Sabtu, 15 Desember 2018

Penyakit Gegarkan Pesisir Barat Sumatera

Penyakit Gegarkan Pesisir Barat Sumatera

Foto: trobos


Perlu langkah nyata bersama secara lintas wilayah dan sektoral jika ingin sukses dalam menyiasati serangan penyakit pada udang. 
 
 
 
Serangan berbagai jenis penyakit terhadap budidaya udang vannamei di Provinsi Lampung dan Bengkulu mendorong segenap pemangku kepentingan (stakeholders) di sana untuk merumuskan tindakan bersama guna menjaga kesinambungan usaha. Sebab berdasarkan pengalaman selama ini, tindakan parsial yang dilakukan masing-masing pembudidaya tidak banyak mengurai masalah.
 
 
Ketua Ikatan Petambak Pesisir Barat Sumatera (IPPBS), Agusri Syarif menyampaikan bahwa pihak yang paling merugi akibat serangan penyakit tidak saja petambak, tetapi hatchery (pembenihan) dan pabrikan pakan juga tidak bisa jualan. “Kalau soal harga udang, selama 30 tahun saya terlibat dalam budidaya udang belum pernah harga turun menyentuh biaya produksi. Kita merugi justru akibat serangan penyakit,” ujarnya dalam urun rembuk segenap pemangku kepentingan budidaya udang bertajuk “Sinergitas Stakeholders Menghadapi Tantangan Budidaya Udang Terkini” di Lampung baru-baru ini.
 
 
Syarif menyebut sedikitnya tiga jenis virus yang menyebabkan munculnya penyakit pada udang vaname, yakni myo atau IMNV (Infectious Myonecrosis Virus), WSSV (White Spot Syndrome Virus) dan berak putih (White Fecess Disease). “Yang mana yang paling berbahaya, sama saja, jika sudah terserang udang mengambang atau tidak bertumbuh,” tambahnya.
 
 
 
Penyakit yang Sangat Merepotkan
Pada kesempatan tersebut, hadir perwakilan dari PT. Centralproteina, Heny Budi Utari, yang menjadi salah satu pembicara diskusi. Dalam paparannya, Heny mengungkapkan, 60 % dari areal pertambakan udang di Lampung terserang virus myo. Namun pada bulan Oktober lalu, tingkat serangannya menurun sebesar 20 %. “Penyebab penurunannya diperkirakan karena turunnya TOM (Total Organic Mater) di perairan Teluk Lampung yang sebelumnya 100 menjadi 90,” ujar Henny. 
 
 
Selain Myo, Heny juga menyatakan bahwa di Lampung juga merebak penyakit yang dinamai Enterocytozoon Hepatopenaei (EHP) sebagai kelanjutan dari WFD. Jenis penyakit ini pernah muncul di Thailand sebelum terjadinya wabah Early Mortality Syndorme (EMS). “Saya bukan menakut-nakuti, tapi mengingatkan pemangku kepentingan untuk berpikir dan merumuskan langkah-langkah konkret untuk mencegahnya,” tegas Heny.
 
 
Kehadiran penyakit di Lampung dan Pesisir Barat Sumatera juga diakui oleh salah satu petambak, Soleman Lullulangi. Soleman yang juga menjadi pembicara pada diskusi tersebut menyatakan, serangan penyakit, seperti IMNV, WFD dan WSSV telah menghambat kelangsungan budidaya udang. Penanganan penyebaran penyakit secara parsial tanpa mencegah penyebabnya tidak menyelesaikan masalah. 
 
 
Di wilayah Pesisir Barat dan Bengkulu Selatan yang merupakan kawasan ekspansi baru pertambakan udang dengan asumsi perairannya masih bagus, tak luput dari serangan penyakit dalam 15 bulan terakhir. “Gagal panen akibat serangan myo hampir membuat pembudidaya frustrasi,” ungkap Soleman. sementara benang merah sumber penyakitnya belum teridentifikasi secara jelas karena keterbatasan keilmuan dan penanganan yang dilakukan secara parsial.
 
 
 
Pengetatan Benur
Banyak hal yang menjadi penyebab penyakit udang di Lampung dan sekitarnya. Soleman mengamati, salah satu utama penyebaran penyakit adalah kualitas benur dan pakan yang menjadi bagian utama input budidaya. Menurutnya, penyakit yang menyerang udang bisa saja sudah dibawa dari benur atau berasal dari inang, indukan yang terinfeksi, atau bahkan dari pakan yang sudah tertular penyakit. 
 
 
Permasalahan kualitas benur ini juga dibenarkan oleh Heny. Menurutnya, penyebaran penyakit EMS di Vietnam, akhirnya diketahui dari benur yang diimpor dari Thailand yang tidak diperiksa melalui Polymerase Chain Reaction (PCR) setiba di Vietnam. “Kita juga khawatir, masuknya penyakit melalui impor benur dari Kucing ke Kalbar dan dari Malaysia barat ke Sumut (Sumatera Utara). Ini jelas berisiko tinggi,” tegasnya mengingatkan. 
 
      
Dicontohkannya, pemeriksaan benur tidak bisa lagi secara visual tetapi harus melalui PCR. “Biayanya mahal, tapi harus dilakukan. Sebab kerugian yang diderita akibat terserang penyakit jauh lebih besar dari biaya PCR,” jelas Heny.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-79/15 Desember – 14 Januari 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain