Sabtu, 15 Desember 2018

Menghadang Penyakit Udang

Menghadang Penyakit Udang

Foto: meilaka


Selain kawasan petambak, pencegahan penyakit tanpa penggunaan bahan kimia juga berperan penting
 
 
 
Sudah tiba penghujung 2018. Dan peralihan tahun kerap menjadi waktu yang tepat untuk mengevaluasi berbagai aktvitas produksi perikanan dalam satu tahun terakhir, tidak terkecuali budidaya udang. Keberlangsungan udang nasional pada 2018 ini masih tetap dibayang-bayangi oleh serangan penyakit yang seolah tidak ada hentinya. Bahkan dalam beberapa bulan terakhir kondisinya diperparah dengan penurunan harga jual udang secara merata hampir di seluruh Indonesia. 
 
 
 
WS Tetap Terganas
Sedikitnya ada 4 jenis penyakit yang masih eksis di dunia perudangan Indonesia saat ini. Menurut salah satu petambak, Suhendra Chin Yun asal Bangka-Kepulauan Bangka Belitung, keempat jenis tersebut antara lain White Spot Syndrome Virus (WSSV), Infectious Myonecrosis (IMNV) atau  lebih dikenal dengan myo, Enterocytozoon Hepatopenaei (EHP), dan White Fecess Desease (WFD) atau yang lebih populer dengan sebutan berak putih.
 
 
“Yang paling berdampak bagi kita WS (white spot). Ganas sekali,” ungkap pria yang akrab disapa Chin Yun ini. Namun demikian, penyakit lainnya juga tetap membawa kerugian jika sudah menyerang udang. 
 
 
Keganasan WSSV sebagai pembunuh utama udang di tambak juga dibenarkan oleh Heny Budi Utari dari Animal Helath Service, Technology Research and Development Division PT Central Proteinaprima. Menurutnya, virus masih menjadi patogen utama pada budidaya udang. Dan WSSV dan myo tergolong penyakit yang disebabkan oleh virus. 
 
 
Menurut Heny, kedua penyakit tersebut kerap bergantian diantara musim hujan dan kemarau. Pada musim kemarau, penyakit yang biasanya datang adalah myo. Sedangkan pada musim hujan, berganti dengan WSSV. ”Itu kendalanya, karena kita dua musim, jadi kena dua-duanya,” tambah Heny.
 
 
Kabar buruknya lagi, kedua penyakit tersebut masih berpotensi berkembang di Indonesia. Sehingga semua stakeholders (pemangku kepentingan) perlu bekerjasama dalam mengatasinya. Bahkan menurut Heny, penyakit WS saat ini tidak hanya ditandai dengan bintik putih sesuai dengan namanya. Bisa juga udang terkena WSSV tanpa ada penampakan bercak putih pada tubuhnya. “Bahkan dia (WSSV) sekarang lebih pintar. Dulu ada bercak putih, sekarang gak ada spot putih saja udah kena,” ungkap Heny. Gejala yang muncul biasanya ditandai dengan warna kemerahan pada tubuh udang. 
 
 
Serangan WS seperti ini cukup cepat terjadi pada udang. Selama 2 - 3 hari udang bisa mati dengan jumlah kematian yang cukup banyak. “Di sini WS (whitespot) masih tetap pembunuh utama budidaya udang,” tegas Heny. 
 
 
Heny melanjutkan, penyakit WSSV menyebar merata di tambak-tambak seluruh Indonesia. Kasus kejadiannya pun alami peningkatan di beberapa lokasi. Hal ini terutama disebabkan oleh mulai tingginya curah hujan yang terjadi akhir-akhir ini. Sementara penyakit myo belakangan ini lebih banyak terjadi di daerah Sumatera seperti Lampung, Bengkulu, dan sekitarnya. “Myo ini masih menjadi kendala buat kita. Bahkan ada supplier yang ditolak karena udangnya positif myo,” tambahnya.
 
 
 
WFD Mengkhawatirkan
Selain WSSV dan myo, penyakit yang tidak kalah menyita perhatian para petambak adalah White Feces Desease (WFD). Meski penamaan gejala berak putih ini sudah dinamai penyakit (desease), secara resmi belum ada yang menyatakan gejala tersebut sebagai penyakit dengan menyebutkan secara jelas penyebabnya. ”Makanya kita sekarang menyebutnya WF syndrome, belum desease. Karena belum ditemukan penyebabnya,” ujar Chin Yun. 
 
 
Sejak outbreak (wabah) kurang lebih dua tahunan yang lalu, WFD telah membuat banyak petambak frustasi. “WFD, kan tadi sudah saya bilang terrible. Ini menambah kerugian dan kegagalan di setiap siklus sejak 2016,” terang petambak asal Medan, Ricky Liduan Kho. 
 
 
Akibat serangan WFD tersebut, Ricky kerap harus melakukan panen dini pada umur budidaya baru 2 bulanan, atau dengan size (ukuran) hanya 120 – 150 (ekor per kilogram) saja. Harganya pun masih lebih rendah dari harapan. Tak mau ambil risiko lebih jauh, Ricky terpaksa menyiasatinya dengan melakukan substitusi sebagian tambaknya pada komoditas bandeng sambil menunggu kondisi perudangan membaik. 
 
 
Penyakit WFD ini membawa kekhawatiran juga bagi Chin Yun. Ia khawatir penyakit ini akan terus meningkat. Pasalanya menurut Chin Yun, gejala-gejala klinis pada WFD ini mirip dengan EMS. “Gak ada korelasinya sebenarnya, tapi kalo kita lihat produsen-produsen yang sudah terjangkit AHPND atau EMS, sebelumnya juga mengalami WFD,” ujarnya. 
 
 
Selain berak putih, penyakit lain yang masih melanda di tahun ini adalah Enterocytozoon Hepatopenaei. Penyakit yang menyerang hepatopankreas ini seperti memiliki keterkaitan dengan WFD. Karena menurut Heny, setelah muncul EHP, WFD juga kerap kali ikut muncul. ”Kalau ada EHP, WFD pasti naik,” ujarnya. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-79/15 Desember – 14 Januari 2019
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain