kepada dua kubu, yakni nila hasil pemuliaan dalam negeri ataukah luar negeri. Di kalangan pembudidaya juga banyak didapati keragaman opini dan persepsi mengenai hal tersebut. 
 
 
Dian Herdiantho, perekayasa genetik Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi-Jawa Barat (Jabar) menyampaikan, adanya perbedaan antara nila yang didatangkan dari luar negeri seperti dari Kenya, Jepang, Filipina. Contoh kriteria yang dibandingkan, adalah segi ukuran, jumlah telur dan juga pertumbuhan. 
 
 
“Nila dari hasil pemuliaan dalam negeri masih banyak yang mengacu ke arah percepatan pertumbuhan. Dengan demikian masih belum ada strain khusus yang tahan penyakit. Berbeda dengan nila dari Kenya yang mampu lebih tahan dari serangan penyakit, Namun, tingkat adaptasi lingkungannya rendah,” ungkap Dian saat diwawancarai TROBOS Aqua. 
 
 
 
Keunggulan Strain Dalam Negeri
Memberikan panggung untuk nila dalam negeri, Senior Manager Fish Hatchery PT Central Proteinaprima (CPP), Laode Abdurahman memberikan gambaran unggul nila strain dalam negeri. “Strain nila dalam negeri ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena banyak mempunyai keunggulan tersendiri, serta bisa bersaing dengan nila luar negeri,” ungkap Senior Manager Fish Hatchery PT Central Proteinaprima (CPP), Laode Abdurahman. 
 
 
Contohnya, terang Laode, perusahaan perikanan terintegrasi ini sudah sejak 1999 telah mengoleksi dan mengembangkan strain sendiri untuk nila sendiri dalam negeri. Tujuannya, untuk membantu para pembudidaya menghasilkan nila berkualitas. 
 
 
Pembuatan strain sendiri bertujuan untuk menghadirkan alternatif pilihan kepada para pembudidaya. “Saat ini kita mempunyai dua jenis nila unggulan, yakni black prima dan red prima. Keduanya merupakan hasil seleksi genetika, baik secara individu maupun famili sehingga mempunyai banyak keunggulan dibanding nila yang sudah banyak beredar pada umumnya,” ungkapnya.
 
 
Lanjut Laode, untuk nila dalam negeri ini, perusahaannya pun didukung oleh balai perikanan yang melakukan penelitian milik pemerintah, seperti BBPBAT Sukabumi dan Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Wilayah Utara (CDKPWU) Jabar Satuan Pelayanan Konservasi Perikanan Daratan (SPKPD) Wanayasa, Purwakarta. Strain-strain yang dihasilkan dari instansi tersebut merupakan nila unggulan, seperti nila Ras Wanayasa (Nirwana) kemudian nila Seleksi Unggul Salabintana (Sultana). 
 
 
Dian pun menimpali keunggulan nila dalam negeri. Dia bercerita, adapula nila Gesit yang keunggulannya sesuai dengan kepanjangannya; Geneitacly Super Male Indonesia Tilapia. Nila ini mempunyai keunggulan pertumbuhan yang cepat karena benih yang dihasilkan dari nila Gesit didominasi kelamin jantan yang umumnya lebih cepat pertumbuhannya. Masa pemeliharaannya hanya memakan waktu kurang lebih 3 bulan hingga mencapai bobot 300 gram (gr) per ekor, atau kurang lebih 1 kilogram (kg), berisi 3 ekor. 
 
 
“Dalam pemijahan menggunakan indukan nila Gesit dengan induk Sultana akan mngehasilkan sekitar 70-80% benih yang berkelamin jantan. Hal ini sangat mendukung budidaya nila sehingga masa pemeliharaan lebih singkat,”pungkas Dian.
 
 
Kemudian untuk jenis nila Salinity Resistant Improvement Tilapia from Sukamandi (Srikandi), lanjut Dian, mempunyai keunggulan dengan mempunyai toleransi pada kadar salinitas yang cukup tinggi. Sehingga, nila ini dapat dibudidayakan di tambak. Selain itu, budidayanya bisa cukup efisien. Yakni, dari hasil penelitian pemeliharaan Srikandi didapati rasio konversi pakan (FCR) sebesar 0,7 – 1,1. 
 
 
 
Tujuan Introduksi Strain Impor
Disisi lain, penggunaan strain nila yang didatangkan dari luar negeri (impor), terang Dian umumnya dilakukan oleh pihak swasta. Pada umumnya tujuannya sama, yakni untuk melakukan penelitian dan membuat strain baru yang lebih baik. 
 
 
BBPBAT Sukabumi, terang Dian, pernah juga mengkaji hal tersebut, seperti nila yang berasal dari Kenya mempunyai kemampuan daya tahan penyakit yang cukup baik. Namun, yang menjadi kendala utama adalah adaptasi. 
 
 
“Dari segi biomassa, pernah dibandingkan hasilnya tidak berbeda jauh. Nila Kenya mempunyai ketahanan terhadap penyakit dan tumbuhnya lebih cepat. Namun, tingkat kelangsungan hidup atau Survival Rate (SR)-nya rendah karena memerlukan adaptasi yang lebih. Sedangkan, untuk nila dalam negeri pertumbuhnya lebih lambat, namun SR nya tinggi ,” terang Dian.
 
 
Berkaitan dengan nila strain impor, kata Dian, saat melakukan budidaya nila ini juga perlu melalui proses karantina dan adaptasi. Hal ini belum tentu dapat dilakukan oleh semua kalangan pembudidaya karena skala usahanya beragam. Maka dari itu umumnya yang mendatangkan induk atau benih nila strain impor adalah perusahaan yang bergerak di bidang perikanan. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-80/15 Januari – 14 Februari 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain