Kamis, 15 Nopember 2018

Transformasi Digital Akuakultur

Transformasi Digital Akuakultur

Foto: dok. e-fishery


Penerapan teknologi digital membuat usaha budidaya perikanan bisa lebih terukur, efisien, dan menguntungkan
 
 
 
Era ekonomi digital kini sudah merambah dunia perikanan. Beragam inovasi digital bidang perikanan pun kian bermunculan beberapa tahun terakhir oleh perusahaan rintisan alias startup. Pelaku usaha perikanan pun mulai banyak yang menggunakan beragam inovasi perikanan tersebut, terutama bidang akuakultur atau budidaya perikanan.
 
 
Inovasi yang dikembangkan para startup ini cukup bervariasi. Mulai dari akses permodalan melalui crowd funding (fintech), alat kualitas air dan alat pemberi pakan otomatis yang bisa dikontrol dan monitor secara jarak jauh (Internet of Things/IoT), manajemen budidaya, substitusi tepung ikan (bioteknologi), jasa peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia/SDM (human resource), pemasaran produk (e-commerce), hingga pasca panen (processing & logistic).
 
 
Pemerintah memandang tren ini akan menjembatani secara efisien para pemangku kepentingan akuakultur. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto mendukung inovasi itu untuk memperkuat konektivitas rantai bisnis akuakultur. "Dalam hal akses pasar, sistem ini akan mampu menjamin efisiensi rantai pasar. Untuk kegiatan on farm, akan lebih terukur, efisien waktu, tenaga, dan proses,” kata Slamet kepada Trobos Aqua belum lama ini di Jakarta.
 
 
Menurutnya, ada empat isu pergeseran perikanan budidaya karena inovasi digital. Pertama, mendorong peningkatan efisiensi dan daya saing bisnis akuakultur dengan fokus pada pengembangan komoditas unggulan. Kedua, optimalisasi pemanfaatan potensi lahan budidaya berbasis daya dukung lingkungan. Ketiga, membangun rantai sistem produksi akuakultur dari hulu ke hilir secara menyeluruh. Keempat, integrasi kegiatan dan anggaran antar stakeholder.
 
 
Meskipun demikian, dia berpendapat transformasi itu harus mempertimbangkan beberapa hal. "Transformasi industrialisasi akuakultur yang modern harus berorientasi pada pemanfaatan sumber daya alam secara efisien, penciptaan nilai tambah, dan produktivitas secara optimum," kata Slamet.
 
 
Selain itu, lanjutnya, inovasi digital harus mendorong keterampilan tenaga kerja melalui peningkatan kapasitas sumberdaya manusia terlatih. Termasuk  membuka akses pasar yang luas atau hiperkoneksi, daya saing tinggi, dan efisiensi manajemen.
 
 
Beberapa inovasi digital yang mulai berkembang di bidang akuakultur antara lain E-fishery, Iwa-Ke, fisHby, Jala, InFishta, dan Growpal. Sebagai contoh, E-fishery mengembangkan teknologi pintar pemberian pakan secara otomatis dengan metode continuous feeding untuk memenuhi pola makan ikan atau udang yang terus menerus.
 
 
Lalu ada Iwa-Ke mengembangkan sistem menajemen budidaya dan membantu distribusi beragam ikan, seperti ikan nila merah, patin, dan gurami melalui sarana informasi digital untuk pemasaran. Startup ini telah memiliki mitra yang mengusahakan budi daya ikan di atas 60 hektar dan jaringan pembudidaya di berbagai provinsi.
 
 
Fishby menggalang dana kemudian menyalurkannya kepada pembudidaya sesuai dengan perjanjian di awal. Adapun Jala menawarkan sistem manajemen terkini berbasis data yang membantu petambak membuat keputusan yang tepat berdasarkan informasi aktual yang terjadi di tambak.
 
 
Selain membantu pembudidaya mengoptimalkan proses budidaya ikan, tujuan lainnya yang ingin dibangun oleh pelaku startup  di bidang ini antara lain adalah mengupayakan solusi pangan yang berkelanjutan bagi kebutuhan masyarakat luas. Menarik untuk melihat bagaimana perkembangan para startup ini berkembang serta adopsi teknologi ini terhadap kegiatan budidaya ikan lokal. Termasuk dampaknya terhadap ekonomi masyarakat di masa mendatang.
 
 
 
Manajemen Budidaya
Salah satu startup budidaya perikanan yang termasuk paling lama yaitu Iwa-Ke. Founder Iwa-Ke Agus Wibisono menceritakan awal mula dirintisnya startup ini. Agus mengaku suka mencari ide baru dan solusi baru. “Berhubung pendidikannya perikanan budidaya dan dari kecil senang ikan, maka saya memilih bidang ini untuk ditekuni,” kata Agus. 
 
 
Lebih lanjut ia mengungkapkan, awalnya sejak 2007 Agus telah memulai usaha di perikanan dengan penjualan benih ikan. Namun penjualan benih sangat tergantung pada pasar ikan konsumsi. Market share benih juga sangat kecil dibandingkan ikan konsumsi. Saat lanjut pendidikan ke jenjang S2, ia menjadikan budidaya ikan air tawar dengan standar kualitas menjadi tesisnya. 
 
 
Dari tesis tersebut, ia mengupas perikanan dari sisi pasar dan bisnis. Sisi lain dari sisi teknis yang selama ini ia tekuni. Kemudian selepas kuliah, Agus beserta 3 rekan bisnisnya memulai merintis Iwa-Ke di bawah naungan PT Ikan Bangun Indonesia.  
 
