Kamis, 15 Nopember 2018

Cupang Nemo yang Kian Dilirik

Cupang Nemo yang Kian Dilirik

Foto: rizki


Kemunculan ikan cupang nemo baru setahun belakangan, namun motif dan harganya yang menarik sudah menarik pangsa pasar
 
 
 
Ikan cupang bermotif nemo adalah jenis baru yang beredar di kalangan hobiis (penghobi) cupang hias belakangan ini. Corak dan warna tubuhnya yang menarik dan masih jarang, tengah diburu para hobiis di tanah air. 
 
 
Corak unik ini, ternyata juga punya sejarah cerita. Dedi yang merupakan salah satu hobiis sekaligus breeder (pembudidaya pembenih) cupang nemo bercerita, cupang acap kali dilakukan kawin silang untuk mendapatkan motif dan warna baru. “Kawin silang cupang kerap dilakukan, dan kini mulai berkembang di kalangan hobiis dalam negeri yakni cupang dengan branding nemo (clown fish). Nama branding nemo diambil berdasarkan corak dan warna ikan cupang yang menyerupai nemo, ada warna kuning, merah, hitam dan lainnya,” jelasnya. 
 
 
Harganya pun bisa fantastis, mencapai jutaan rupiah untuk per ekornya, yang salah satu faktornya karena ikan ini masih tergolong rare (langka). “Harga jual cupang nemo ini berkisar antara Rp 750 ribu sampai dengan Rp 3 juta. Bahkan bisa lebih tergantung dari motif yang dimiliki oleh ikan itu sendiri,” ungkap pria yang dikenal dengan pangilan Deeway Gembel dalam akun media sosialnya ini.
 
 
 
Ragam Jenis 
Cupang nemo yang masih langka, tutur Deeway, karena sebetulnya bukan berasal dari dalam negeri. Cupang nemo merupakan asli dari negara tetangga, yakni Thailand. Nemo merupakan hasil riset perkawinan silang antara warna dasar atau warna primer yang dilakukan oleh para pembudidaya di Thailand. Riset yang dilakukan bekerja sama dengan pemerintah Thailand. 
 
 
 “Di awal 2017, ikan ini mulai masuk ke Indonesia melalui para hobiis dalam negeri. Kemudian mulai dibudidayakan dan disebar ke pasaran lokal mulai pertengahan 2017,” terang Deeway yang juga merupakan salah satu artis media sosial khusus membahas tentang cupang. 
 
 
Kelangkaan yang dimiliki ikan hias ini, terang Deeway terbagi dalam berbagai golongan. Yakni berdasarkan motif dan corak nemo. Yang pertama, imbuh Deeway, adalah nemo dengan motif blok vertikal warna merah, hitam, kuning. “Atau, ada juga yang hanya merah dan kuning. Maka golongan ini masuk dalam golongan yang harganya paling mahal karena masih sangat jarang,” ujarnya. 
 
 
Kemudian, yang kedua, ada nemo candy dengan motif merah dan kuningnya bercampur dengan warna lain; seperti ada corak warna ungu, biru dan pink sehingga terlihat seperti permen. Corak ini maka dijuluki golongan candy. 
 
 
Dan yang terakhir adalah nemo leopard. Yakni, dasar tubuh ikan bisa berwarna kuning bercampur jingga dan ada motif titik-titik merah dan bayangan di sekujur tubuh cupang, sehingga terlihat seperti motif macan tutul atau leopard. “Sebenarnya nama-nama tersebut hanya sebagai branding agar mudah dikenal di kalangan hobiis ataupun orang awam. Dan juga menjadikan daya tarik bagi para konsumen,” tutur pria berlatar belakang sarjana ekonomi di salah satu perguruan tinggi di Jakarta ini.
 
 
Namun, untuk indukannya, cupang nemo ini masih diambil dari Thailand karena stok dan kualitas ikan dalam negeri yang masih meragukan. Dia pun turut berkomentar mengenai kurangnya inovasi kawin silang ini, apalagi sampai meragukan kualitas indukan dalam negeri. “Kadang disayangkan banyak para breeder di Indonesia masih banyak memiliki mindset bahwa untuk melakukan perkawinan cupang tidak boleh dengan lain jenis. Semisal cupang koi juga harus dengan koi, fancy dengan fancy. Padahal strain baru akan dilahirkan apabila berani melakukan perkawinan silang,” ujar Deeway.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-78/15 November – 14 Desember 2018
 

 
Aqua Update + Hobi + Cetak Update +

Artikel Lain