 
Agus mengatakan, problem yang coba diselesaikan oleh hadirnya Iwa-Ke adalah kualitas ikan budidaya yang kurang baik yang selama ini beredar di masyarakat. Dimana masih ada ikan mengandung residu antibiotik, dipelihara di perairan yang tercemar, hingga pemberian limbah sebagai bahan pakan ikan. Kondisi ini menyebabkan ikan budidaya yang dikonsumsi masyarakat menjadi tidak sehat dan tidak enak. 
 
 
Disisi lain, kata Agus, pembudidaya pun tidak tertarik dan tidak sanggup membudidayakan ikan dengan cara yang benar karena harga jual yang rendah ataupun sama saja jika dengan cara yang tidak benar. Ada tantangan pula ketersediaan lahan yang semakin sempit dan sumber air semakin susah. “Untuk itu Iwa-Ke hadir untuk menjawab solusi itu dengan budidaya ikan yang baik dengan pendekatan teknologi dan pasar,” kata Agus.
 
 
Lebih lanjut Agus menjelaskan, Iwa-Ke merupakan startup penyedia ikan yang dibudidayakan dan dipelihara dengan baik dan sehat. Dengan demikian hasil ikannya lebih enak/manis, lebih cantik, lebih kuat, lebih sehat juga lebih beragam. 
 
 
Pihaknya melakukan inovasi dalam media kolam budidaya dengan manajemen air yang baik, penggunaan probiotik pada pakan dan air, penggunaan herbal dan vaksin untuk meningkatkan ketahanan tubuh ikan serta manajemen benih dan induk yang baik. 
 
 
Agus mengungkapkan, Iwa-Ke juga mengembangkan startup lain, yaitu Fishlog yang hadir sebagai integrated prosessing (pengolahan terintegrasi), logistik, dan data perikanan. Fishlog membentuk unit mini prosessing di sentra budidaya sehingga biaya transportasi dapat berkurang signifikan.  
 
 
Agus mengaku, saat mulai merintis Iwa-Ke pada awalnya banyak tantangan. Apalagi harga produk Iwa-Ke tergolong lebih mahal. “Tapi dengan edukasi dan penjelasan yang baik, konsumen dapat mengerti dan akhirnya menjadi pelanggan setia Iwa-Ke, bahkan menjadi pelanggan fanatik produk kami,” ujar Agus semangat. 
 
 
 
IoT Akuakultur
Lalu ada pula inovasi startup  budidaya perikanan yang fokus di alat-alat pendukung  atau IoT. Setidaknya ada 2 startup yang bermain di bidang ini yaitu e-Fishery dan JALA.  Dimana e-Fishery produk andalannya berupa alat pakan otomatis (autofeeder) sementara JALA berupa alat monitoring kualitas air.
 
 
Menurut Founder sekaligus CEO produsen e-Fishery, Gibran Huzaifah Amsi El Farizy, alasan utama ia membuat autofeeder adalah untuk menyiasati efisiensi pemberian pakan. Pemberian pakan yang tidak efisien tentunya membuat biaya pakan yang sudah besar menjadi lebih besar. Hal ini dikarenakan keterbatasan manusia dalam memenuhi kemauan udang yang memiliki sifat continus feeding, atau pemakan secara terus menerus. “Dan kita masih belum bisa memberi dengan optimal. Akhirnya jadi jebol,” terang Gibran. 
 
 
Perkembangan teknologi autofeeder terus berjalan, meski penggunaannya masih belum banyak. Gibran sendiri tengah mengembangkan produknya agar bisa melakukan analisis terhadap kondisi perairan dan kesehatan udang dari perangkat yang terdapat pada autofeeder secara realtime (langsung).
 
 
Pemrograman alatnya pun sudah bisa dilakukan dari jarak jauh dengan telepon pintar (smartphone) atau komputer. Program tersebut terhubung ke sistem penyimpanan data yang memanfaatkan internet. Jika tidak ada sinyal pun, program bisa diatur dengan menggunakan wifi (jaringan tanpa kabel) dengan minimal jarak smartphone dan alat sejauh 30 meter. 
 
 
Yang lebih baru di bidang IoT akuakultur telah hadir JALA. Co-Founder JALA, Liris Maduningtyas, menceritakan kisah bagaimana startup ini terbentuk. Menurut Liris, idenya berasal dari Hanry Ario yang juga co-Founder JALA dan sebelumnya telah menjadi petambak udang selama 16 tahun. 
 
 
Liris menceritakan, awalnya Ario bertambak udang windu di Pekalongan-Jawa Tengah. Namun sayang bisnis udangnya belum maksimal dan kemudian diterpa penyakit udang yang menyebabkan gagal panen. Lalu pada awal 2013, dia mulai bertambak lagi, kali ini udang vannamei di Bantul-Jogjakarta, dengan hasil yang cukup baik, namun tidak stabil.
 
 
Ario tidak ingin mengulang hal yang sama saat dirinya bertambak di Pekalongan, yaitu manajemen air yang tidak terkontrol. Sebab, air merupakan elemen utama dalam kesuksesan budidaya udang. Hal ini menginspirasi Ario untuk membuat sistem monitoring IoT. Lalu terbentuklah tim Blumbangnreksa pada awal 2015, yang kini menjadi JALA. 
 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-78/15 November – 14 Desember 2018
 

 
Aqua Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain